Antara Pernikahan, Cinta, Komitmen, Dan Kesempatan Lain

Entah apa yang berkecamuk dalam kepala saya ketika membaca curhatan teman dan kenyataan yang semakin sering saya temui di dunia maya ataupun nyata. Topik tentang relationshi(t)p selalu sensitif untuk dibahas, dahulu, kini, dan nanti.

Saya berutang tulisan ini pada seorang teman. Mood sedang jelek belakangan ini untuk menulis sesuatu tentang relationshi(t)p sehingga jika isinya ngawur blas, maafkeun. 

Pernikahan, menurut beberapa orang, adalah selembar kertas pengesahan di mata agama dan negara. Selanjutnya dibukukan dalam buku nikah yang ditandatangani oleh seorang pria dengan status barunya sebagian suami dan seorang wanita dengan status barunya sebagai istri. 

Pernikahan hanya status. Beberapa orang melakukannya karena berjuta alasan. Ingin memiliki keturunan. Ikatan nazar orangtua. Perjanjian bisnis. Sumpah. Hingga rasa takut mati membujang. Apapun. 

 Pernikahan bisa sederhana, jika memang maunya dilaksanakan di KUA atau Catatan Sipil. Pun bisa menjadi ribet mampus bila memikirkan catering, gedung, undangan, seragam keluarga, hari baik, bla bla bla. 

Pernikahan karena cinta. Banyak. 

Pernikahan karena tidak cinta. Banyak. 

Apakah lantas pernikahan itu artinya “Dialah jodoh saya”? Ada yang bisa menjawab? 

Cinta itu apa? 😶

Mendefinisikan cinta, terserah pada individu. 

Mbah Sujiwo Tedjo  pernah memberi kutipan yang membuat saya berpikir. Tanpa henti. 

Menikah itu nasib
Menikah itu nasib – Sujiwo Tedjo

Saya mengamini. Saya baru menyadari bahwa saya tidak pernah bisa mengelak dari perasaan untuk mencintai seseorang. Bagi saya ini satu keajaiban, kemahaperkasaan Allah dalam membolakbalikkan hati manusia. Takdir saya mencintai pria A. B. C. Tanpa pernah tahu jawaban ketika ditanya, “Lah kok lu bisa cinta sama dia, An?” Entah. 
Saya tak pernah berencana menjatuhi seseorang dengan cinta saya. Saya kan berkhayal mencintai X, Y, Z. Tapi Allah berkehendak saya mencintai A, B, C. 

Besides, kalau kamu mencintai seseorang, kamu gak akan pernah punya alasan atau jawaban. Beda kalau kamu menyukai seseorang. “Gue suka dia. Lucu. Humoris. Meski kadang norak, dia perhatian.” Coba jawab kenapa bisa cinta? “Nnnggggg… Gatau.” See? 

Menikah itu nasib? Menurutmu? Kamu bisa memilih mau menikah dengan siapa. Karena nasib bisa diubah. Tentu saja, campur tangan Allah menentukan juga. 

Eh, kamu tahu kalau takdir pun bisa diubah seperti nasib? Oh, saya gak akan bahas ini di sini. 😎;)

Komitmen itu apa? 

komitmen   ko·mit·men n perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak.

Jadi, pernikahan termasuk melakukan komitmen itu. Ada perjanjian. Ya, janji di hadapan Allah, orangtua, penghulu, keluarga, kerabat. Berat, lho. 

Pernikahan, perjanjian bisnis pihak A dan B. Oh, please admit it. Beberapa orang menikah karena terikat sesuatu. Utang. Nazar. Kontrak. Politik. Dua pihak bersatu dalam pernikahan, ada cinta atau tidak, tetap dilangsungkan. 

Seorang pria, berkomitmen tetap menikahi seorang wanita karena banyak faktor. Kemudian bertahan dalam pernikahannya pun karena ingin tetap dianggap berkomitmen, meski, hati mungkin telah berkata lain. 

Ketika dia ternyata jatuh cinta pada wanita lain selain istrinya, apakah dia jahat? Saya bilang sih gak. Ya karena itu tadi, dia mana kepikiran bakalan jatuh cinta pada yang lain? Bahkan ketika dia memilih mematikan cintanya, kadangkala malah bertambah subur. 

Beda. Beda ketika dia hanya menguji dirinya sendiri, apakah masih laku setelah menikah? Lantas  dia mencoba menggoda wanita lain. Gambling. Keisengan yang kadang berbalik menjadi bumerang. 

Hal yang sama berlaku juga untuk wanita. 

Orang-orang yang dituduh berselingkuh ini, apakah termasuk para pendosa? You judge it. You name it. Saya tidak sedang menggiring opini. 

Kesempatan. Seperti pencuri, tak pernah ada niat untuk menjadi pencuri. Tetapi karena adanya kesempatan. Ada celah. Merasa ada harapan. 

Ketika merasa ada kesempatan untuk menjalin cinta, seseorang tahu apa konsekuensinya. Ditolak. Diterima. 50-50. Hanya itu. 

Ketika seseorang dituduh berselingkuh, maka para penonton akan mulai melemparkan tudingan, “Pernikahannya terancam.” Siapa yang mengancam? Gak ada. Semua kembali pada pelakon. Apakah cintanya pada pihak lain itu dianggap sebagai ancaman atau justru ujian untuk menguatkan komitmen pernikahan? 

Justru, sebuah pernikahan menjadi bubar  jalan biasanya karena hiruk pikuk suara ‘pasar’ yang memengaruhi. Penonton haus drama. Pelakon memberi ending pilihan. Sesuai maunya penonton atau skenario awal? 

Bingung? Sama. Karena hal ini bukan percakapan warung kopi yang bisa dilakukan dengan santai tanpa ada keberatan dari pihak lain. 

Ketika teman saya bercerita bahwa seorang pria beristri mulai melancarkan modus kepadanya, saya hanya diam dan mengembalikan keputusan padanya. “Kamu sudah gede. Tau sendiri lah harus gimana.” 

Saya sudah terlalu bosan dengan drama di luar sana yang bisa ditebak akhirnya. Minimal, konflik beberapa pihak bisa tertebak. Polanya terbaca. 

Kehidupan ini memang misteri. Meski demikian, ada hal berpola yang akan terus berulang. 

Mencintai seseorang bukan seperti menebak buah manggis atau dalamnya lautan. Ketika kamu merasa aneh saat berdekatan dengan seseorang, nikmati saja. Bukan dosa. 

Dosa itu ketika kamu mengkhianati-Nya. 

Sekian. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s