Sisi Liar Manusia, Sebuah Keseimbangan?

Saya menggunakan tanda tanya karena saya sendiri masih membutuhkan jawaban untuk hal yang mengganjal dan sempat menghantui beberapa tahun lamanya. Kemudian, sebuah capture chat menyentak saya.

“Setiap orang punya sisi liar, baik sikap atau pikiran. Dan selalu ada orang lain yang bisa berfungsi sebagai peredamnya.

Ketika peredamnya gak ada atau belum ada lagi, maka sisi liarnya gak akan terkontrol lagi.” ~ Danis.

Saya terdiam cukup lama. Kemudian kelebatan masa-masa berat pun berputar dengan sendirinya. Menari di kepala tanpa membutuhkan izin untuk menyeruak keluar dari kuburan ingatan.

wild mind
via wildmindbook. how could you control it?

Setiap orang. Ya, setiap orang memiliki sisi liar. Brutal. Sesuatu yang bisa disebut kreatif positif di sisi sebelah, kadang dinilai buruk tak terkendali di sisi lain.

Saya ambil dari kateglo seperti ini:

Liar : [adj] 1 tidak ada yang memelihara; tidak dipiara orang (tentang binatang); 2 tidak (belum) jinak; 3 tidak tenang (tentang pandangan mata); buas; ganas; 4 tidak teratur; tidak menurut aturan (hukum); 5 belum beradab; 6 tidak resmi ditunjuk atau diakui oleh yang berwenang; tanpa izin resmi dari yang berwenang; tidak memiliki izin usaha, mendirikan, atau membangun, dsb;

Apa yang dalam pikiran seseorang tentang liarnya kita, belum tentu sama dengan orang lain. Contoh, dalam hal seni. Bagi pelukis, gambar nude adalah keindahan. Diamini oleh penikmat seni. Tetapi bagi pihak lain, hal ini disebut pornografi dan pelukisnya dicap sebagai orang liar. Tidak menurut aturan (yang berlaku menurut orang lain itu).

Tetapi saya tidak sedang bicara tentang seni atau kreativitas yang lebih sering mendapat porsi keliaran imajinasi tanpa batas. Beda bahasan. (Oke, saya sedang melompat-lompat).

Jiwa manusia yang liar butuh pengendali. Seperti seorang cowboy menaklukkan kuda liar. Dalam agama saya, pengendali itu bernama Quran dan Hadist. Pegangan hidup. Pengendali atas segala tingkah laku para pengikut Rasulullah. Namun, tidak semua beruntung bisa langsung berpegangan dengan Quran dan Hadist. Untuk hal itulah, Allah memberikan seseorang sebagai pengendali keliaran jiwa dan pikiran seseorang.

Bahas yang agak berat sedikit yah? Jika dalam ilmu tasawuf, jiwa-jiwa yang haus petunjuk membutuhkan seorang pengendali yang disebut mursyid.
Kata mursyid berasal dari bahasa Arab dan merupakan ism fa’il (Ingg. Present participle) kata kerja arsyada – yursyidu yang berarti “membimbing, menunjuki (jalan yang lurus)”, terambil dari kata rasyad ‘hal memperoleh petunjuk/kebenaran’ atau rusyd dan rasyada ‘hal mengikuti jalan yang benar/lurus’ [Lisan al-Arab, III: 175-176]. Nah, makna mursyid adalah “(orang) yang membimbing atau menunjuki jalan yang lurus”. Dalam wacana tasawuf/tarekat mursyid sering digunakan dengan kata Arab ‘Syaikh’; kedua-duanya dapat diterjemahkan dengan “guru”.

Dzikrullah atau mengingat Allah adalah amalan yang tidak terhingga nilainya, disebut dalam al-Qur’an dan Hadist. “Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (Al–Baqarah :152). Inilah pengendali jiwa liar manusia. Namun, sekali lagi, tak semua mendapatkan privilege bisa berpegangan erat pada apa yang diperintahkan Allah. Butuh seseorang sebagai perantara.

Ini menjadi rahasia Allah. Setidaknya, beberapa kali saya merasakan hal ini. Beberapa orang bergantian hadir dalam hidup saya, mencoba menjadi pengendali jiwa dan pikiran saya yang sering tak terkendali. Sampai detik ini, tak ada yang berhasil. Saya belum menemukan pengendali yang dimaksud oleh Allah. Saya merasa masih tersesat.

wild soul
via clarajlim

Mungkin menurut saya yang lemah dan sok tahu ini, para pengendali terdahulu itu tak cukup kuat untuk mengekang dan menenangkan saya. Bagi mereka, saya terlalu liar, keras kepala, dan berujung pada vonis, “Tak bisa dikendalikan.” Mereka tak mengatakannya, tetapi mata mereka berbicara. Lalu mereka pergi, meninggalkan saya kebingungan. Saya yang semula sudah mau menurut, menjadi lepas kendali sekali lagi.

Pengendali pertama saya adalah seorang teman. Suatu ketika, saya melakukan hal yang menurutnya tak pantas. Dia menyuruh saya untuk bersikap sopan. Saya menurut. Saya ingat, kejadiannya di sebuah gedung olahraga di Cirebon.

Pengendali kedua saya adalah senior di kampus. Saat terjadi demo di pusat kota, saya berargumen (atau tepatnya bertengkar sampai teriak) bertanya mengapa saya tidak boleh ikut demo. Dia membentak saya, “Elu dibilangin wangkeng (membangkang) banget sih! Gak kena lu diperhatiin!” Saya terperangah. Diam, ngambek, dan menjauh darinya agak lama. Sambil mikir. Dia benar dan saya salah.

Pengendali ketiga saya adalah Sean (Tentang pria ini siapa, silakan cari di postingan lain di blog ini. *kasih kerjaan). Saya pernah berulang kali hendak melakukan hal konyol. Dia berbicara dengan santainya, “Coba aja kalo berani. Emangnya nyali lu segede apa sampe bisa mikir bego begitu?” Saya membatalkan niat buruk itu dan diam.

Ketiga pengendali itu pergi setelah mereka berpikir saya sudah tenang. Tetapi ketika mereka sudah tak ada, saya kembali menjadi seperti pesakitan. My wild soul and mind become worse every second.

wild soul
via particularpassion

Saya pikir, pengendali terbaik saya sampai saat ini adalah adik kandung, kalau masih bisa masuk dalam hitungan. Ketika suatu malam, dia sangat marah karena saya melakukan hal yang sangat buruk. Tanpa kata. Hanya selembar kertas dengan tulisan tangan dia yang panjang diakhiri dengan kalimat tanya, “Tetah taruh Allah di mana?”

Itu pertanyaan terberat saya hingga saat ini. Setiap kali jiwa dan pikiran saya lepas dari kerangkeng dan mendobrak pagar pembatas kemudian tersesat, baru saya menyadari pertanyaan adik sekali lagi.

Antara sadar dan tidak, saya merasa bahwa Allah ingin saya mendekat dengan tenang, ada atau tidak ada pengendali. Saya pernah berpikir, siapa juga yang mau menjadi peredam emosi saya yang penuh ledakan dan kejutan setiap saat? Gak akan ada yang tahan. Hanya orang yang bermental bajalah yang bisa sabar menjadi pengendali saya. Sampai saat ini, tidak ada.

Jiwa liar tidak untuk dijinakkan, tetapi ditenangkan dan dikendalikan. Menurut saya, sisi liar seekor binatang buas yang dijinakkan akan tetap ada. Kata “jinak” atau “dijinakkan” sebenarnya tak akan berlaku ketika pengendalinya tak ada. Binatang buas selalu liar dan untuk meredam liarnya butuh waktu tak sebentar. Ketika dikembalikan ke habitat aslinya, tentu saja akan menunjukkan watak aslinya. Liar. Terbuat dari napsu.

Manusia memiliki akal sebagai peredam napsu. Tetapi, ketika akal tidak berfungsi, bagaimana mengendalikan sisi liarnya? Ketika tak ada orang yang bisa menjadi pengendali, bagaimana meredam gejolak yang ada dalam jiwa dan pikirannya?

Bagi saya, sisi liar manusia tidak bisa dijinakkan. Ya, sama seperti binatang. Kelebihan manusia ada pada akalnya, sebagai pengendali. Jika merasa tak memilikinya, minta kepada Allah. Jika tak percaya kepada kekuatan yang menciptakanmu, mintalah sekuat tenaga kepada sesiapa yang kaupercaya. Mintalah sebuah kendali. Atau seseorang. Karena manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, bukan soliter.

Saya merasa sendirian. Tetapi saya masih memiliki akal. Maka dengan keterbatasan kekuatan yang saya punya, saya meminta kepada-Nya agar diberikan pengendali terhadap jiwa pembosan yang kerap ingin mendobrak pagar pembatas.

Diarahkan. Seperti arus sungai yang deras yang mencari hilir, jika di tengah jalannya dibatasi atau dihalangi, arusnya akan berbelok merusak pinggir sungai. Tak terkendali.

Jiwa liar butuh diarahkan, bukan dijinakkan karena tak mungkin. Tugas pengendali adalah mengarahkan agar jiwa yang liar bisa membentuk irama hidupnya menjadi sebuah harmoni yang indah. Sehingga semua orang bisa menikmati keindahannya tanpa merasa khawatir.

wild soul
via animalpictures. this is my wild soul. what’s yours?

Ada beberapa kalimat di atas terasa menggantung? Gak masalah. Karena memang belum ada jawabannya.

Salam.


(thanks to Bella and Danis)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s