Hutan Digital yang Menyesatkan dan Menyenangkan

SEO

Saya tidak tahu harus memberi judul apa untuk post kali ini. Hutan digital membuat saya takut. Sungguh. Tetapi semakin saya masuk, tersesat, dan merasa sesak, semakin penasaran dengan apa yang ada di inti hutan tersebut.

Semua berawal entah kapan, lupa. Sekitar 2012 mungkin. Saya membaca sebuah artikel in English, tentang digital marketing. Bagaimana enaknya menjual sesuatu dari tempat A ke tempat B hanya bermodal internet. Lebih dari itu, bagaimana membuat seseorang mau berkunjung ke situs C, berlama-lama di sana, mencari sebuah produk, dan berakhir dengan pemesanan yang bisa dibayarkan dengan akun Paypal, kartu kredit, atau bayar di tempat.

 

“Content is a commitment, not a campaign,”

Joanna Lord, VP of Marketing at Porch

 

Saya juga menonton film The Internship, tentang perusahaan seksi memesona dan sangat menggoda sesiapa yang merasa bahwa di sanalah hidupnya akan bergantung : Google. Terkutukkah saya ketika akhirnya diri ini mengamini bahwa Google membuat hidup ini menjadi 80% bergantung secara daring?

Mundur lagi ke belakang. Tahun 2010. Saya bekerja pada seorang penulis yang kemudian menjadi wanita cukup dikenal dalam bidang digital lifestyle. Dia bilang, “Coba bikin e-mail di Gmail deh. Lebih gampang mencari e-mail lama berkaitan dengan conversation sebelumnya. Pakai browser-nya juga Chrome aja. Lebih enak. Gak usah pake Mozilla.”

Saat itu, saya sudah nyaman menggunakan Mozilla dan mesin pencari Yahoo!, sehingga ketika disarankan menggunakan sesuatu yang baru, pastilah kebingungan. Saya gaptek. Pun hingga menulis post ini. Tapi saya menurut. Saya mencoba menjelajahi Chrome. Membandingkan dengan Mozilla. Sekaligus, membandingkannya dengan Internet Explorer, tentu saja. Bahkan saya tidak tertarik dengan Opera, meski saat ini, saya memiliki keempatnya dalam laptop.

Saya tidak begitu paham segala atribut berkaitan dengan teknologi, apalagi bersentuhan langsung setiap hari. Internet itu candu bagi saya, ketika orang lain berkata bahwa agamalah candu yang sebenarnya. Ternyata… Saya, memiliki keterikatan erat dengan media daring, dari bangun tidur hingga hendak tidur kembali.

 

“…The objective is not to “make your links appear natural”; the objective is that your links are natural.”

– Matt Cutts – mattcutts.com

Dulu, saya menggunakan internet sekadar untuk mengirimkan tulisan lewat surel. Saya tak mengetahui ada apa lagi di dunia maya selain Yahoo! waktu itu. Tetapi dari Yahoo! itulah saya mengenal mIRC, kemudian merembet ke forum diskusi daring seperti ajangkitadotcom dan rileksdotcom. Akhirnya mengetahui ada Friendster, situs pertemanan yang mengumpulkan teman-teman lama sekaligus berkenalan dengan teman baru. Cara gila mengenal para selebritis dari jarak sangat dekat. SKSD Palapa (sok kenal sok dekat padahal gak tau apa-apa) menjadi teman daring mereka.

Kemudian saya berkenalan dengan blogging, sebuah cara baru untuk menuliskan serpihan celoteh harian, yang ternyata adalah diary berubah bentuk. Dari buku harian cetak menjadi format digital.

Saya mulai keasyikan menulis dalam media daring. Kemudian, kutukan pertama itu datang. Seorang teman kuliah menelepon ke rumah hanya untuk bilang, “Di, kamu coba deh punya akun Facebook. Lebih keren dari Friendster.” Kalimat pendek inilah yang mengubah hidup saya selanjutnya.

Dulu saya masih mencari kerja mengandalkan harian Kompas dan Republika setiap Sabtu dan Minggu. Hari ini? Aplikasi jobsdb dan jobstreet adalah dua dari sekian banyak cara mudah mencari kerja meski belum tentu dapat. Hahahaha😀

Kutukan kedua adalah ketika sahabat saya bilang, “Kamu kan bawel. Coba deh punya akun Twitter. Ngoceh di sana.” Saya pun mendaftarkan diri dengan sukarela di sana. Saya menguntit sahabat saya itu untuk pertama kali. Kemudian beberapa orang blogger. Dari sana, selebritis yang pertama kali saya kuntit adalah Armand Maulana. Entah kenapa. Faktor kesamaan tanggal lahir kayaknya. *dilarang protes!

Kemudian ternyata, dari Twitter lah saya berkenalan dengan sangat banyak orang, termasuk sahabat baru seperti Vei, Panca, Pakde Bambang, mantan pacar yang tidak usah disebut namanya😛 , dan beberapa pesohor lainnya. Twitter mengubah segalanya. Pekerjaan menulis pun banyak saya terima dari sana.

Dari Twitter itulah saya mengenal mantan bos yang saya ceritakan di awal tadi, yang menyarankan saya mengganti Mozilla ke Chrome. Kemudian saya mengenal dunianya. Kemudian dengan orang-orang yang dikenal sebagai praktisi dunia maya.

 

SEO folks…need to be involved with the branding and the product design and development folks, so that you make sure you’re taking advantage of what people call your products before they go to market ~ @randfish moz.com

 

Karena sudah terjebak di hutan digital inilah, membuat saya malah berpikir untuk mengetahui lebih banyak meski belum tentu menjadi lebih paham. Hingga ada satu makhluk yang membuat saya selalu penasaran. SEO. Search Engine Optimization. Ini juga kenalannya karena mantan bos di media digital bilang, “Elu tuh penulis, harus ngerti gimana caranya supaya tulisan elu gampang dicari di Google.”

Penting ya? Saya membatin bingung. “Nanti elu gue bayarin ikut training soal SEO. Daripada elu keluar duit jutaan sendiri, sini gue bayarin aja.” Tapi sampe detik ini janjinya belum terpenuhi. #akurapopo

Kemudian dia cerita tentang seseorang yang sudah ahli soal SEO. Under 30. Jago banget. Pertanyaan cupu saya adalah, “Pinter amat. Makan apa sih dia?” Bos ketawa ngakak. “Ya pastinya makan Google tiap hari, An!”  Muka saya lempeng.

Saya dijejali aneka materi dalam bentuk pdf untuk dipelajari agar saya paham apa itu SEO dan bagaimana mengetahui tip dan trik agar tulisan saya diketahui banyak orang.

Niche kamu apa, An?” tanya sahabat suatu sore. Haduh, apaan lagi sih itu? Camilan pedas? Katanya, jika saya fokus pada bentuk tulisan tertentu, maka pembaca saya pun akan terbentuk secara alamiah.

“Kamu gak pernah fokus, An. Terlalu random,” celetuknya lagi. Saya akui. Saya tahu banyak hal, tapi tak satu pun dari hal itu saya kuasai. Saya hanya ingin tahu, meskipun itu artinya saya harus semakin dalam terjebak di hutan yang ternyata sebenarnya rimba belantara.

Saat saya menulis post ini, saya kembali berurusan dengan SEO, setelah sekitar 1.5 tahun tidak bersentuhan dengannya. SEO, sama seperti hal lain yang bersifat dinamis dan selalu berubah, membuat saya “harus” mengetahui apa maunya agar tidak ketinggalan zaman.

Ini baru tentang SEO, belum hal lain yang berubah sangat cepat setiap hari. Sementara itu, saya masih belum bisa menemukan jalan keluar dari belantara yang semakin membuat saya tak bisa melihat matahari… Tapi dari sinilah saya mendapatkan rezeki demi segenggam berlian. Aamiinn…

Udah. Gitu aja.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s