Menikah, Memberi Atau Menerima?

📱Kajian Online KUA 
🗓Sabtu, 22 Mei 2016 
📋Materi: Menikah, Memberi atau Menerima?
👤Pemateri: Didi Muardi 
💻 Ummi-online.com | Annida-online.com 
📞Info KUA : 08170830017

❤🍀🍀🍀❤🍀🍀🍀❤🍀🍀🍀

Menikah, Memberi atau Menerima?

Sahabat, apa kesan yang timbul di benak Anda ketika mendengar kata pernikahan? Kemudian, kelebat rasa seperti apa yang bergetar di hati Anda setelahnya? Tentu, jawabannya akan sangat subjektif. Tergantung pada pengalaman masing-masing orang.

Sebagian besar orang mungkin langsung dihinggapi kesan romantisme yang mengharu-biru. Bayangan tentang indahnya hidup dengan adanya pasangan tambatan hati yang mendampingi langsung mengambang di benak. Sewajarnya, setelah itu yang muncul adalah rasa rindu untuk segera mewujudkannya. Mungkin ini kesan dan rasa yang dialami sebagian besar wanita. Pada pria, serupa tapi tak sama. Yang terbayang dari nikah adalah tercapainya kenikmatan seksual secara halal, beroleh keturunan, dan bayangan indah yang lain.

Ini sebenarnya perlu kita dalami, apakah kesan yang ada di dalam benak itu baik untuk dipertahankan atau perlu diubah? Karena kita semua paham bahwa perilaku lahir dari persepsi. Persepsi yang keliru akan melahirkan sikap yang keliru. Pernikahan, dalam batas-batasnya yang umum, menuntut pelakunya berperilaku tertentu untuk mencapai tujuannya. Persepsi yang keliru tentang pernikahan akan melahirkan perilaku yang tidak sesuai sehingga gagal mencapai tujuan.

Bahwa pernikahan adalah separuh agama, bahwa ia bisa menjelma surga di dunia adalah benar. Namun ia adalah akibat yang muncul karena sebab. Ada sesuatu yang harus dilakukan agar itu bisa menjadi demikian. Sebab yang dimaksud adalah persepsi dan aksi tadi.

Bila persepsi dominan yang muncul dalam benak kita adalah mendapatkan berbagai kenikmatan dari pasangan, apa pun bentuknya, maka sikap yang akan muncul biasanya adalah berharap dan menunggu. Kurang ada aksi proaktif kecuali yang didasari oleh naluri. Saat apa yang diharapkan tak hadir, frustasi pun datang.

Istri ternyata punya kebiasaan buruk yang tidak sempat diceritakan saat ta’aruf, begitu juga suami. Istri yang ternyata belum pandai menangani urusan domestik rumah tangga, suami yang kurang bersemangat mencari nafkah, dan berbagai kekurangan lain.

Setelah kekurangan-kekurangan itu nampak, spontan muncul harapan agar pasangan bisa mengubah kebiasaannya. Sayangnya, berharap orang lain berubah seperti yang kita inginkan sangat rawan membawa pada kekecewaan. Karena tidak ada seorang pun bisa merubah orang lain kecuali bila orang itu memang ingin berubah.

Di sinilah titik kritisnya, momen pernikahan adalah saat di mana rasa berharap untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain lebih mendominasi daripada azzam untuk memberikan sesuatu.

Menikah adalah amal ibadah. Sebagaimana layaknya amal, ia adalah sebuah kerja yang di dalamnya penuh dengan kewajiban-kewajiban. Bahkan, dalam pernikahan, kewajiaban-kewajiban itu begitu penting untuk dipenuhi sehingga Allah menyebutnya dengan sebuah perjanjian yang kukuh, mitsaqan ghalizha. Karena itu, tekad yang terbentuk saat ingin menikah adalah tekad untuk memberi. Azzam untuk berjanji menghidupi orang lain, memberikan segenap daya untuk melindungi jiwa-jiwa yang akan ada dalam tanggung jawab kita, tekad untuk melimpahkan cinta, tekad untuk mendidik dengan kasih-sayang, tekad untuk membersamai orang lain.

Dengan adanya tekad ini, maka siapa pun yang akan menjadi pasangan kita menjadi tidak begitu penting. Karena siapa pun dia, kita sudah bertekad untuk mencintainya dan membahagiakannya. Bagaimanapun dia, kekurangannya akan kita jadikan ladang amal untuk mendidik dan bersabar.

Nilai inilah yang hidup di hati para ulama, orang-orang shalih, dan guru-guru kita yang menikah tanpa ada hubungan apa pun dengan calon pasangan mereka. Bahkan, mereka baru saling kenal ketika malam pertama.

Tentu, ini bukan berarti mereka asal menikah saja. Faktor penting yang membuat proses ini bisa berjalan adalah kepercayaan tinggi pada orang yang berikhtiar mencarikan jodoh untuk mereka. Orang itu bisa jadi orangtua mereka, guru mereka, sahabat mereka, atau siapa pun yang mereka percayai karena keshalihannya.

Jadi, bagi orang yang mau menikah, selain menyusun kriteria calon pasangan, tak kalah pentingnya adalah memilih orang yang keshalihan dan keadilannya kita percaya untuk mencarikan pasangan bagi kita. Mudah-mudahan, keshalihan dan keadilannya, insyaallah membawa kita pada pernikahan yang berkah dan sakinah. Allahu alam..

📝Tanya jawab

✏ Pertanyaan pertama: 

Ass ust mw bertanya Bagaimana cara memantapkan hati yg sedang galau jika ad seseorang yg ingin mengkhitbah,sudah dicoba slt istikharah tp blm mendapatkan petunjuk,hati qu masih labil n bz berubah”..
Mohon dibantu terimakasih sebelum’y..

📃 Jawaban:

Prinsipnya, kita sama2 ketahui bahwa hanya dengan berzikir kepada Allah lah hati akan tenang. Aa Gym pernah berkata, sebenarnya kita cuma punya satu masalah di dunia ini. Kalau satu masalah ini selesai, maka tidak akan ada masalah yang terlalu berat dan membuat galau. Yaitu, masalah kedekatan dengan Allah.

Ala bizikrillahi tahtma’innul quluub. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenang. QS Ar Ra’du 28.

Selanjutnya, kita perlu bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat kita masih ragu. Latar belakang calon kah? Opini orangtua kah? Trauma masa lalu, atau yang lain. Hati yang labil adalah gejala. Kita perlu selidiki sebab dari gejala itu. Saran saya, terus dekati Allah dengan berbagai amal ibadah.

✏ Pertanyaan kedua:

Kalau misalkan kita mempunyai rasa sukak sama orang,padahal kita tau mungkin orang itu tidak mempunyai rasa sama kita? Dan terkadang kita sempat berfikir ingin memilikinya tapi kita tau Allah telah menentukan seseorang yg spesial untuk kita, menurut Pemateri sebagai seorang muslimah hal apa yg harus kita lakukan?

📃 Jawaban:

Saya pernah wawancarai seorang psikolog, saya tanya, lebih baik mana bagi wanita, menikah dengan orang yang dia cintai atau menikah dengan orang yang mencintai meskipun si wanita tidak mencintainya?

Psikolog itu menjawab lebih baik bagi wanita saat ia.menjadi orang yang dicintai oleh si pria, meskipun sang wanita tidak mencintainya.

Lalu sy kaitkan dengan hadits -mohon diralat kalau salah- yang bilang. Menikahlah dengan orang yang shalih. Bila ia mencintaimu ia akan membahagiakan mu. Bila ia tidak mencintaimu, dia tidak akan menyakitimu.

Keshalihan adalah tolok ukur pertama dalam memilih pasangan. Jika kita menyukai seseorang untuk dijadikan pasangan, pastikan itu karena.keshalihannya.

✏ Pertanyaan ketiga: 

Assalamualaikum.. bagaimana meyakinkan pribadi sendiri untuk menikah padahal diri ini mengalami trauma terhadap pernikahan orang tuanya yg bercerai ketika masih kecil?

📃 Jawaban:

Bercerai ada sebabnya. Salah satunya yang saya ungkapkan di materi; terlalu berharap banyak pada pasangan.

Sebenarnya, selama masing2 pihak dalam rumah tangga menjalankan kewajibannya, insyaallah jauh dari perceraian. Yang menyebabkan terjadinya perceraian adalah tidak sadarnya para pihak pada kewajibannya.

Istri tak paham kewajibannya, suami pun begitu. Akhirnya, istri tak dapat haknya dari suami dan suami tak mendapatkan haknya dari istri. Parahnya, belum lagi kewajiban ditunaikan, sudah menuntut hak.

Jadi, mari ilmui apa kewajiban istri dan suami menurut Islam. Dan jalani itu. Pemenuhan kewajiban inilah yang saya bilang sebagai ‘memberi’ di materi tadi.

Persiapankan diri untuk bisa memenuhi kewajiban. Setelahnya, hak akan kita dapatkan.

✏ Pertanyaan keempat: 

Assalaamu’alaikum wr wb mas moderator dan pemateri.. saya mau bertanya, saat ini saya sedang menjalani proses taaruf.. karena ayah sdg stroke, saya sempat menolak niat proses ini diawal. Tapi setelah bertanya pd bbrp orang yg paham termasuk orangtua, mereka menyarankan saya untuk menjalani prosesnya.. saya sangat percaya pada mereka. Yang saya bingung bagaimana ketika taaruf sudah berjalan, tapi di tengah jalan orang yg memfasilitasi taaruf terkesan sibuk dan tidak mengarahkan sehingga komunikasi di grup taaruf kami hanya calon yang berinteraksi. Ketika ada masalh seperti tempat tinggal beda kota dan kewajiban pada orgtua, yg satu tunggal, yg satu orgtuanya sedang stroke. Apa yg harus dilakukan? Jadi serasa menggantung dan muncul keraguan. Padahal sebelumnya mantap setelah istikharah. Sementara taaruf itu harus dirahasiakan saya bingung bertanya pada siapa lg.. Terima kasih. Noname aja ya mas nama penanya nya syukron..

📃 Jawaban:

Benar, ta’aruf sampai proses pinangan harus dirahasiakan. Pernikahan harus disyiarkan.

Hemat saya, bila sudah ada kemantapan hati maka lanjutkan terus proses ta’aruf. Bila fasilitator pertama sibuk, mintalah bantuan pada anggota keluarga terdekat. Kalau Anda dan ‘si dia’ sudah merasa ada kecocokan sebaiknya segerakan khitbah. Jangan berlama-lama di sesi tanya-jawab untuk mengenali pasangan. Karena, percaya deh, proses ta’aruf kita akan berlangsung terus meskipun kita sudah bertahun-tahun.menikah.

✏ Pertanyaan kelima: 

Bagaimana caranya meminta/menyampaikan kepada org yg dipercaya (keluarga/sahabat/guru) untuk mencarikan calon suami. hal ini karena ada rasa malu terutama ana sebagai perempuan untuk menyampaikannya (mencarikan jodoh).
terima kasih atas jawabannya

📃 Jawaban: 

Meminta dicarikan jodoh tidak lantas menurunkan harkat siapa pun, baik laki-laki atau perempuan. Karena itu, tak perlu malu.

Asalkan kita bnr2 percaya/ tsiqah pada orang yang kita mintakan tolong. Di zaman para Rasul, yang meminta dicarikan jodoh oleh Rasul bukan cuma para sahabat laki-laki, tapi juga perempuan. Sebaiknya sampaikan secara langsung maksud kita kepada orang yang kita percaya itu. Agar orang tersebut juga yakin bahwa Anda benar2 menginginkannya. Kecuali bila ia jauh dari Anda secara geografis. Kalau sungkan menemui langsung sendirian bisa minta ditemani sahabat dekat.

✏ Pertanyaan keenam: 

Assalamualaikum..

Mba.. Misalkan kita punya masa lalu yg kelam. Saat ada sesi ta’aruf, perlu kah kita menceritakan semua masa lalu kita?

Takutnya malah masa lalu itu membuat si calon ragu dan setelah jd suami istri dia malah mengungkit ungkit..

Jazakillah khoir..

📃 Jawaban:

Bila masa lalu yang kelam itu adalah kemaksiatan yang ternasuk aib tapi kita sudah bertaubat atas perbuatan itu maka tak perlu diceritakan. Karena pada hakikatnya Allah menutup aib-aib kita. Jangan membuka apa yang Allah tutup.

Jangan khawatir aib itu akan terbuka di kemudian hari lantas membuat pasangan kecewa. Insyaallah Allah akan menutupnya. Pun jika ia terbuka, pasangan yang mengerti agama pasti akan mengerti posisi Anda.

📑 Closing Statement

Jadi, mari persiapkan kapasitas diri untuk memenuhi kewajiban dalam rumah tangga. Kalau kita membayangkan bahwa untuk mempersiapkan pernikahan itu harus bekerja keras, yakinlah, setelah menikah kita justru harus bekerja lebih keras lagi, baik suami, juga istri. Bukan hanya bekerja keras mencari penghidupan, tapi bekerja keras membina cinta dan kepercayaan.

Cinta butuh kerja untuk tetap hidup.

❤🍀🍀🍀❤🍀🍀🍀❤🍀🍀🍀

Gabung KUA daftar ke 08170830017 
Nama-No Wa-Usia-Domisili-Pekerjaan

❤🍀🍀🍀❤🍀🍀🍀❤🍀🍀🍀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s