Persiapan Menikah Dari KUA

📱Kajian Online KUA
🗓Ahad, 08 Mei 201
📋 Materi: Mengapa Menikah Disebut Menyempurnakan Separuh Agama
👤Pemateri: Syamsa Hawa

Info KUA : 08170830017

💧💦💧💦💧💦💧💦

Kenapa sih Menikah Disebut Menyempurnakan Separuh Agama?

Assalamualaikum Sahabat Ummi dan Sobat Nida, alhamdulillah kita dipertemukan dalam kajian perdana di KUA (Komunitas Ummi Annida) ini.

Perkenalkan nama saya Shinta, biasa juga dipanggil dengan nama pena Syamsa Hawa. Saya diamanahkan menjadi pemimpin redaksi annida-online dan juga penulis konten di ummi-online.

Berharap apa yang saya share dalam kajian ini bisa bermanfaat untuk teman-teman di sini, baik yang sudah menikah atau yang belum menikah.

Jujur, setelah sembilan tahun menikah pun saya merasa ada banyak yang perlu dipelajari, dan bahwasanya pernikahan bukan ‘sekadar’ bersatunya pria dan wanita dalam ikatan perjanjian yang kuat (Mitsaqon gholidzo), perjanjian yang mengguncang ‘Arsy, yang setara dengan perjanjian Allah dengan para Nabi. Namun lebih dari itu, pernikahan bisa membuat kita mendekat pada Allah, atau justru menjauh dariNya.

Maka dari itu, kajian perdana ini kita mulai dengan membahas tentang pernikahan yaa. In syaa Allah cocok untuk yang belum menikah maupun sudah menikah.
Apa sih yang Membuat Pernikahan Disebut sebagai Penyempurna Separuh Agama?

Tidak main-main, yang menyebut menikah itu menyempurnakan separuh Agama adalah manusia agung utusan Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah atas separuh yang lainnya.”
(HR. Al Baihaqi)

Banyak yang menebak-nebak makna dari menyempurnakan separuh agama ini. Mungkin Sahabat di sini juga menebak yaah.

Ada yang bilang maksudnya adalah segala ibadah yang kita lakukan akan sempurna jika kita telah menikah. Benarkah demikian?

Yuk, kita simak perkataan para ulama tentang hal ini!

AL Ghozali rahimahullah (sebagaimana dinukil dalam kitab Mirqotul Mafatih) berkata, “Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitukemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan menikah, berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.”

Nah tuuh, berarti kalau sudah menikah tapi syahwatnya masih diumbar pada selain pasangan, masih hobi nonton video porno misalnya, yaa mohon maaf… Berarti pernikahannya masih gagal menyempurnakan separuh agamanya. Tujuannya tak sampai.

Kalau sudah menikah tapi masih belum mampu menundukkan pandangan, masih ‘jelalatan’ melihat aurat wanita selain istri, hmm… Berarti separuh agamanya belum sempurna juga.

Yang menarik, saat saya mengisi sebuah seminar pranikah, moderatornya berkata seperti ini, “Guru ngaji saya bilang, Menikah itu menyempurnakan separuh agama karena ilmu apapun yang kita pelajari, praktik sebenar-benarnya ada di dalam pernikahan.”

Istilah Betawinya gini kali yaa,” Lo belajar tentang sabar, ikhlas, tawakal, pengendalian diri, kalo lo belom nikah… Belum nyampe pada ujian praktik yang sebenarnyah, masih sekadar teori!”

Saya pribadi setuju dengan pendapat guru ngajinya sang moderator tersebut. Pasalnya, setelah menikah… Kita akan sadari bahwa masalah apapun yang kita hadapi saat masih jomblo, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding dengan setelah menikah.

Ada yang konflik dengan mertua, ipar, bahkan konflik dengan pasangan sendiri yang karakter aslinya baru ketahuan setelah menikah. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, diuji dengan banyak anak, diuji dengan tidak punya anak, diuji dengan penyakit pasangan, diuji dengan penyakit anak, diuji dengan pihak ketiga yang ternyata nampak lebih menarik daripada pasangan, de el el es be, yang luar biasa menguras emosi, pikiran, tenaga, biaya, jiwa raga dah pokoknya.

Kira-kira mendengar hal ini, ada yang jadi takut nikah?

Atau, ada yang udah nikah tapi jadi ingin cerai menghadapi segala permasalahan itu?

Waah… Berarti salah ambil kesimpulan, Bro, Sis! Coba kita sadari bahwa hidup di dunia ini Allah ciptakan memang sebagai ruang ujian!

Apa yang biasanya dilakukan di ruang ujian? Apakah membetulkan dandanan make up yang berantakan? Atau tidur mendengkur? Atau makan cemilan? Yaa… Nggaklah yaa, di ruang ujian yang kita lakukan yaa mengerjakan soal ujian.

Demikianlah hidup di dunia ini, memang sebagai Tempat ujian untuk kita. Jadi pernikahan pun adalah ujian, jomblo pun adalah ujian.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’ : 35)

Nggak lama kok, cuma 1-1,5 jam saja kita mengerjakan soal-soal ujian di dunia ini:

“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47)

Artinya, kita hidup tidak sampai sehari kan? Usia 40-60an tahun yaa setara dengan 1-1,5 jam waktu akhirat. Pas untuk mengerjakan soal-soal ujian.

Dan perlu diingat pula, soal ujian yang kita kerjakan semuanya disesuaikan dengan level kesanggupan kita masing-masing :

“Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.” (Al-Baqarah: 286) 

Anak SD yaa mengerjakan soal untuk taraf SD, anak kuliahan yaa mengerjakan soal untuk anak kuliah.

Jadi, segala konflik dan kesulitan dalam pernikahan kita, sebenarnya bisa memperlihatkan kualitas diri kita juga.

Semakin sulit soal ujian, menandakan semakin tinggi level keimanan, semakin tinggi pula tingkatan surga yang bisa dicapai. In syaa Allah.

Jadi, nggak perlu membanding-bandingkan rumah tangga kita dengan rumah tangga orang lain! Semuanya PASTI punya masalah sesuai kadar kesanggupan masing-masing.

Kembali lagi pada pernyataan menggenapkan separuh Agama, buat yang masih jomblo… Sudahkah merencanakan diri menggenapkan separuh dien dalam arti yang sebenar-benarnya dan bukan cuma perkara enak-enaknya saja?

Dan buat yang sudah menikah, sudahkah pernikahan kita berhasil menggenapkan separuh agama? Atau malah menjadikan kualitas diri kita lebih buruk? Jadi gampang mengeluh, tak sabaran, cengeng, atau yang terburuk… Makin menjauh pada Allah? Na’udzubillah min dzalik.

Berikut ini tips agar pernikahan benar-benar menyempurnakan separuh agama kita:

  1. Kendalikan masalah syahwat sejak sebelum menikah!

Kalau sebelum menikah tidak bisa menjaga kesucian diri, setelah menikah biasanya lebih parah lagi.

Misalnya sebelum nikah suka melampiaskan syahwat dengan cara menonton blue film, mengakses pornografi, melakukan masturbasi (terutama pria), sangat mungkin setelah menikah pun takkan merasa cukup, karena otak sudah terlanjur rusak.

Jika menonton materi pornografi atau melakukan masturbasi atau berpacaran diperbolehkan dalam Islam sebagai solusi bagi yang belum menikah, tentunya Rasulullah akan menganjurkannya. Tapi ternyata yang dianjurkan buat para pemuda pemudi yang belum menikah justru Berpuasa!

“Wahai para pemuda, barangsiapa dari kalian mampu memberi nafkah maka hendaknya dia menikah karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena ia adalah kendali baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Maka, coba belajar kendalikan syahwat sebelum menikah. Semakin sering melampiaskan syahwat pada hal-hal yang diharamkan Allah sebelum menikah, semakin sulit menjadikan pernikahan sebagai penyempurna separuh agama.

  1. Adil dalam memandang pernikahan

Banyak yang tidak adil memandang pernikahan hanya dari bagian yang enaknya saja, positifnya saja, padahal pernikahan itu sama saja seperti kehidupan pada umumnya, terdiri dari kebaikan dan juga keburukan.

Ketidakadilan dalam memandang pernikahan membuat orang berharap besar pada pernikahannya.

“Waah, pernikahan bisa menggenapkan separuh agamaku…”

“Pernikahan bisa membuatku lebih rajin beribadah!”

Kata siapa Bro, Sis? Justru ketika menikah godaan syetannya lebih berat loh. Ada yang jadi makin malas shalat tepat waktu, jadi malas ikut pengajian, makin males baca Quran, makin males hafal ayat, dengan alasan mengurus anak lah, beberes rumah, ngerjain tugas kantor, de el el es be.

  1. Miliki visi pernikahan

Jujur, saya termasuk orang yang selalu menekankan pentingnya visi dalam pernikahan. Tanpa visi, sebuah pernikahan akan terasa hambar.
Bukankah segala amalan bergantung niat atau tujuannya? Oleh sebab itu penting merumuskan tujuan pernikahan kita dengan membuat visi pernikahan.

Misalnya kita ingin membentuk keluarga yang seperti apa, berkontribusi apa untuk umat?
Contoh gampang, lihatlah orang yang punya anak lebih dari 10, tidak mungkin bisa demikian kalau orangtuanya tidak punya visi memiliki keluarga besar kan?

Sebuah Visi juga bisa membantu kita menyaring calon pasangan sebelum menikah looh. Kalau tidak sevisi yaa jangan diterima!

Lihat pula para keluarga penghafal quran, kalau tidak punya visi kuat yaa tidak mungkin bisa kan membentuk keluarga hafizh?

Nah, sekarang lihat juga rumahtangga kebanyakan! Apakah memiliki visi di dalamnya? Biasanya sih tidak, itu sebabnya digoncang prahara sedikit saja sudah tumbang.

Seorang suami, hanya karena fisik istri berubah setelah melahirkan sekian anak, bukannya dimodali untuk kembali tampil oke, malahan menyalahkan istri dan berselingkuh dengan wanita lain, ini contoh pemimpin rumahtangga yang tidak bervisi kuat, sangat mudah melupakan janji pernikahan untuk setia pada pasangan.

Saya pribadi sebelum menikah membuat visi ingin rumahtangga saya bermanfaat untuk umat, memang sih bukan di bidang menghafal Quran atau lain-lain karena saya mengukur kemampuan diri sendiri juha, tapi di bidang kepenulisan.

Alhamdulillah, saat ini suami yang tadinya tidak suka dan tidak bisa menulis, sudah beberapa tahun belakangan ini kerjanya malah menjadi scriptwriter. ☺

Ternyata memang apa yang pernah ditulis sebagai visi pernikahan, pelan-pelan terwujud.

Lalu, apa visi pernikahan Sahabat yang ada di sini? Setelah menikah, so what gitu loh?

Tanpa visi, seriously… Pernikahan akan sangat mudah terombang-ambing. Sedangkan yang punya visi saja bisa terjatuh, apalagi yang tidak.

  1. Istikhoroh

Pastikan sebelum memutuskan untuk menikah dan menentukan pasangan hidup, Sahabat semua melakukan shalat istikhoroh.

Ini merupakan kunci kemantapan hati dan ketenangan dalam mengarungi pernikahan kelak. Maka, tolong jangan diabaikan.🙏🏻

Sekian pemaparan materi ini, semoga ada hikmah yang diperoleh. Saya berharap kita bisa berdiskusi lebih lanjut via tanya jawab, dan saya membuka diri juga jika ada koreksian atas apa yang telah disampaikan.

Semoga kajian kita hari ini termasuk dalam kategori ‘saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran’. Sehingga kita semua tidak termasuk ke dalam golongan orang yang merugi. Aamiin.

📝 Pertanyaan

✏Pertanyaan pertama: Azhar

السلام عليكم ورحمةالله.

Umma Shinta, visi pernikahan ditulis di kertas, lalu dipajang atau bagaimana?

Jawaban:
Kalau kita merasa penting, sebaiknya memang visi pernikahan dituliskan.

Dulu saya menuliskan visi pernikahan di CV Taaruf😁, juga disimpan rapi dalam map folder yang dari plastik itu looh…
Jadi mengingatkan terus begituh
Bahwa kita menikah punya tujuan
Semoga menjawab pertanyaan. Boleh dipajang di dinding kamar atau dinding fb. Barangkali ada yg sevisi langsung bersambut….😘

✏Pertanyaan kedua: Titik

Mb…
Pertanyaan unt syamsa hawa
Gimana unt memantapkan hati agar tdk galau saat tmn2 sebaya telah menikah
Sedangkan di lingkungan sekitar hampir semuanya berpacaran.

Jawaban:
Memang ujian saat ini berat sekali. Tapi yakinlah di situ kenikmatannya bisa berlipat ganda!

Justru karena masih diuji dengan kesendirian, justru karena menjadi orang ‘aneh’ di tengah lautan orang yang berpacaran, bahkan berzina, kita akan semakin dilihat oleh Allah…
Saya sendiri alhamdulillah 20 tahun gak pernah pacaran.

Baru pacaran setelah nikah. Jadi pengalaman pacaran nihil.

Begini tipsnya supaya memantapkan hati:
1. Buat impian besar untuk diri kita sendiri

Kalau kita tidak punya impian besar, sudah pasti masalah kecil pun akan terlihat besar. Itu wajar.

Tapi kalau kita punya impian besar, mau S2 di luar negeri, mau menaikhajikan orangtua, maka masalah pacaran akan terlupa dengan sendirinya

  1. Shalat hajat

agar Allah segera kirimkan pangeran berkuda #eh bermotor minimal yaa
Karena sudah jadi kewajiban Allah untuk membantu orang yang sedang ingin menikah

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

  1. Khususnya untuk wanita, yang biasanya diuji dengan kesendirian karena cenderung pasif:
    Ikhlaskan diri kalaupun Allah tidak memberi jodoh di dunia

Dulu pun saya punya strategi ini:

“Yaa Allah, kalaupun jodohku tak ada di dunia, hamba ikhlas.”

Tapi saya nggak mau ikhlas dalam arti nyerah begitu saja.

“Kalau jodohku harus ditemukan dengan cara taaruf ke 100 orang, saya akan lakukan”

Jadi saya mulai taaruf sedini mungkin dg harapan ketika ketemu jodoh masih di usia produktif. Begitu.

Wallahualam. Sepertinya strateginya seperti itu saja. Yang penting kita bisa mengisi waktu dengan prioritas dan impian besar.

✏Pertanyaan ketiga: Ajeng

Assalamualaikum mbak, saya ajeng dr jakarta mau tanya untuk pemateri, tanda bahwa Allah telah memantapkan jawaban setelah kita sholat istikharah itu seperti apa ya mbak? Apakah lewat mimpi sebagaimana yg teman” saya alami? Kebetulan saya pernah ‘iseng’ sholat untuk menjawab tawaran menikah dr ikhwan lain, dan dimimpi setelah sholat sosok yg muncul bukanlah ikhwan tersebut, nah itu bagaimana ya mbak? Mohon penjelasannya, jazakillah

Jawaban:
Halo Mba Ajeng…

Memang istikhoroh itu sebenarnya jawabannya berupa kemantapan hati saja.

Kenapa kita perlu istikhoroh? Yakni supaya kita tidak disalahkan Allah jika salah memilih pasangan misalnya.

Istilahnya kita ‘izin’ dan minta restu dulu pada Allah dengan menjalankan shalat istikhoroh sebelum memutuskan segala persoalan (bukan cuma menikah)

Adapun jawaban yang di mimpi itu kalau kemudian memunculkan kemantapan hati untuk menolak, yaa bisa jadi memang itu isyaratnya. Tapi jarang sekali jawaban seperti itu.
Tentang istikhoroh ada 2 artikel menarik di Ummi yang bisa dibaca untuk lebih memahami: http://www.ummi-online.com/apakah-tiap-istikhoroh-selalu-mendapat-jawaban.html

Begini cara Rasulullah mengambil keputusan setelah istikhoroh:

http://www.ummi-online.com/mulia-dengan-istikharah.html

Jadi intinya yang memutuskan itu tetap diri kita, bukan Allah. Tetapi in syaa Allah apapun yang kita pilih, Allah merestui dengan memberi kemantapan hati
Wallahualam
Semoga menjawab☺🙏🏻

✏Pertanyaan keempat: NN

Mb,kl cara menghilangkn trauma gmn? Trauma,takut,krn melihat pglmn org?

Jawaban:
Subhanallah… Memang susah kalau punya trauma. Karena dalam pikiran sadar maupun bawah sadar ada ketakutan

Biasanya justru bisa menarik apa yang ditakuti itu untuk benar-benar datang ke dalam hidup kita
Sama seperti binatang kecoak. Dia malah terbang dan hinggap ke orang yang takut padanya. Ternyata ciptaan Allah yang tampak menjijikkan itu punya sensitivitas tinggi terhadap hormon takut…
Begitu pula trauma atau ketakutan kita pada sesuatu. Misalnya dalam hal ini pernikahan, biasanya ketakutan itu justru akan terjadi
Anggaplah takut menikah karena orangtua bercerai…
Maka, coba lihat sekitar kita, berapa banyak anak yang bercerai meskipun dia sangat membenci perceraian kedua orangtuanya?
Sebenarnya kuncinya satu untuk menghilangkan trauma… IKHLAS
Kalau kita menyadari bahwa hidup ini ujian, ujian ini kunci jawabannya cuma satu loh: Ikhlas
Soal apapun, sebenarnya kunci jawabannya yaa ikhlas itu, menerima segala ketetapan Allah, ridho pada apa yang Allah beri pada kita dan meyakini bahwa apapun yang Allah berikan tersebut adalah yang terbaik untuk kita

“Padahal, mereka tidaklah disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam menjalankan ajaran yang lurus, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)

Jadi kalau mau hilang trauma, perlu sadari bahwa;

  1. Trauma itu tidak ada untungnya

Kalau trauma menghasilkan pendapatan 50 juta, silakan dilanjutkan traumanya.

Kalau trauma bisa mendatangkan kehidupan pernikahan yang baik, silakan trauma.

Tapi faktanya tidak begitu kan… Maka, trauma itu perlu ditinggalkan karena merugikan

  1. Apa yang terjadi pada orang lain, belum tentu terjadi pada diri kita

Andaikan seluruh orang di muka bumi ini bercerai, maka saya akan tetap menikah.

Kalau pun saya -naudzubillah- bercerai, saya juga takkan trauma untuk menikah. Karena pernikahan itu baik adanya.

Tinggal kita bisa ikhlas atau tidak menerima takdir baik dan takdir buruk dari Allah.

Coba dekati lagi Allah, minta cabut rasa traumanya.

  1. Sadari bahwa Allah menunjukkan rasa sayangnya pada kita dengan memberi musibah
    “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).
    Nah, trauma itu barangkali masuk pada sifat tidak suka atas apa yang Allah beri, hati-hati Allah murka👆🏻

Segera hilangkan traumanya, terutama pada pernikahan. Coba ikhlaskan diri kita mengikuti bimbingan Allah. In syaa Allah tidak semua perempuan/laki-laki itu bersifat buruk, pasti ada yang cocok dan baik untuk diri kita. Syaratnya… Ikhlaskan hati dulu yaa
Wallahualam moga menjawab

✏Pertanyaan kelima: Ulfa

Assalamualaikum warihmatullahi wabarokatuh.

Mbak shinta, sebelum menikah saya punya prinsip untuk menjaga diri saya agar saya bisa mendapatkan suami yg juga terjaga, alhamdulillah itu sudah dikabulkan Allah..
Karena kami menikah dalam keadaan sulit, kami sepakat ingin menunda tdk langsung punya momongan. Setelah terucap kesepakatan itu, baru ada nasehat dari seseorang kalau pamali buat kesepakatan seperti itu.
Kami sadar, kami salah, berjalan 2 thn lebih kami blm dikaruniai momongan.
Kami terus berdo’a dan berusaha , tp terasa masih sulit menata hidup dan belum juga dikaruniai momongan.
Mohon pencerahannya mbak shinta.
Terimakasih.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Jawaban

Waalaikumussalaam

Maasya Allah, saya turut merasakan sedih dengan apa yang Mba alami. Tapi memang setiap pernikahan ada ujiannya masing-masing
Nah, kita perlu pahami ujian yang kita alami apakah memang dari Allah atau karena kesalahan kita sendiri.

Karena banyak juga ujian yang ternyata akibat ‘tangan’ kita sendiri, kalau memang demikian, kita perlu bertaubat sebenar-benarnya.
Akan tetapi dari pertanyaan di atas
Saya menangkap Mba dan suami sebelumnya tidak paham mengenai larangan untuk bersepakat seperti itu. Mudah-mudahan Allah memaafkan karena segala yang tidak diketahui, maka belum jatuh hukuman (dosa) atas hal tersebut
Solusi yang harus dijalankan berikutnya adalah ikhlas.

Sudah pernah baca buku Quantum Ikhlas Erbe Sentanu? Bahkan beliau lebih dahsyat lagi karena sudah divonis mandul.
Tapi dengan keikhlasan menerima takdir dari Allah, apa sih yang mustahil bagiNya?
Jadi saat ini cobalah untuk menikmati masa-masa berdua, sembari yakinkan hati bahwa belum juga dikaruniai anak bukan karena pamali atau sebagainya, tapi memang ujian dari Allah
Kalau memang mau coba angkat/adopsi anak, silakan, sesuaikan dengan aturan hukum dan aturan Islam.

Apalagi jika memang mengangkat anak itu lebih membuat perasaan nyaman, ikhlas, senang, sehingga perasaan positif tersebut pada akhirnya bisa menurunkan ridho Allah dan karuniaNya berupa anak kandung dari rahim kita sendiri. Wallahualam.
Mudah-mudahan menjawab.
🙏🏻

✏Pertanyaan keenam: NN

Momod mau tanya donk,
Sy n calon suami sama” kharakterny (keras), n sama” gampang cmburu. sm gol drah 0, sm lahir jumat pahing, sm berbintang virgo. Qt ktemu hnya 1 x, dan LDR, rencana prtemuan kdua lamaran n ktiga prnikahan.

Yg ingin sy tanyakan, kita sama” udh satu persepsi ttg visi yakni mndekat pd Allah. Nmun saat skrg msih sering kuat pd prinsip msing” (egois).
Kira” apa yg bakal jdi ujian bgi km nnti ? Dan apa tips/solusinya ?
Jazakallahu momod

Jawaban:

Maasya Allah, luar biasa detil yaa memperhatikan karakternya😅
Bisa coba baca artikel ini:
http://annida-online.com/jangan-ngaku-siap-nikah-kalau-masih-punya-3-sifat-ini.html

Karena ternyata sifat egois masih masuk ke dalam kategori sifat belum siap nikah
Makanya anak kecil belum balig belum boleh nikah, selain fisik belum siap, juga karena sifat egosentris anak-anak masih tinggi sekali
Maka dari itu kalau sudah mau menikah, memang kadar egoisnya sama-sama perlu direduksi
Belajar untuk mengalah
Tidak bisa satu pihak saja, tapi dua-duanya
Karena permasalahan dalam pernikahan untuk orang-orang yang punya karakter egois:
1. Bertengkar
Sudah pastilah bertengkar, terutama jika keinginan dua belah pihak berbeda
2. Cenderung mudah berpisah

Sebenarnya kalau cuma salah satu pihak yang egois, perpisahan belum tentu terjadi, karena kalau ada salah satu pihak yang bisa mengalah, maka biduk pernikahan masih bisa diselamatkan, akan tetapi kalau dua-duanya egois, maka… Harus ada yang mau mengalah. Itu kuncinya sepertinya.
http://www.ummi-online.com/masalah-rumah-tangga-mengejutkan-sering-kali-penyebabnya-hanya-satu-sikap-ini.html
Saran saya, sebaiknya disadari kemungkinan terburuk ini sebelum pernikahan.
Jadi bisa sama-sama bersepakat untuk belajar mengalah misalnya
Atau, sebelum menikah, upayakan untuk bekerjasama dalam suatu event atau sejenisnya
Kita bisa dikatakan telah mengenal seseorang kalau sudah melakukan 3 hal ini:

  1. Bermalam/ mabit

Tapi tentunya tidak bisa dilakukan pria dan wanita yang belum halal yaa.

Namun kalau sudah jadi panitia acara barengan bisa terlihat tuh karakter aslinya memang egois atau masih bisa kerjasama

  1. Urusan uang

Coba berurusan uang dulu dengan seseorang, bisa ketahuan sifat aslinya juga dari masalah fulus ini
Saya sedang cari sumbernya… Sebentar

Umar memiliki tiga ukuran untuk menimbang benarkah seseorang mengenali orang lain ?

Satu hari ketika seseorang memuji kawannya dalam persaksian sebagai orang baik, ‘ Umar bertanya padanya, ” Apakah engkau pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang dengannya, sehingga engkau mengetahui sifat jujur dan amanahnya ?”

” Belum,” jawabnya ragu.

” Pernahkah engkau,” cecar Umar, ” Berselisih perkara dan bertengkar hebat dengannya sehingga tahu bahwadia tidak fajir dalam berbantahan ?”

” Ehm, juga belum…”

” Pernahkah engkau bepergian dengannya selama 10 hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya ?”

” Itu juga belum. “

“ Kalau begitu pergilah kau, hai hamba Allah. Demi Allah kau sama sekali tidak mengenalnya !”

Nah ntuh… Jadi barangkali kita belum benar-benar paham watak orang tersebut sampai betul2 menikah dengannya. Siapa tau ternyata tidak seegois yang dikira.

Namun demikian memang perlu antisipasi… Sebelum menikah
🙏🏻wallahualam

Moga bisa terjawab.

Closing statement Pembicara 👤
Saya mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan sepanjang menjawab pertanyaan.

Apalagi untuk yang pertanyaannya masih di momod dan belum terjawab.

In syaa Allah bisa kita jadikan kajian di lain kesempatan.

Alhamdulillah terimakasih untuk Momod, juga Sahabat KUA yang bertanya maupun menyimak.

Semoga apa yang kita lakukan (mantengin whatsapp) malam ini bisa bernilai kebaikan, dan setiap hurufnya bisa menjadi pemberat amal kebaikan kita semua di hadapan Allah kelak.

Sekali lagi. Hidup ini ujian. Allah yang telah menyatakannya dalam banyak ayat, salah satunya:

“Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Mulk [67]:2)

Tujuan ujian tentu saja untuk memberitahukan nilai diri kita. Maka, Menikah itu ujian, menjomblo itu ujian, proses menuju nikah itu juga ujian, segalanya dicatat oleh malaikat untuk kemudian dihimpun dalam satu kitab yang akan Allah tunjukkan pada tiap-tiap diri kita kelak.

Dan akan Allah beri balasan pada kita atas apa yang telah kita lakukan dalam menjawab soal ujianNya. Sedangkan kita sama sekali tidak dirugikan olehNya.

Sekali lagi terimakasih atas kesempatannya.

Tunggu bahasan malam ini di artikel ummi-online yaa.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakaatuh
💦💦💧💦💧💦

Ummi-online.com
Annida-online.com
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s