Ketakutan dan Kecurigaan Akun Pseudonym

Terlintas ide menulis tentang akun pseudonym lagi, setelah shalat zuhur. Menyimak dan memerhatikan lebih dari dua puluhan akun tanpa nama asli dan foto asli. Oke, mungkin tidak mewakili fenomena para akun absurd itu, makanya tulisan ini sekali lagi menjadi subyektif dan ngasal.

Saya mau fokus tentang identitas yang mereka sembunyikan. Dan saya membagi dua kelompok, menurut apa yang saya lihat selama ini. Mohon maaf, tulisan ini asli no offense ya.

Kelompok pseudonym pertama : orang (sok) kanan dan benar dan selalu menyatakan bahwa mereka sedang berjuang di jalan dakwah. Kelompok kedua : orang yang selama ini selalu dituding anarkis (whatever it means) , tidak percaya Tuhan, dan berpaham kiri.
Cukup terbayang tentang mereka? Kedua pihak ini saling bersitegang dan bersilangan di media sosial. Terutama di Facebook dan Twitter.

Sometimes, saya kepo dengan mereka, tapi lebih banyak cueknya. Kenal juga gak kan? Kecuali, akhirnya mereka reveal identitas asli dengan bertemu langsung. Terkadang mereka memperlihatkan foto melalui jalur pribadi pun saya belum bisa percaya 100% sebelum bertemu. Lain halnya bila ada teman atau kerabat saya yang pernah bertemu atau kenal dengan pemegang akun pseudonym tersebut.

Contoh kasus unik pertama adalah, kelompok kanan yaitu si A dan B. Saya kenal A, bukan akun pseudonym dan sering ketemu. Saya tahu B si pseudonym hanya dari medsos. A dan B mengaku saling kenal dan sudah pernah kopdar. Anehnya, A selalu menghindar jika saya bertanya tentang dan berkata, “Gak penting.” Ini lucu. Mengingat kelompok kanan adalah mereka yang katanya memegang teguh silaturahim. Apa salahnya saya mau ta’aruf dengan si B. Kan menambah saudara baru? Tak boleh? Hanya karena saya dari luar lingkaran dan lingkungan mereka? So naive. Ya gak sih? Hal ini yang membuat saya sering bergumam, pantaskah mereka untuk dipercaya? Jujurkah dakwah mereka?

Sementara, pihak satunya. Si C dan D. Saya kenal dan dekat dengan C. Saya hanya tahu D dari medsos. Saya ingin kenal D. C Memperkenalkan D kepada saya dengan semangat. D begitu terbuka kepada saya. Membuka kedok pseudonym tanpa rasa berat. Entah kenapa, saya yakin C jujur menceritakan tentang D dan ketika D memberikan nama dan domisili via japri pertama kali, saya langsung percaya. Bahkan, akhirnya kami menjadi teman dekat. Padahal belum pernah bertemu. Gitu.

Ada ironi? Ya. Itu baru satu kasus. Sekarang tentang wajah asli. Kelompok pertama alias kanan ini gak ada yang berani tunjukkan batang hidung aslinya. Satu orang pernah kirim via surel, sempat saya percaya. Tetapi ketika akhirnya ketahuan bukan foto asli, hingga detik ini saya tak bisa lagi percaya padanya. Terlebih saat memperlihatkan foto seorang bayi, saya pikir anaknya. Ketika tak sengaja membuka Google Image, kenapa ada foto sama persis dengan yang saya lihat di BBM? Oh, cukup tahu. Orang kedua, hanya memberi foto refleksi cermin dengan ponsel menutupi wajah. Padahal selama ini semua twitnya terlihat garang. Uhuk!

Ah, masih banyak contoh lain. Intinya, tak ada satu pun yang berani tunjukkan wajah asli kepada saya. Tanya kenapa…

Kelompok sebelah, bahkan sukarela menunjukkan foto diri. Saat saya cross check kepada teman yang pernah bertemu dan diverifikasi, oke. Benar. Asli. Saya percaya. Sesederhana itu.

Kasus berikutnya. Apa lagi? Nama asli? Kelompok kanan mana mau kasih nama asli. Nama panggilan saja berat banget nyebutnya. Kelompok sebelah justru kasih nama lengkap.

Dari beberapa contoh di atas, saya malah merasa miris dengan jargon dakwah yang diteriakkan oleh kelompok kanan. Bawaannya curiga dengan orang di luar lingkungan mereka. Saya jelas tersinggung. Apakah wajah saya tampak seperti seorang penjahat perang? Heh? Bahkan ada yang terang-terangan menuduh saya akan membongkar identitas pseudonym -nya. Duh, geer amat. Apa untungnya buat saya? Menghasilkan dolar pun tidak, apalagi jaminan masuk surga?

Saya berniat baik. Justru hendak mencontoh mereka dalam mengeratkan silaturahim. Tak kenal maka ta’aruf. Mereka sendiri menghalangi. Menuduh pula. Diajak kopdar, kelompok kanan langsung memberikan daftar alasan. Wasalam deh.

Sekian dulu ocehan berantakan kali ini. Akan dilanjut kapan-kapan jika ada bahan lagi. Inshaa Allah. Tulisan kali ini disponsori perut lapar dan mau ngemil mi instan saja. Hahahahaha…

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s