Penjahat Kelamin Berwajah Malaikat

Coba saya diberi waktu untuk tersenyum sebelum meneruskan tulisan ini. Sekaligus menenangkan kedua tangan yang gemetar menahan emosi. Ah, lebaynya kumat.

Teringat beberapa teman perempuan curhat pada saya. Ada yang via BBM, WA, SMS, telepon, sampai maksa meminta bertemu sekadar untuk menangis dan tertawa setelah sesak di dadanya tumpah.

Rerata para perempuan itu mengungkapkan sebuah hal getir yang tampak sepele di mata masyarakat. Bahkan cenderung hina. Mereka merasa dipermainkan lelaki setelah give them all everything dan setelahnya justru dianggap murahan.

Salah seorang dari mereka, gadis 21 tahun. Beberapa tahun lampau. Polos. Lugu. Murni. Datang dari kota kecil dan beruntung mendapatkan kesempatan kuliah di kota metropolitan. Jatuh cinta pada lelaki yang enam tahun lebih tua. Standar. Lelaki itu tampak baik dan sopan. Mereka pacaran, dan si lelaki menjanjikan sesuatu yang muluk. Menikahi si gadis setelah dia lulus kuliah. Ayah si gadis yang awalnya keberatan, akhirnya meminta si lelaki datang kembali bersama orangtuanya. Tak pernah terjadi. Si gadis patah hati. Malu pada sang ayah. Ia memendam luka. Jika sekadar sakit hati, mungkin tak seberapa. Tetapi ia telah menyerahkan dirinya atas dasar janji si lelaki. Ia meradang. Kini ia benci pada semua lelaki. Ia tak pernah menikah.

Seorang wanita karir. Manajer di sebuah perusahaan multinasional berusia di akhir 20an. Beberapa waktu silam, dia berkenalan dengan seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah pertemuan komunitas. Perbedaan usia delapan tahun lebih muda si pejantan itu tak menjadi halangan. Mereka saling memuaskan hasrat karena saling membutuhkan. Si wanita salah sangka. Ia pikir mahasiswa itu punya perasaan yang sama. Cinta? Ternyata salah. Pemuda itu memang senang mencari wanita mapan demi rupiah. Gigolo? You named it. Si wanita tersadar. Ia menjauh. Melupakan si pemuda. Setelah sekian lama, pemuda itu datang kembali. Alasan? Hanya si wanita yang bisa memuaskan. Merasa terhina karena dianggap lebih rendah dari pelacur, ia memblokir semua akses si mahasiswa itu.

Janda di penghujung 30an karena ditinggal meninggal sang suami, berkenalan dengan seorang duda yang seumur dengannya. Merasa senasib, mereka justru Kaku dalam berkomunikasi. Si janda menahan diri untuk tak jatuh cinta, melihat si duda memiliki banyak penggemar. Tetapi pesona si duda terlalu memikat. Sementara, si duda dengan cueknya tebar pesona karena merasa masih layak mendapatkan pengganti mantan istri. Si janda pikir, bila ia bisa memberi perhatian lebih pada pria itu, maka usahanya akan membuahkan hasil. Sekian lama, ternyata nihil. Wanita malang merasa kecewa dan meninggalkan player itu. Si pria pun menghilang. Tetiba hadir kembali dan merasa menginginkan masa lalu. Si wanita memberi kesempatan. Sayang, setelah hasrat terpenuhi, si pria kembali menghilang. Setelah berulang tiga kali, si janda memilih pindah keluar pulau.

Seorang gadis usia awal 30an, bertemu seorang pria beristri. Pesonanya luar biasa. Tampan, humoris, dan sangat perhatian. Si gadis meminta kepastian hubungan. Tentu saja si pria menolak. Ia lupa pernah menjanjikan masa depan pada gadis itu. Naas. Si gadis kecewa karena merasa ditipu rayuan gombal. Setelah menyerahkan diri secara sukarela, mendadak ia seperti pesakitan. Kabar terakhir, gadis itu meninggal karena depresi.

Persamaan semua pria di atas adalah, mereka kembali muncul hanya karena butuh pelampiasan. Alasan mereka template : “Hanya kamu yang bisa memuaskan diriku.” Toh bagi mereka, setelah saling mengenal, tak perlu lagi sembunyikan kebejatan.

Kemiripan selanjutnya, mereka berwajah manis dan alim. Bahkan ada yang tampak seperti pria shalih yang rajin beribadah. Ohohoho, don’t judge a book by its cover, rite? Entah berapa banyak wanita terperosok dalam kubangan janji dan rayuan?

Aku terpana. Kaumku hanya menjadi obyek pemuas hawa napsu. Mereka wanita baik yang terjebak. Saya terlihat membela? Harusnya para wanita itu tak memberi kesempatan? Saya tak memiliki jawaban. Bahkan setiap curhatan mereka saya ketahui, kadang berakhir dengan lidah kelu ini terdiam. Tanpa solusi kecuali satu, “Putus semua akses. Jika mereka berhasil menemukanmu, jangan ladeni.” Apa lagi? Saya bisa apa untuk membantu mereka menghadapi para player sok kecakepan itu?

Kalian punya solusi, pembaca? Please, fill in the comment box below. Semoga ada pencerahan.

Terima kasih.
Salam.

5 thoughts on “Penjahat Kelamin Berwajah Malaikat”

    1. wanita menggunakan telinganya untuk mendengar pria yang menarik hatinya sementara pria menggunakan matanya untuk melihat wanita yang disukainya. itu sebabnya wanita menggunakan make up dan pria banyak berbohong.🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s