Allah Ciptakan Perbedaan, Mengapa Kita Ribut?

Secara sederhana dan kasat mata, sejak lahir pun kita sudah disuguhkan aneka perbedaan. Mengapa ada ayah dan ibu? Mengapa ada gelap dan terang? Mengapa ada hitam dan putih?

Allah ciptakan hal berbeda agar ada keseimbangan alam, yang menurut-Nya sudah sempurna. Laki dan perempuan, dua hal besar yang memiliki banyak sekali perbedaan pada keduanya.  Laki punya sperma, perempuan punya telur. Laki bersuara bariton, perempuan bersuara sopran. Sederhana.

Tetapi kesederhanaan itu yang selalu diributkan manusia. Dipermasalahkan. Dicari-cari kelemahannya. Bukannya kembali pada tuntunan baku dari Quran dan Hadist, semua sibuk mencari pembenaran dan berlindung di balik argumennya sendiri. Lebih tepatnya, halusinasinya sendiri.

Saya percaya dengan yang saya anut. Orang lain percaya dengan yang mereka anut. Keyakinan bisa saja berbeda. Saya percaya Pencipta saya hanya satu, bukan dua, tiga, setengah, atau seperempat. Orang lain bisa saja keyakinannya berbeda. Saya gak mau usik. Sejatinya, sesuai dengan yang saya yakini, hidayah murni hak prerogatif Allah. Sekuat apapun saya berdoa jungkir balik agar seseorang bisa menerima dan mencintai Allah sebagai Sang Maha, jika Dia tak berkehendak, ya sudah. Kebalikannya, jika saya benci dengan seseorang dan menyumpah agar orang itu mati dalam keadaan kafir, tetapi ternyata Allah meniupkan ruh cinta-Nya, maka orang itu menjadi kesayangan-Nya, sementara saya tenggelam dalam benci sia-sia.

Perbedaan bisa dimaklumi dan semua bisa duduk dalam satu forum sama rendah. Ketika berdiri pun bisa sama tinggi. Yang membedakan hanyalah kadar iman kepada Allah. Secerdas apapun seseorang, bila tak meyakini adanya Allah, bagi saya itu percuma. Lagi-lagi, itu kepercayaan yang saya anut. Sesuatu yang orang lain anggap bahwa saya termakan dogma agama. Saya marah? Sama sekali gak. Saya pun tak mengusik keyakinan bahwa Sungai Gangga itu suci bagi penganut Hindu dan bahwa Siddharta Gautama adalah tokoh suci umat Buddha.

Saya sendiri kadang jengkel dengan orang yang katanya seiman dengan saya tetapi kelakuannya belum Islami sama sekali. Saya pun berkaca. Apakah saya sudah menjadi baik? Baik bagi siapa? Saya kembali berkaca pada ajaran gurunda tercinta, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) agar selalu menerapkam 5S dan 3M.

Bahwa saya harus bisa Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun kepada sesiapapun juga. Mau tahu yang paling berat? Sopan dan Santun! Untuk pribadi saya yang cablak, mungkin saja semua ucapan saya tak sopan dan tak santun. Mana tahu kan? Dan belajar memperbaiki itu tidaklah mudah. Hanya saja… Sulit. Hahahaha…

Sebelum saya mau sok-sokan meralat kelakuan orang lain, sudahkah saya
Memulai dari diri sendiri
Memulai dari hal terkecil
Memulai sejak saat ini
Saya hanyalah manusia dengan segala keterbatasan. Napsu besar untuk berubah, tetapi tenaga dan waktunya tak banyak. Maka sekarang saya memilih untuk memperbaiki diri sendiri agar waktu tak sia-sia dengan mencela atau mengusik orang lain.

Namun… Manusia dengan segala keangkuhannya… Saya tetap saja tak sadar hendak mengatur orang lain. Padahal jelas setiap orang itu berbeda. Maka, cara menghadapinya pun harus berbeda. Kecuali kita semua dianggap robot yang harus disamakan. Tetapi bungkamnya saya ternyata salah untuk beberapa hal. Jika ada kedzoliman, masihkah saya diam tak berbuat apapun? Jika ada kejahatan, apakah bergeming itu lebih baik?

Lagi-lagi, kita terbentur pada ukuran kejahatan itu seperti apa. Jika bagi saya membuang sampah sembarangan itu kejahatan, bagi orang lain itu hal biasa. (Mungkin untuk hal ini bisa gak ya saya bilang, jika rumah orang itu kebanjiran, jangan salahkan petugas kebersihan? Kan hobinya buang sampah sembarangan?*mikir *mulai ngelantur) Jika bagi orang lain …. Yaaa contohnya banyak!

Perbedaan itu niscaya. Bahkan anak kembar pun seleranya bisa jauh berbeda. Bagaimana mungkin kita memaksakan seseorang harus mengikuti selera kita? Hm, mungkin bisa dan orang itu mau manut karena ada maunya. Tetap saja, ada pamrih di balik jawabannya.

Perbedaan itu juga terjadi untuk hubungan antar manusia. Manajer maunya A, karyawan maunya B, sementara pemilik perusahaan maunya C. Kalau konflik tak kunjung selesai, yang kalah biasanya…🙂

Ketika sepasang kekasih memiliki banyak perbedaan (yang baru disadari setelah berhubungan beberapa waktu), memilih bertahan atau berpisah? Sampai sejauh apa perbedaan bisa menjauhkan atau mendekatkan mereka berdua?

Dua orang sahabat mempunyai dua selera berbeda. Duduk manis di depan home theater, sibuk memilih antara The Conjuring atau Alvin and The Chipmunk. Tak akan ada habisnya jika bersikukuh di dua genre berbeda itu. Ambil jalan tengah. Ternyata keduanya suka film Iron Man. Ya udah, sih…🙂

Kita hidup untuk menentukan pilihan dari semua perbedaan itu.

Dan saya, memilih untuk belajar berhenti membenci sesuatu yang – meski tidak saya suka –  ternyata lebih baik menurut Allah. Lelaki itu tak mencintai saya. Dia lebih memilih bersanding dengan perempuan lain. Saya bisa apa?

(kemudian baper)

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s