Memamerkan Pasangan Pada Publik

Saya tergelitik menulis hal ini sejak lama, tapi bingung mau mulai dari mana. Maaf jika tulisan ini terasa berantakan dan lompat-lompat.🙂

Saya sering sekali melihat kemesraan beberapa pasangan muncul di media sosial. Justru bagi saya, jika yang saling pamer itu adalah sepasang kekasih belum menikah, tak peduli. Suatu saat bakalan putus. Nothing to lose sebenarnya. Gak ada ruginya dan semua foto mesra itu bisa dihapus. Semua pesan romantis (bahkan mungkin yang menjurus ke arah lebih intim) bisa dibuang. Beres.

Bagaimana dengan pasangan suami istri? Memasang foto berdua tentu tak salah. Sesekali boleh saja, untuk mengabarkan pada dunia, “Eh, gue ada yang punya. Ini bini (laki) gue.” Tetapi bila setiap hari ada unggah foto mesra dengan pose yang too much, rasanya ada yang salah dengan si pengunggah foto. Maksudnya apa?

Boleh, sangat boleh berbangga (dan tentunya harus bersyukur) bisa mendapatkan pasangan romantis dan perhatian. Tetapi apa iya SELURUH DUNIA harus mengetahui apa saja yang mereka lakukan? Rasanya gak banyak yang peduli.

Hal yang sama dengan screen capture pesan singkat dari pasangan yang tampak mesra dan menggoda. Pamer? Untuk apa? Saya pribadi sampai detik ini tak menemukan urgensinya memperlihatkan hal yang SANGAT PRIBADI itu ke ranah umum. Duhai generasi 4G…

Saya belajar. Ketika para teman yang terhubung di media sosial mengirimkan pesan japri bahwa sebaiknya saya begini dan begitu karena postingan yang kurang pantas di tahun-tahun terberat dahulu itu, perlahan saya mengerti. Sekaligus menyadari bahwa DUNIA MAYA TETAPLAH MAYA, BUKAN DUNIA NYATA. “Jangan sampai kamu menyesal, An.”

Sebelum saya paham maksud nasihat mereka, saya menyunting bahkan menghapus postingan yang sekiranya tak pantas. Kemudian, baru berpikir tentang saran mereka. Ya, mungkin tak semua orang tahu kehidupanmu di dunia nyata. Tetapi ketika kamu membuka dapur sendiri dengan sukarela, sama saja mengundang penjahat masuk.

Yang tadinya tidak peduli, menjadi penasaran, kemudian merasa ada kesempatan untuk mendekat… Kemudian menghancurkan. Contohnya sebenarnya sudah banyak. Misal saja, kamu mengunggah foto mesra berdua pasangan lengkap dengan makan siang kesukaan pasangan. “Suamiku paling suka rawon dengan telur asin yang berminyak nih.” Atau, “Istriku jago banget masak rendang paru kayak gini. Koki terhebat!” Pernah membayangkan berapa banyak perempuan dan lelaki lain di luar sana berpikiran… “Ah, rawon bikinan gue lebih enak. Ntar gue masak, kirim ke kantornya!” Atau, “Mau banget deh dimasakin si seksi itu. Hm, kapan ya ada waktu ke rumahnya?”

Silakan mencibir contoh di atas. “Gak mungkin!” “Itu terlalu sinetron!” Ya, terserah sih. Kamu kan belum merasakan. Amit-amit jangan sampai. Tetapi, mencegah lebih baik daripada mengobati kan? Apalagi kalau berobatnya terlambat. Benar?

Terkadang, kita tidak memamerkan pasangan saja, banyak yang penasaran setengah mampus pada kekasih kita. “Kok bisa si dia sama dia? Rasanya gak cocok. Gak pantes.” Kemudian dicarilah segala celah untuk mengetahui mengapa si perempuan biasa itu bisa menikah dengan pria pujaan gadis-gadis di kampus dulu. Atau kenapa ada pria nerd yang bisa berpasangan dengan ratu pesta? Curiosity kills you.

Kamu bukan artis yang bahkan apa menu sarapannya saja ditunggu.  Kecuali kalau kamu memang Kim Kadarshian wannabe gitu sih, mau memperlihatkan betapa kehidupan pribadimu bisa bikin sirik orang lain. Oh, please.

Saya kadang menikmati suguhan drama di dunia maya. Bukan untuk dikomentari, tapi diberi tatapan muka lempeng dan setelah jeda beberapa menit dari postingan mereka, aku menanggapi dengan, “Bolehkah berimajinasi sedikit saja?” Di atas sudah ada contohnya. Ini saya tambah lagi. Misal ketika si perempuan A berkomentar bahwa suaminya perhatian membelikan obat di apotek dan memasak bubur ketika dia sakit. Jangan salahkan wanita lain berkhayal ingin diperlakukan sama. Dan ya begitu pula ketika si pria update status dengan mengatakan jika istrinya semakin cantik setelah melahirkan, misalnya. Pria lain mana yang tak penasaran? Apalagi ditambah foto mesra yang nyaris tak perlu diumbar.

Oke. Itu hak. Benar. Tak perlu lah saya pusing. Iya. Tetapi ketika banyak orang berkomentar pada postingan mesra itu lantas si pemilik foto mencak-mencak karena beberapa hari ada banyak pengagum rahasia yang tetiba menyatakan suka, cinta, atau apalah.

Dalam kesendirian seperti sekarang (tsah..), saya seperti diberi peringatan dari Allah bahwa tak sepantasnya terlalu berlebihan dalam menunjukkan kemesraan dengan pasangan di ranah publik, unless you are mythomania😉 terkadang, perlu berbohong  untuk mengatakan bahwa semua baik-baik saja.  If you know what I mean

Mari jaga keluarga kita dari hal-hal yang sekiranya dapat membuat kita terpeleset bahkan terjerumus. Terlalu banyak tipu daya di luar sana  yang akan menyilaukan mata sehingga kita malah menggunakan pembenaran atas apa yang terjadi. Padahal jelas Allah dan Rasulullah melarang.

Semoga, kelak saya dan semua single fighter di luar sana dipertemukan dengan pasangan yang bisa menjadi pakaian bagi pasangannya.

“Pakaian taqwa itulah yang terbaik”, sebab sesiapa yang menjadikan ketaqwaan pada Allah sebagai penjaga, penabir, dan perhiasan bagi dirinya, takkan ada seorangpun yang mampu melihat ‘aib celanya. Pakaian pula yang menjadi perumpamaan keberpasangan suami dengan istri.

“..Mereka adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka..” (QS Al Baqarah [2]: 187)

Jika istri adalah pakaian bagi suaminya; yang menutupi aibnya, memperindahnya, dan menjaganya dari dosa; mengherankan masih banyak pemuda yang betah tak berpakaian dengan menunda-nunda pernikahan. Demikian di antara tadabbur Dr. Nashir ibn Sulaiman Al ‘Umar. (dari FB ustaz Salim A. Fillah)

Semoga kita semua terhindar dari segala fitnah. Waullahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s