Bicaralah, Hingga Penuh Semestaku

Kamu.

Serupa hujan yang sama sekali tak pernah mau berhenti berkunjung meski terkadang aku enggan bersentuhan dengannya.

Pagi tadi, ketika matahari pun bahkan belum menyapa, suara rinai hujan sudah menggelitik telinga. Mata terjaga, namun tubuhku beku. Dengan angkuh kutepis bayangmu. Aku tahu, kamu tak mungkin memelukku. Kau tak bisa melipat jarak.

Ketika angin kencang berusaha memadamkan cintaku yang baru saja menyala kembali, ternyata masih ada sisa perciknya.  Sebelum bisa berpikir, sudah kulindungi agar tetap bisa menghangatkanku. Terus. Selalu.

Aku tidak berbohong ketika aku berjanji memastikan akan selalu ada di saat terburukmu sekali pun. Semua hanya tentang kesempatan untuk membuktikan.

Aku mungkin tak selalu bisa mengartikan apa inginmu. Aku mungkin tak pandai menerjemahkan maksudmu. Aku mungkin hanya bisa melakukan satu hal untukmu. Ada untukmu di dalam dirimu.

Kamu.

Perempuan yang mencintaimu tak sedikit. Yang sekadar kagum pasti tak terbilang. Diam-diam berharap dijatuhi cinta olehmu entah berapa banyak. Kamu tak peduli. Tapi mereka peduli. Setidaknya, setiap reaksi mereka atas kehadiranmu, demikian.

Aku belajar untuk tak mengusikmu. Baru tahu kamu terganggu dengan cerewetnya aku. Kulihat, ada yang lebih sering muncul tetapi kamu biasa saja. Maafkan khilafku yang bukan sesiapamu ini.

Tuhan masih mau mendengar doaku yang sama di setiap kalimatnya, meski pasti sudah bosan dan menatapku jenuh. “Tak adakah permintaanmu yang lain, anak manusia?” Aku tahu Dia bertanya retorik. Aku menunduk. Berbisik lirih. Tak peduli digoda malaikat karena manjanya diri ini.

Pernah kubertanya, sampai kapan masaku? Tuhan tak menjawab. Tugas yang purna bagaimana hingga aku bisa disebut kehabisan waktu, entah. Dia hanya menyerahkan seberkas skenario kepadaku. Tetapi setiap halaman barunya masih kosong. “Kamu tak perlu tahu kelanjutannya. Kamu hanya perlu memilih di setiap persimpangan jalan. Karena hidup selalu tentang pilihan.”

Kamu.

Pilihanku adalah tetap mendengar suaramu dan membaca ceritamu. Meski telingaku belum pernah lagi disusupi desah napasmu yang menggoda. Aku tak mengapa.

Masih ada waktu menunggu kesiapanmu menjadikan segalanya sempurna pada waktu-Nya. Ketika saat itu tiba, bicaralah. Sentuh jiwaku. Terangi semestaku. Bibirku akan melengkung ke atas.

Kamu.

Jangan lupa berbahagia yah!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s