Cinta dan Kasih Itu Memaafkan

Hai, kamu.

Apa kabarmu di akhir pekan terakhir bulan Februari ini? Semoga tetap sehat dan produktif. Bukankah jadwalmu senantiasa padat di hari Sabtu dan Minggu, ya?

Bagaimana suasana hatimu saat ini? Semoga tak ada lagi pembenaran yang tak perlu. Tidak juga pengelakan untuk menyembunyikan apa yang seharusnya kaubiarkan bebas berkelana.

Tak perlu terus kaulukai hatimu sendiri. Ia berhak bahagia, seperti yang selalu didengungkan pikiranmu acap kali. Pikiran yang berkata bahwa dirimu bahagia, namun jauh di dasar hati yang entah di mana, ada yang ingin mengeluarkan pendapatnya sendiri. Ingin mengakui, tak sempurna bahagia tanpa kehadiran yang entah siapa.

“Kamu siapa?” tanyamu jika merasa bahwa aku sok tahu.

“Aku bukan sesiapa. Tak perlu riwil kepadamu, aku bisa melihat dari jauh. Tetapi aku hanya bisa diam. Karena pembuktian itu bukan dari kata.”

Memang benar, emosi sesaat itu tak pernah bisa menjadi solusi terbaik. Aku baru mendapat cerita dari seseorang berusia tujuhpuluh tahunan, tentang kisah cinta dan pernikahannya. “Aku sudah pernah menikah tiga kali dan ketiganya berakhir dengan perceraian. Aku menyesal minta berpisah dari suami kedua. Padahal dia orangnya sangat baik. Waktu itu aku emosi hingga minta bercerai. Dengan yang ketiga, aku bertahan karena tak mau mengulang kesalahan. Ternyata justru lebih menyakitkan hati. Ya, namanya menyesal selalu belakangan.” Tatapannya getir namun pasrah pada qadaruLlah yang sudah diterimanya.

Marah itu bentuk lain godaan syaithan. Benar. Marah itu api. Benar Rasulullah bersabda, jika sedang marah hendaklah duduk. Jika masih marah, maka berbaring. Ya, itu benar. Aku sudah mencobanya. Pun, jika sedang marah, langsung minum air sebagai pereda atau berwudhu. Meredam api dengan air. Lagi-lagi, Rasulullah benar.

Belajar dari pengalaman setiap kali merasa emosi yang tak baik, minum adalah cara termudah. Karena jika aku berbaring, yang ada aku akan tertidur. Hahahaha… Abaikan! Aku memang sumbu pendek, yah? Tetapi aku mudah untuk menjadi lebih baik setelah badai. Mungkin berbeda denganmu yang tampaknya bisa menguasai keadaan, tetap tenang, tetapi menyimpan gejolak lebih lama. Lebih sulit untuk pulih.

Aku tak menyalahkanmu. Karena aku tahu bagaimana orang sepertimu bila sedang tak nyaman. Lebih memilih sendiri menyembuhkan luka, tak mengizinkan sesiapa mendekat, dengan risiko lebih lama untuk bisa bangkit. Jika perlu, menghabiskan waktu bertahun-tahun.

Alih-alih bahagia, kamu menyembunyikan pedih di balik senyum dan nyanyian lirih. Ketika orang lain terpesona dan menjura padamu, aku justru mengerutkan kening. Apa yang sebenarnya hendak kausampaikan? Aku tak pernah bisa membacamu hanya dari kulit luar, karena selalu ada yang tersembunyi hingga harus melihat dari sudut pandang lain.

Semoga terjemahanku salah. Semoga kamu tak seperti yang kukhawatirkan.

Aku belajar memaafkan diriku sendiri yang sudah menilaimu agak salah. Aku pun memaklumi segala yang tak biasa dari dirimu.

Bandung, 14.46 WIB.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s