Cinta Itu Dimulai Dengan “A”

Halo, pikiran acak di kepalaku.

Bagaimana cuaca di kotamu? Tak menentu seperti isi kepalamu yang menari-nari? Terkadang menderas seperti ide-ide liar yang tak tertampung dalam tempurung kepala. Lain waktu, panas oleh cemburu yang entah dipicu siapa dan mengapa. Di saat berikutnya, kering, mendung, sejuk, dan sebutlah apa saja.

Cuaca memengaruhi cara kita mencinta? Benarkah? Entah, seseorang pernah sekelebatan mengucap itu. Di masa laluku. Tetapi aku hanya tertawa. Mungkin ini seperti kadar iman yang naik turun.

Apa hubungannya?

Ada. Karena cinta harus dimulai dari-Nya. Segala rasa tentang bahagia dan rindu atau cemburu, harus dikembalikan kepada yang paling berhak. Allah. Karena huruf pembentuk kata pun dimulai dengan A-lif.

Cuaca dan iman sering berubah. Masalahnya, apakah kita mau menikmati setiap perubahannya dan tak melawan hanya karena tak sesuai dengan keinginan? Kembali ke asal.

Aku, sebenarnya ingin memanggil bapakku dengan sebutan Ayah. Tetapi beliau kadung dipanggil Bapak oleh semua anak-anaknya, sehingga aku yang belakangan lahir pun harus memanggilnya demikian. Karena cinta pertamaku saat lahir adalah pada sang ayah. A kedua.

Aku lebih suka dipanggil An daripada Diana.  Kenapa? Lebih mudah saja. Nama panggilan adikku juga Adie, meski di sekolah dan kampus dipanggil Surya.  A ketiga dan keempat.

Mungkin tak penting ketika aku mengatakan jika nama memengaruhi hatiku untuk mencintai pria lain selain bapak dan adikku. Nama dengan huruf depan atau panggilan A, akan lebih menggelitik di telingaku. Well, cinta platonikku di kota lain nama depannya A. Hahaha, ini mungkin hanya cocoklogi yang dipaksakan. Oh ya, tiga orang mantan (kenapa punya banyak mantan kok bangga gini sih? *eh ) aku nama panggilannya A. Tenang, mereka sudah bahagia dengan pasangan masing-masing kok. (penting pula ini dijelaskan) A berikutnya.

Oh ya, berhubung baru menonton “A Copy of My Mind” dua minggu lalu, aku jatuh cinta pada Alek. Dia itu bad boy yang sangat laki. Tentu saja, romantis.  A kesekian.

Kamu tahu juga kan, kalau skala terbaik dalam buah, sayur, ataupun pendidikan, terbaik itu Grade A? Ya udah, sih. Maksa ya?😀 Meski demikian, aku tetap tidak begitu suka dengan bunga anggrek atau anyelir. Aku lebih suka Mawar. Jangan lupa, yang warnanya merah darah. Abaikan, ini random. Sekaligus kode, bahwa aku menyukai eksotika bunga berduri itu. Seksi.

Jadi, cuaca itu memang berpengaruh terhadap cinta. Setidaknya untukku. Karena dengan cuaca yang mendukung, tentunya bisa disebut musim kawin. Makanya kenapa, anak selalu disebut buah cinta.

Itu pula sebabnya, aku mengikuti tantangan sebulan menulis surat cinta. Demi kebahagiaan atas rasa syukur karena cinta-Nya.

PS: Jangan lupa tersenyum hari ini, meski kau enggan. Siapa tahu yang kautemui di jalan, hanya mendapatkan senyummu sebagai satu-satunya kebahagiaan yang dia rasakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s