Tak Pernah Ada Kebetulan, Meski Sepotong Hati Terjatuh

Masih untukmu.

Aku semakin bingung hendak menulis apa. Banyak yang ingin kusampaikan, tetapi aku sangsi. Apakah harus kukirimkan atau kusimpan saja.

Aku memikirkan seseorang yang saat ini bahkan tak ingat ada yang pernah mencintai dalam diam. Tak mengapa. Aku bahkan tak punya air mata lagi untuk dirinya.

Kembali kuingat kamu. Pria yang begitu menikmati rasa diperhatikan banyak wanita. Aku percaya kamu bukan tipe playboy cap kampak yang mudah berselingkuh. Beberapa teman mengatakan kamu tak bakat untuk mendua. Kamu hanya terlalu hanyut dalam lingkaran perhatian berlimpah.

Wanita mana yang tak berbunga membaca lembaran syairmu? Siapa yang tak tersenyum mendengar suaramu? Semua memujamu. Kecuali aku. Tak peduli, terkadang memprotes. Tetapi karena aku peduli, bukan memuji lantas menenggelamkan.

Tak pernah ada kebetulan di dunia ini. Semua sudah menjadi sunatuLlah. Dalam pengawasan-Nya, segala yang terjadi memang semestinya demikian. Termasuk mencintaimu bertahun – tahun untuk akhirnya mengalah.

Tak diinginkan apalagi dibutuhkan membuat nalarku harus menyadari bahwa mencintai (terkadang) tak perlu dibarengi mimpi untuk memiliki. Bukan mauku mencintaimu, tetapi Tuhan mengizinkanku menikmati saat menjadi pengagum rahasiamu bertahun lamanya.

Masihkah ada inginku menjadi perempuanmu? Ya, tentu. Namun, aku tahu diri. Itu saja.

Kamu, sudah merasa bahagia hari ini?

(tulisan ke sembilanpuluhenam dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s