Ketika Kita Kembali Menjadi Asing

Untuk kamu di ruang sepi.

Aku hanya mampu berbisik dari jauh tanpa bisa menggapaimu. Aku bertanya ke kanan dan ke kiri. Adakah sesiapa yang mengenalmu lebih daripada aku? Mengapa aku bisa menjadi orang asing bagimu, hingga kamu bisa dengan mudah menganggapku bukan sesiapa. Atau karena aku kurang gigih belajar mengenalmu? Mungkin.

Pernah aku membaca sebuah twit. Seseorang mengeluh karena merasa diabaikan saat menghubungi entah siapa. Dia bilang, kalau tidak segera ditanggapi, artinya memang tidak dianggap penting. Aku meringis membacanya. Karena aku merasa tidak dianggap penting oleh orang yang menulis twit itu. Lucu ya? Iya. Dia ingin dianggap penting tapi justru meremehkan orang lain.

Kemudian semalam aku stalk ke akun lain. Seorang follower menulis tak akan membalas WA. Aku meringis lagi. Terbayang sebuah percakapan seru terjadi di antara mereka.

Dan aku ingat setiap percakapan kita. Beberapa hari ini seperti kopi yang dibiarkan di meja tanpa tersentuh setelah dibuat. Anyep . Gak enak bahkan untuk sekadar disesap. Dingin. Tetapi harus dihabiskan.

Aku ingin memaksakan diri menuntaskan percakapan kita yang belum usai tempo hari. Tetapi aku belum menemukan alasan tepat untuk menghubungi kamu. Aku hanya ingin mengakhiri yang sempat tertunda.

Memang benar. Harus ada jarak dan jeda agar dua hati bisa kembali berpelukan. Hingga saat menyadari bahwa takdir tak akan pernah bisa dielakkan.

Kamu, sudah berbahagia hari ini?

(tulisan ke sembilanpuluhlima dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s