Ketika Aku Kehabisan Kata Untukmu

Halo kamu.

Sebelum aku menulis surat ini untukmu, aku terdiam cukup lama. Dua jam. Sebuah aib bagi diriku yang biasa dipenuhi ide-ide liar untuk menulis tentang apapun. Tetapi pagi ini, aku hanya menatap kosong pada layar.

Apakah sebentuk rindu perlu dijelaskan? Apakah ada terjemahan yang pas untuk menjabarkannya? Aku tak bisa menemukannya dalam kesenyapan. Maka aku berlari sejenak ke luar kubikel hanya untuk mencari tahu apa itu rindu.

Aku mencoba tenang dan menengadah. Langit sangat cerah pagi ini. Hangat. Tuhan sedang tersenyum kepadaku. Tetiba aku mengingat satu hal. Mengapa aku bisa segelisah ini? Aku tahu Tuhan tak akan mau menjawabnya langsung meski aku memohon. Dia, seperti biasa, akan menunjukkan sesuatu. Setelah aku tenang. Setelah reda semua panik dan tak ada lagi emosi yang naik turun.

Ada saat kita duduk saling bertatapan, ada kala punggung kita yang berhadapan. Tetapi, jangan sekali pun suara meninggi. ~ andiana ~

bye anna

Aku merasa karakter sanguinku sedang melompat-lompat seperti Anna yang selalu saja mengganggu Elsa. Empat hari lalu aku merasa tak nyaman karena merasa ada yang harus kulakukan agar tak penasaran. Ketika aku memperoleh jawabannya, persis seperti Anna, aku pun melangkah gontai dan berkata, “Okay, bye.” *aku sekarang justru sedang tersenyum# Jika kamu mau tahu bagaimana wajahku saat mengetahui jawabanmu, lihat wajah Anna di atas. 🙂

Apakah aku jahat bila menyamakanmu dengan Elsa? Kesepianmu. Rahasia yang sudah menggunung di jiwamu dan semakin membesar seperti Marshmallow hingga ketika ia merasa mendapat akses, akan berteriak, “Don’t come back!” dan menyakiti yang lain.

Kamu takut untuk kembali karena berpikir semua yang ada di dekatmu akan tersakiti. Kamu menghendaki semuanya tak usah peduli padamu. Kamu ada di alam yang semu. Seolah, dengan kesendirianmu, kamu bahagia. Aku tahu risiko mendekatimu. Terluka oleh keangkuhanmu. Tapi aku yakin kamu tak akan tega menyakitiku. Sementara, itu keyakinanku hingga benar aku kaulukai. Tanpa sengaja.

Aku terempas oleh penasaran sekaligus rasa sayangku padamu. Ada pro dan kontra jika aku tetap bersikukuh ingin mendekat padamu atau justru menjauh darimu. Aku kembali terjebak di persimpangan. Dengan luka yang ada dan ketidaksadaranku, aku membiarkan sesiapa pun membawaku.

Entah ke mana. Entah sejauh apa. Entah sampai kapan.

Kamu, apakah sudah bahagia hari ini?

(tulisan ke sembilanpuluhtiga dari beberapa tulisan)

Bandung, 09:37 WIB.

One thought on “Ketika Aku Kehabisan Kata Untukmu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s