Doa yang Masih Sama

Hai, kamu.

Apa kabar hari ini? Semoga waktumu bermanfaat dan banyak hal menarik yang bisa dinikmati.

Aku kembali menulis surat untukmu. Hari ini dua kali. Pertama kukirim sendiri tadi pagi, dan kedua adalah surat yang dikirimkan oleh kangpos.

Air yang tenang memang berbahaya, kan? Kita tidak pernah tahu apa yang bergejolak di bawah permukaannya. Makanya kumasukkan tangan ke dalamnya agar beriak dan membuatmu menoleh kepadaku setelah kuciprat airnya. Aku ingin kamu menatap mataku. Dalam dan lama.

Lihatlah aku. Aku yang selama ini memerhatikanmu dari jauh. Sejauh jarak antara rumahku dan rumahmu. Aku yang tak bisa menggapai dan memelukmu, senantiasa menghujani doa tiada henti minimal lima kali sehari.

Akhirnya aku berani menanyakan sesuatu yang harusnya kutanyakan sejak awal. Ketika kamu meminta maaf dan mengatakan dengan santai, “Lupakan saja,” akhirnya aku sadar… Selama bertahun-tahun aku salah.

Iya, aku salah selama ini. Gak papa juga, sih. Pelajaran berharga sekali lagi. Kali ini datang darimu, yang kucintai dalam diam dan kesenyapan berkepanjangan.

Tuhan tak pernah salah dalam menuliskan skenario untuk kita. Tetapi kita, sebagai manusia yang sangat terbatas, selalu sok tahu dan berpikir bahwa apa yang sudah tertulis jauh sebelum kita lahir itu bisa diacak dan dibongkar seenak jidat.

Sampai tiba kita di persimpangan. Setiap jalan yang kita pilih sudah ada akhirnya. Tak ada yang baik atau buruk. Pilihan kita menentukan mau jadi apa hidup kita. Di setiap jalurnya, sudah ada skenario-Nya yang bisa kita baca dan jalani.

Ketika aku memilih jalan untuk mencintaimu, karena aku mau tahu apa yang akan Tuhan sampaikan padaku dalam lembaran takdir-Nya. Tuhan tahu aku akan menangis atau tertawa ketika membacanya. Itu sebabnya, aku pun tanpa ragu mengambilnya.

Seminggu terakhir ini, Tuhan memberiku petunjuk untuk bab hidupku berikutnya. Maka aku membacanya. Dalam kalam-Nya. Di semua media sosial yang kuikuti. Dari beberapa ucapan sahabat dan temanku. Aku terdiam. Lama kulawan kata hati dan pikiran yang bercabang ke mana-mana. Aku berjalan ragu. Hingga akhirnya tiba di persimpangan berikutnya.

Kamu datang memberikan skenario berikutnya dari Tuhan. Tanpa membacanya pun aku tahu apa mau Tuhan. Aku duduk perlahan, alih-alih menjaga agar tak terjatuh. Aku mencoba menenangkan pikiran dan perasaan yang mulai campur aduk.

Butuh waktu empat jam agar segala yang menghantam kepala dan dadaku bisa menjauh dan nyerinya mereda. Baiklah, aku sudah bisa menguasai keadaan. Meski sepertinya remuk redam, tapi aku harus memilih jalan lagi di persimpangan ini.

Lihatlah, aku menuju jalan yang itu. Kamu lihat? Iya, aku ke sana. Aku pun tak tahu akan berakhir di mana jalannya. Aku hanya memilih seperti yang Tuhan minta. Jadi, aku bisa bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Jika suatu saat kamu mencariku, kamu sudah tahu arahnya. Kamu akan menemukan sedang apa aku di perjalanan yang kupilih hari ini. Jika kamu tak menemukanku, berarti hanya ada satu kemungkinan: perjalananku berakhir dan Tuhan sudah memintaku pulang. Aku sudah pulang.

Dan, di akhir perjalananku pun, doa yang senantiasa melangit untukmu tetap sama… Semoga kamu selalu berbahagia dengan skenario Tuhan.

(tulisan kesembilanpuluhsatu dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s