Bangsa Besar Ini Membuat Iri Bangsa Lain

Indonesia.

Apa kabar tempat lahirku? Apa kabar negara dengan kepulauan terbanyak dan kekayaan alam berlimpah? Apa kabar bangsa besar yang ditakuti dan disegani banyak negara kaya di luar sana?

Tuanku, saya lahir di saat dunia sedang ramai membincangkan Putri Diana dari Inggris. Bapak saya sangat kagum padanya. Beliau memiliki banyak harapan dengan menamakan saya sama seperti pujaannya.Termasuk, saya bisa bermanfaat bagi Indonesia, tempat moyangku berjuang melawan penjajahan dan memerdekakan diri.

Menjadi keturunan beberapa pejuang negeri ini justru membuat saya merasa memiliki beban sangat berat, Tuanku. Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan di tengah rongrongan dan gerogotan yang demikian menggila. Invansi negara lain saat ini bukan dalam bentuk serangan fisik dan senjata tepat di depan wajah. Dalam pikiranku, ini cukup mengerikan. Kita hidup di negara yang (seolah) sudah merdeka. Nyatanya bagi saya belum.

Indonesia ini bangsa besar, Tuanku. Kopi terbaik berasal dari sini. Rempah terbaik ternyata bersembunyi di pulau yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hasil bumi lainnya, hanya Indonesia yang punya. Tak heran, menjadi incaran para penguasa yang haus puja puji untuk dijual dengan harga sangat murah pada sesiapa saja yang mau. Mau? Tentu saja semua mau! Tetapi pemenangnya selalu negara yang memberi pilihan tongkat atau wortel.

Bangsa ini (pernah) memiliki harga diri sangat tinggi, Tuanku. Banyak bangsa lain yang berdecak kagum pada kekuatan armada laut Sriwijaya. Digdaya Majapahit menjadi legenda. Adakah kebanggaan yang tersisa saat ini, Tuan? Bagaimana aku bisa menceritakan kepada generasi penerus, apa yang pernah kita punya di negeri bak dongeng ini?

Andai saja, Tuanku, andai saja… Indonesia masih mau berbangga diri dengan aneka budaya yang sangat bernilai tinggi itu. Dari ujung Sabang hingga Merauke berbeda suku, bahasa, adat, dan hasil bumi. Berbekal kearifan lokal dan kepercayaan agama masing-masing penduduknya, kemegahan Indonesia di panggung dunia tentunya semakin berkilau.

Banyak budaya asing masuk ke Indonesia, Tuanku. Para penjaga negeri ini, Tuanku, yang harus memilih dan memilahnya dengan bijak. Tentu saja, arahan para pemimpin dan pemuka agama yang bijak menjadi pegangan para cendikia dan rakyat untuk menentukan sikap.

Andai saja, Tuanku… Keresahan yang ada dalam jiwa masing-masing penduduk negeri ini bisa tersalurkan terarah. Tak perlu ada pertumpahan darah dengan saudara sendiri. Betapa, benteng pertahanan terbaik datang dari pendidikan berbasis keluarga. Ibu yang cerdas dilengkapi dengan kebijakan Ayah, menghasilkan generasi harapan bangsa.

Saya sedang bermimpi sambil melakukan hal yang sudah seharusnya oleh warga negara yang baik… Bekerja. Demi apakah aku bekerja? Demi keluarga. Demi agama. Demi negera. Terlalu patriotik? Mungkin. Lebay? Bisa jadi. Karena saya tak mau negara saya diserbu pekerja dari luar negeri tanpa keterampilan dan kejelasan asal usul.

Siapalah saya ini, Tuanku. Hanya seorang rakyat yang suaranya bahkan tak mungkin diperhitungkan dengan kesungguhan hati. Mungkin hanya mereka yang memiliki harta berlimpah dan punya pengaruh kuat yang bisa menentukan nasib negara ini, meski mungkin mereka tak punya kredibilitas positif. Tetapi saya, harus tetap berpikir positif.

Saya hanya punya kewajiban membayar pajak dan membela negara. Tetapi, karena biaya kesehatan negara ini sangat mahal, maka saya termasuk warga yang tidak boleh sakit. Untuk itu, saya harus berjuang menjaga kesehatan. Kembali lagi pada hasil bumi Indonesia yang kaya raya, saya menggunakan rempah asli Indonesia untuk tetap sehat. Bagaimana cara agar seluruh rakyat Indonesia sejahtera, Tuanku? Minimal, sama sekali tak ada yang busung lapar atau malnutrisi? Jangan sampai gizi terbaik hanya untuk para penjilat negeri ini, Tuanku.

Saya rasa, cukup sekian surat yang berantakan ini, Tuanku. Saya mohon maaf atas segala kelancangan yang sudah tertulis di sini.

Terima kasih Tuanku. Engkaulah pemilik negeri elok yang dikagumi banyak orang. Negeri yang membuat pihak luar ingin sekali memiliki Nusantara dengan segala cara.

Terima kasih, Tuanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s