Cerita Kehidupan yang Jauh Tapi Dekat

Untuk kedua orangtuaku.

Untuk Mama.
Terima kasih sudah berjuang hingga akhir. Iya, berjuang untuk segalanya. Pendidikanku, keselamatanku, kesehatanku, dan kebahagiaanku. Meski aku tahu, aku tidak akan pernah menjadi anak kesayangan. Iya, aku mulai merajuk. Kesayangannya Mama tetaplah si bungsu yang lebih pintar, penurut, dan pendiam.

Pernah aku bertanya, selain karena perbedaan agama dengan kekasihmu dahulu, apa lagi yang membuatmu tak memperjuangkan cintamu? Karena aki sudah menitah demikan? Ya, perintah orangtua dan agama menjadi pembatas antara dirimu dan sang tentara Inggris itu. Jika saja dia mau menjadi mualaf, bukan aku yang akan menulis surat ini.

Terkadang aku iri pada kecantikan dan kecerdasanmu yang bisa memikat pria Inggris itu. Tetapi akhirnya aku tahu, karena kepatuhanmulah yang membuatmu demikian berharga dan membuat banyak pria terpesona.

Ketika akhirnya kau menikah dengan Bapak, takdir Allah menggariskannya demikian. Setelah kutahu proses kalian menikah, aku banyak belajar arti tunduk ikhlas dan membuatmu semakin kuat. Perempuan tangguh inilah yang membentukku sekarang.

Di akhir hidup, kaubisikkan kata dengan lirih, “Mama mau pulang.” Suara penuh permohonan kepadaku, yang engkau tahu aku sempat tak bisa merelakanmu.

Terima kasih atas segala cintamu, Ma.

Untuk Bapak.
Seumur hidupku, engkaulah satu cinta pertama dan satu-satunya. Engkau yang jarang ada untukku karena harus bekerja hingga ke luar negeri, membuatku merindu luar biasa. Engkau yang demikian kaku dan terkesan angkuh, menyembunyikan segala kebaikan yang banyak diingat orang lain.

Engkau yang memesona banyak perempuan di zamanmu, memilih menikahi Mama yang sama sekali tak tertarik menjadi istrimu. Ini kisah yang unik dan selalu membuatku tersenyum.

Menikah bukan untuk bahagia. Kalian mencontohkan tanpa banyak kata. Jauh sebelum aku memahaminya dari ustaz Salim A. Fillah, kalian berdua terlebih dahulu memperlihatkannya kepadaku. “Menikah itu untuk beribadah. Bukan yang lainnya. Segala yang Teteh lakukan bersama suami, nilainya ibadah. Berpegangan tangan, menggugurkan dosa dari sela jemari. Berpelukan, menyehatkan jiwa raga. Tertawa, mengeratkan dua hati meski tubuhnya berpisah jauh.” Aku tersenyum mendengar suara paraumu, Pak. Ya, seumur hidup kalian, hingga Mama kembali pada Allah lebih dulu, kalian berjuang dalam Long Distance Marriage.

Sejak menikah, kalian tak pernah serumah. Tak ada masalah. Memang tugas dan pekerjaan yang memisahkan. Itu sebabnya aku selalu merindukanmu, Pak. Engkau hanya punya seminggu sekali, bahkan tak jarang sebulan sekali. Ketika engkau dipanggil kembali, aku bahkan tak ada di sampingmu. Seumur hidupku, rasa rindu itu menghantui.

Meski jarang kita bertemu, meski aku tak bisa menjadi kebanggaanmu, meski aku selalu menyusahkanmu, meski berulang kali aku menyakitimu, mata penuh maaf itu menyiksaku… Betapa luar biasa kesabaranmu, Pak. Aku sangat mencintaimu.

Terima kasih atas segala kasihmu, Pak.

Untuk kalian berdua.
Aku tak akan pernah lagi menyesali apa yang telah terjadi. Aku bukan lagi anak kecil yang selalu bertanya mengapa. Kalian menjawab dengan tindakan, itulah yang membekas.

Kehidupan kalian sudah berbeda denganku. Tetapi kita akan selalu dekat dalam doa. Aku akan terus menyebut nama kalian… Sampai tiba waktuku kembali berkumpul bersama kalian lagi.

 

 

Bandung. 14:36 WIB, ketika gerimis memecah sunyi dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s