Aku yang Takut Mengucap Rindu

Kamu di mana?

Aku selalu menanyakan itu di linimasa. Bukan tanpa alasan. Bukan tanpa tujuan.

Bertahun-tahun aku menuliskan kalimat tanya sederhana itu. Setiap hari. Sehari sekali. Sejak awal, aku menanyakan hal yang sama, entah kepada siapa. Kemudian, suatu malam, kudapati kalimat itu ada dalam sebuah lagu. Cukup kaget ketika menyadari, kita bertanya dengan cara berbeda.

Mungkin, lagu itu tak akan bermakna apapun. Tak pernah ada tujuannya kepada seseorang yang entah siapa. Sama, twitku pun bukan untuk sesiapa.

Hingga akhirnya aku menyadari… It is not coincidence.

Aku hanya takut untuk menyapamu. Aku bahkan trauma dengan kata tudingan bernada sinis dengan pandangan melecehkan di tahun 2000, “Elu siapa?” ketika aku sekadar bertanya, “Dari mana sih lu? Gak ngasih tau.”

Nyesek? Iya. Dia tahu bagaimana perasaanku. Dia pun tahu perasaannya sendiri. Tetapi ketika pertanyaan itu terlontar tepat di saat kami hendak menyeberang ke arah kampus, aku baru sadar… Dia ternyata tak mencintaiku.

Padahal, kami satu kampus. Kami berbicara dan bertemu setiap hari, tentu saja. Bertengkar, tertawa, dan belajar bersama. Tetapi ya… Memang tak pernah seimbang. Dia hanya ada saat dia membutuhkanku. Alasannya? “Lu udah gede. Bisa lah semua dikerjain sendiri.” Dia bahkan gak paham maksudku. Aku diam. Hingga dia lulus terlebih dahulu. Hingga akhirnya ketika dia memberikan undangan pernikahan tiga tahun kemudian, dengan lugas aku berkata di hadapan wajahnya, “Elu emang dodol.” Dia paham maksudku. Kami tertawa. Tak ada lagi sakit hati. Hanya tersisa kelegaan. Kami memang tak ditakdirkan bersama.

Kembali padamu. Aku menyapa dan menanyakanmu, bukan hendak mengganggumu. Aku hanya takut berkata bahwa aku rindu. Aku trauma dengan rindu yang secara gamblang kukatakan padanya bertahun lampau, hanya mendapat balasan sinis demikian.

Maka aku hanya diam. Alih-alih merindumu, kudoakan segala yang terbaik untukmu. Aku lemah, karena berharap kamu membalas rinduku. Aku egois, karena ingin kamu berterus terang padaku. Maafkan aku.

Aku senantiasa mengingatkanmu untuk shalat. Tetapi aku tak ingin dianggap mengaturmu. Maka kuingatkan dengan riang di linimasa.

Kamu tahu, aku tak pernah alpa dalam merindumu.

(tulisan ke delapanpuluhsembilan dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s