Komunikasi Seperti Apa yang Kaumau?

Hai, kamu.

Iya, kamu. Seseorang yang kusimpan namanya di sudut hati dan senantiasa menghangatkan malam. Seseorang yang menyimpan bayangku dalam jiwanya.

Bagaimana kabarmu hari ini? Seperti biasa, kamu akan sibuk dengan semua aktivitas sehingga aku pun masih menyimpan dalam ingatan, kamu bilang “tak punya waktu untuk hal seperti itu”. Aku terdiam. Sebelumnya, kamu merasa seperti sedang dikejar oleh sebuah desakan yang dirasa mengganggumu. Sebenarnya, tidaklah demikian.

Kamu tahu, aku termasuk orang yang ekspresif. Orang bilang bawel, comel, berisik, atau apalah. Kamu pun tahu. Setiap kita bicara, aku memang nyaris mendominasi percakapan. Bukan karena ingin menguasai, tetapi karena perempuan memang lebih banyak berkata daripada pria. Tahu kan hasil penelitiannya? Ya, itu aku. Di setiap chat mana pun, kamu memang tipe one liner sementara aku sekali ketik bisa minimal 3 -4 kalimat singkat. Kamu jengkel? Tapi kan aku ngangenin.šŸ˜› Toh kamu sendiri yang bilang “gak papa, aku senang denger kamu ngomong.”

Aku memahami karaktermu yang plegmatis dan introvert. Kamu sangat pendiam. Kamu lebih suka menghabiskan waktu dengan musik, tulisan, dan buku. Sedikit orang, jika memungkinkan. Aku, kebalikan darimu.

Jadi, setiap aku menyapamu dengan segala ekspresi yang melekat padaku, ya itulah aku. Aku tahu kamu berbeda. Tak banyak kata, tetapi membaca semua tulisanku. Dalam hening, aku tahu kamu mengawasiku.

Aku minta maaf jika selama ini dirasa mengganggumu karena ramainya jemari dan mulutku. Tetapi sungguh, jika aku tak bersuara sehari saja, banyak yang merasa kehilangan aku. Hihihi…

Inilah cara kita berkomunikasi selama ini. Kamu dengan tenangmu, aku dengan segala ketergesaan. Lihatlah lebih jauh, tak ada yang memerhatikanmu lebih dariku. Ā Yang terbaik dariku selalu dalam bentuk doa. Aku juga yakin, Tuhan sudah bosan mendengar namamu dalam setiap sujud lirihku. Tetapi, Dia selalu memberi senyum pada hatiku. Menenangkanku dengan menunjukkan bahwa kamu baik-baik saja.

Beri tahu aku, kamu ingin kita bercakap seperti apa? Seperti temanku bilang, memelihara percakapan lebih dari sekadar rayuan dan omong kosong.

Katakan padaku, bagaimana cara menghangatkan hatimu setiap saat? Aku ingin selalu ada untukmu. Dalam ada dan tiadaku.

(tulisan ke delapanpuluhdelapan dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s