Aku, Pada Suatu Masa

Kembali kutuliskan surat untuk diriku sendiri.

Cuaca saat ini mendung. Tanpa bermaksud latah untuk galau, kegelisahan yang mengetuk jendela hatiku ini sudah sejak lama mengganggu.

Pikiranku melayang dan berakhir pada sebuah kalimat legendaris Kahlil Gibran.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Aku terpana sejak pertama membacanya. Saat aku SMP. Aku juga teringat pada ucapan Mama di suatu sore saat kami duduk berdua selepas menonton telenovela. Mama baru pulang kerja dan rehat di ruang keluarga bersamaku. Kemudian Mama bertanya tentang aktivitasku seharian di sekolah. “Biasa aja. Gak ada yang menarik hari ini,” jawabku malas.  Tetiba saja Mama bilang, “Kamu akan mengenang hari ini, puluhan tahun dari sekarang. Saat itu tiba, zaman sudah sangat berubah. Kamu gak bisa lagi bermanja. Hidup zaman sekarang sudah keras, Mama yakin, di zaman anakmu kelak, kondisinya lebih ngeri.”

Kupikir Mama terlalu drama. Efek nonton akting Esmeralda? Aku hanya tersenyum. Beliau melanjutkan, “Zaman Mama kecil dulu, pergi ke rumah teman izinnya bisa dua atau tiga hari sebelumnya. Padahal hanya bermain di rumah, bukan jalan ke mall seperti sekarang. Nah kamu? Kemarin malam pulang ke rumah hanya menaruh tas kemudian pergi lagi. Jelas saja Mama marah. Kamu minta izin atau pemberitahuan?” Aku menghela napas. Menunduk. Suara Mama tidak tinggi, tapi cukup menohok. Rupanya aku sedang kena strap.

“Teteh,” lanjut Mama setelah menikmati es sirop favoritnya, “Didiklah anakmu nanti dengan disiplin, pengawasan ketat, dan ajarkan anakmu untuk jujur. Disiplin itu dimulai dengan shalat tepat waktu. Kamu awasi anakmu bukan berarti 24 jam harus menempelkan mata di punggungnya. Selalu tanyakan ke mana dia pergi dan dengan siapa. Apa yang mereka lakukan. Anakmu harus berkata jujur untuk hal apapun. Mungkin Mama akan terlihat kolot di matamu. Mungkin nanti anakmu juga akan mengatakan neneknya ini kuno. Tetapi lihat sendiri bagaimana zaman akan menggerus kepribadian dengan mudahnya.”

Hening agak lama. Mama membiarkanku mencerna ucapannya. Anak SMP dijejali hal yang belum tergapai. Jauh sekali. Anak? Pacar aja gak punya. Aku diam. Dua puluh enam tahun kemudian, aku baru menyadari semua kalimat berat itu. Mama memang dikenal visioner. Ucapannya kadang didengar sebelah telinga karena dianggap gak biasa pada zamannya.

Maka inilah yang kulakukan pada anak-anakku. “Bunda galak ya? Bunda banyak larangan? Dengar semua yang Bunda katakan, maka kamu akan merasakannya sepuluh hingga tiga puluh tahun dari sekarang.” Hey, aku bicara pada anak usia tujuh dan sepuluh tahun! Jauh lebih muda dari saat Mama bicara padaku. Aku paranoid? Entah.

Tak ada sosok Ayah dalam kehidupan anak-anak membuatku harus bisa kreatif menjadi ibu sekaligus bapak mereka. Aku bukannya tutup mata dan telinga dengan kegelisahan mereka akibat omongan orang lain, “Ih, gak ada bapaknya!” Dulu, aku kecil juga tak merasakan kehadiran Bapak secara utuh. Pekerjaan beliau amat sangat menyita waktu. Andai aku bisa membeli waktunya untuk berdialog dari hati ke hati… Tetapi kini kedua anakku memang tak memiliki figur lelaki dewasa di rumah. Dan… Jungkir balik dua peran itu luar biasa, pemirsah!

Aku di masa lalu dan aku di masa sekarang sudah jauh berbeda. Entah sepuluh atau duapuluh tahun lagi. Tuhan sedang menginginkan kesendirianku tanpa pasangan. Mungkin, ini cara-Nya agar aku lebih dekat dengan-Nya. Dulu, aku tak pernah meminta Mama untuk tinggal di rumah dan tak bekerja di kantor. Aku hanya diam. Mama pernah bilang, beliau bekerja untuk sebuah alasan yang tak perlu diucapkan.

Kini aku paham maksudnya. Gak boleh manja, gak boleh cengeng, gak boleh menyerah. Jadilah perempuan tangguh. Jika kelak kamu harus hidup sendiri, kamu tak akan bingung. Cukup hanya kepada Tuhan saja menyerahkan segala sesuatunya. Termasuk nyawa. Mama hanya berhenti bekerja ketika Tuhan memanggilnya pulang. Mama ingin memperlihatkan kepadaku bahwa hidup hanya untuk mati. Bekerja, sebagai bentuk ibadah kepada-Nya, tak boleh dilakukan dengan cara curang dan jahat.

Tetiba, aku sangat merindukan Mama… dan kedua anakku. Zaman memang berubah dengan cepat.

Bandung, 13.10 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s