Mencintai Diri Sendiri Tanpa Beban

Akhir pekan.

Dulu sekali, ketika aku masih kecil, suka membuat surat yang ditujukan kepada diri sendiri. Melihat pantulan diri dan mencoba menjawab pertanyaan sendiri.

Awalnya aku bingung hendak menulis apa saat ini. Tetapi surat ini harus sampai kepada seseorang. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menghadiahi surat ini untukku sendiri.

Mengabaikan diri sendiri dengan dalih memerhatikan orang lain adalah bentuk sederhana menyakiti diri yang paling tidak disadari sesiapa pun. Termasuk aku. Sudah cukup sering aku mengindahkan alarm tubuh hanya karena merasa baik-baik saja. Fine in denial. For sure. Dan itu kerap terjadi. Aku anak sulung. Egoku sangat besar, kuat, sekaligus rapuh. Bertindak seolah everything’s gonna be okay ternyata memupuk rasa sakit bertahun kemudian.

Aku tak sepenuhnya baik-baik saja. Alih-alih mencintai diri sendiri dengan banyak makan dan belajar dengan giat demi masa depan, sejatinya aku sedang menolak untuk terus hidup. Saat SMP, seorang teman (entah becanda atau serius) akan menggores nadi lengan kiriku. Aku menantangnya. Jika bukan karena sahabatku melerai, mungkin aku seriusan mati saat itu. Bukan drama, tapi aku merasakan ancaman dalam sebatang silet di tangannya.

Aku penakut. Sejak peristiwa itu, mendadak aku selalu dihantui rasa aneh. Kecemasan berlebihan. Mama menilai aku aneh. Kami pergi ke psikolog. Tanpa pernah tahu apa hasilnya, Mama mulai berubah kepadaku. Bertahun kemudian, aku baru sadar memiliki disorder. Awalnya kupikir anxiety karena keseringan cemas berlebihan. Namun bipolar lebih mendekati karena beberapa hal.

Ketika akhirnya dalam pikiranku terlintas committing suicidal thought, Sean pernah bilang, “Sana mati deh! Emang gue peduli? Lah, elu aja gak peduli sama diri sendiri! Gue sih ogah capek mikirin elu!” Mungkin terlihat sadis. Tapi aku sadar Sean benar. Hanya aku. Hanya aku sendiri yang harusnya peduli pada diri sendiri.

Seseorang pernah menyebutkan sebuah kutipan bahwa manusia bisa hidup tanpa makan selama tujuh hari, tanpa air tiga hari, tapi tak akan bisa hidup meski sejam tanpa harapan. Harapan itu ada dalam diri sendiri. Bukan orang lain.

Persetan lah dengan semua kalimat motivasi yang berseliweran di internet atau aneka seminar jutaan rupiah itu. Terlintas sedikit saja pikiran merasa tak pantas dicintai, itu sudah penghinaan terhadap Tuhan. Well, setidaknya menurutku demikian. Bukankah Tuhan mencintaiku, makanya Dia menciptakanku untuk mencintai-Nya?

Masih ada sahabat dan dua orang pengawal ganteng yang mencintaiku tulus. Bagaimana aku bisa membalasnya? Cukup dengan mencintai diri sendiri. Mensyukuri segala kasih yang diberikan Tuhan. Menghargai setiap detik yang dilewati.

Bahkan, ada yang diam-diam mencintaiku tanpa pernah mengatakannya kepadaku. Aku bisa merasakannya. Aku tahu. Karena Tuhan memberitahukannya kepadaku.

Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kudustakan?

Bandung, 13.35 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s