Adik Kembar Beda Segalanya

Dear Vei,
Apa kabarmu hari ini?
Sudahkah lebih damai jiwamu? Usaikah semua tarianmu di bawah hujan deras yang sempat membuatmu meriang dan meradang itu? Bagaimana kini? Semoga sudah terbit pelangi di langit Bekasi.

Kini, menemanimu tak lagi bisa semudah saat aku masih hanya berjarak 50 kilometer. Hanya bait-bait doa dan bisik asa terbaik kepada-Nya yang bisa terkirim setiap hari. Minimal lima kali.

Kamu, sudah seperti adik kembar yang bedanya seperti Lembang dan Ciwidey. kebangetan gak sih analoginya? Meski banyak perbedaan yang mencolok, namun iraha yang kita mainkan menghasilkan harmoni. Hal yang tak habis kusyukuri.

Pun… Ada berjuta asa. Untuk Air, gadis cerdas berpipi gembil nan menggemaskan, semoga berkah senantiasa menyelimuti.

Terima kasih untuk semua yang pernah kamu berikan kepadaku dan dua jagoan kecilku. Kami tak mampu membalas, tetapi akan berusaha meneruskan kebaikanmu pada orang lain.

Kerinduan dua jagoan padamu dan Air seolah tak pernah terpuaskan. “Kapan kita ketemu Tante Vei lagi? Aku mau main dengan Kak Air.” Desakan itu lebih dari keinginan mereka pergi ke mana pun. Bisa kau jawab mengapa, Vei?

Aku bisa menulis apa lagi dalam surat sederhana ini? Jika kutulis di atas kertas, rasanya akan basah hingga robek sebelum bisa diposkan.

Lebih baik kuakhiri sebelum rindu ini tumpah lagi. Semoga kalian senantiasa dalam limpahan rahmat-Nya.

Salam sayang dari kaki Gunung Manglayang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s