Makna “Dalam Suka dan Duka” Pada Sebuah Janji

Lelakiku™,

Apa kabar kamu hari ini? Doa yang sama selalu melangit tak kenal henti. Kurasa, Tuhan sudah hapal bentuknya hingga Dia tahu bagaimana nada, intonasi, dan susunan aksara yang tersusun di dalamnya.

Beberapa jam terakhir (atau mungkin terlalu hiperbolis jika kutulis 72 jam terakhir) aku merasa ada yang tidak biasa pada dirimu. Tetapi, alih-alih aku bertanya ada apa, kutawarkan kehadiranku kapan pun kamu membutuhkan.

Kamu pun tahu tanpa perlu kubisikkan, aku selalu ada untukmu. Meski jarak itu lebih dari enam ratus kilometer terbentang, tak ada yang lebih jauh dari dua hati yang saling mengabaikan.

Dua jiwa yang disatukan Tuhan, bersumpah untuk saling menguatkan di saat terburuk dan saling mendukung di saat terbaik.

Jika di saat bahagia, segalanya tampak indah dan semanis gulali, tentunya harus bersiap jika badai mengintai. Sama seperti samudera yang tak melulu terlihat tenang, demikian hati yang tak terlihat kedalamannya. Bahkan, di atas bentangan laut tanpa ombak, bukan berarti tanpa ancaman. Terkadang, hal itu berawal dari dalam diri sendiri. Sedikit saja terbersit keraguan, pikiran bisa meracau hingga mungkin menyerah menjadi jalan pintas.

Kamu pernah memintaku untuk tidak pernah menyerah. Kamu meminta aku bersabar dan kalau perlu, mengejarmu. Aku tertawa kecil saat itu. Mengejarmu? Maukah kamu kukejar? Aku mendadak ingat sebuah buku masa remaja dengan tokoh cowok berjambul penyuka permen karet.

sudjiwo tejo - puncak kangen -an

Saat ini, mungkin definisi “mendung” bisa menjadi kiasan yang tepat. Kamu menemui kebuntuan dalam produktivitas. Aku pun merasa jengkel dengan diriku karena tak bisa menulis dengan baik dalam seminggu terakhir.

Tetapi doa-doa baik tetap harus terlantun lirih agar pikiran dan hati senantiasa terjaga. Kamu menenggelamkan diri dengan tumpukan buku, aku mengalihkan kemandegan diri dengan menikmati film bertema thriller atau slasher.  Ya, kita memang dua pribadi bertolak belakang yang saling merindukan.

Kuanggap saat ini sebagai latihan untuk sebuah masa depan. Karena sebuah kapal berlayar adalah untuk menghadapi badai seganas apapun, maka duka sepedih apapun semoga dikuatkan. Hingga kelak ketika tiba pengucapan janji di hadapan Tuhan, dengan penuh kemantapan akan menjawab, “Ya, saya bersedia.”

(tulisan kedelapanpuluhenam dari beberapa tulisan)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s