Untuk Kita yang Tak Lagi Muda

Untuk kamu di sela jam kerja, atau saat santai dengan setumpuk buku bacaan, atau bersenandung dalam hening.

Surat ini hendak kukirimkan melalui surel. Tetapi aku tahu, tanpa harus begitu, kamu tahu apa yang ada dalam hati dan pikiranku.

Aku sedang tersenyum melihat sebuah foto. Wajahmu tampak damai dan tanpa beban. Senyum yang ringan dengan aura bahagia tak terperi. Orang lain mungkin tak akan menyadarinya. Namun aku, melihat berjuta cahaya terpancar dari matamu.

Aku di sini, ratusan kilometer darimu. Rinduku masih utuh ketika jarak belum juga bisa terlipat. Karena aku percaya. Aku akan tetap di sini.

Aku memikirkan sesuatu sepanjang akhir pekan di akhir bulan Januari. Kemarin, aku membayangkan beberapa hal kontradiktif yang mengusik. Tentang kematian. Tentang janji Tuhan. Tentang betapa singkatnya hidup di dunia hanya untuk mati.

Aku membayangkan kita. Menyadari usia kita berdua tak lagi ada di dasawarsa duapuluhan, membuatku tercekat. Betapa waktu semakin pendek dan jatah hidup yang semakin berkurang.

Lalu… Kapan waktu kita untuk bisa merasakan bahagia di dunia ini berdua, meski hanya sementara?

Adakah kita memang ditakdirkan demikian? Menunggu skenario lanjutan dari Tuhan, hendak menjadi apa drama kehidupan kita?

Kita, dua pemeran dalam sepotong episode yang Tuhan buat sebelum kita lahir. Jantungku berdegup kencang setiap kali menebak ke mana arah kisah ini mengalir?

Aku menanti. Meski Sang Sutradara memiliki hak prerogatif dalam mengatur jalan cerita agar bisa berakhir indah, kita pun memiliki hak bicara. “Tuhan, izinkan kami…” “Tuhan, bolehkah kami…” Dia pasti akan menoleh dan mendengarkan doa lirih kita.

Dikabulkan langsung? Untuk kasus kita, sepertinya tidak. Buktinya aku masih ada di sini setelah lima tahun menantimu pulang. Namun Tuhan, kuyakin sepenuh jiwa, akan membuat kejutan manis untuk kita berdua.

Aku percaya kepada-Nya. Untuk sepotong episode terakhir. Untuk kita berdua.

(tulisan kedelapanpuluhlima dari beberapa tulisan)

PS: Aku menunggumu bersama hujan yang belum mau menyerah.

2 thoughts on “Untuk Kita yang Tak Lagi Muda”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s