Aku Merasa Sembuh. Ini Cukup Bagiku

Cukup melelahkan bagiku untuk bisa berjuang berulang kali meyakinkan diri sendiri bahwa aku bisa melewati semuanya.

Aku baik-baik saja. Setidaknya itu yang selalu kutanamkan dalam pikiranku agar gelojak mood swing tak terlalu sering menghantam dan memporakporandakan aktivitasku.

Semua menjadi lebih buruk ketika aku harus berurusan dengan seorang pria yang mendekat hanya untuk main-main. Mungkin aku terlalu over excited, merasa senang diperhatikan, dan siap untuk lepas dari trauma. Tetapi yang kuterima adalah perlakuan intimidasi. Semua pria itu pergi setelah mereka pikir aku tak pantas untuk mereka, terlebih setelah tahu bahwa aku mengidap bipolar. Sakit jiwa, sederhananya demikian.

Cukup dengan melecehkanku, menjauh dariku, dan menganggap tak pernah kenal aku… Mungkin karena salahku juga berharap bahagia setelah terluka parah.

Hingga aku terbiasa dengan sepi, mengganggap angin lalu semua senyum pria yang terekam mataku. Aku tak mau terjatuh lagi. Mengerti bahwa semua ini hanya skenario-Nya yang harus kulakoni.

Di saat aku lelah menunggu dalam sepi, seseorang datang. Mengajakku berbincang berjam-jam dan tetap menanggapi ocehan bawelku meski hanya satu dua kata.

“Aku punya bipolar. Kamu tetap mau ngobrol denganku?” Itu pertanyaan pertama yang kuajukan. “Kamu siap dengan emosiku yang bisa berubah setiap saat tanpa kendali? Semenit nangis, langsung bisa marah atau tertawa bahkan untuk alasan yang tak pernah ada. Bisa?”

Dia tak menjawabnya secara verbal. Tapi dia tetap ada, menertawakan celotehku, dan menikmati permintaanku yang tak ada habisnya.

Aku merasa sembuh karena dia memerhatikanku. Menenangkanku dengan caranya yang khas.

Aku baru sadar, dua hari terakhir, emosiku campur aduk hingga sakit kepala. Setelah memasrahkan segalanya kepada Allah, aku mencoba mengalihkan panic attack yang melelahkan itu dengan becanda. Dia ada untukku. Entah, dia tahu atau tidak kondisi kalutku. Mungkin dia bisa membaca semua kalimatku yang tak berstruktur.

Aku belum pernah begini. Tenang saat ada masalah. Biasanya aku sudah marah, menangis, sekaligus sesak napas di saat yang sama. Kemudian tertawa hingga napas tersengal.

Terima kasih, #kamu. Entah postingan ini dibaca atau tidak, tapi kuyakin kamu tahu apa yang ada dalam hati dan pikiranku.

Pulanglah, aku rindu.

(tulisan kedelapanpuluhsatu dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s