Salahkah Menuntut Hak Setelah Menjalankan Kewajiban?

Hal klasik sepanjang usia manusia. Menuntut. Wajar? Iya. Apalagi setelah semua kewajiban telah dilaksanakan. Itu pun terkadang tak sempurna dan masih dikoreksi karena dianggap tak sesuai yang diperintahkan.

Nasib buruh (level tukang batu yang mendapat upah harian hingga kelas eksekutif berbonus puluhan juta) selama masih diperintahkan untuk bekerja sesuai aturan perusahaan ya memang demikian. Bekerja harus tertib, cermat, rapi, dan tepat waktu. Semua pekerjaan harus selesai sesuai keinginan pimpinan meski mungkin tak sesuai dengan kondisi lapangan. Sering kali terjadi.

Sudah terlalu sering juga kita membaca berita tentang protes atau demo kaum buruh karena haknya dirusak, diabaikan, dan bahkan dianggap tak ada. Gak usah hak mewah, gaji diberikan tepat waktu saja sudah cukup bagi karyawan bisa menghargai niat baik pengusaha setelah kewajiban mereka laksanakan.

Saatnya mengecek hal berikut ini:

UU No.. 13 / Th. 2003

Pasal 95 ayat 2: Pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan denda sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja / buruh.

Pasal 169 ayat 1 butir c: Pekerja/buruh dapat mengajukan permuhonan pemutusan hubungan kerja kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial dalam hal pengusaha melakukan perbuatan tidak membayar upah tepat waktu yang telah ditentukan selama 3(tiga) bulan berturut-turut/lebih.

Pasal 169 ayat 1 butir e: Pekerja/buruh dapat mengajukan permohonan pemutusan hubungan kerja kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial dalam hal pengusaha melakukan perbuatan memerintahkan pekerja / buruh untuk melaksanakan pekerjaan di luar yang diperjanjikan.

Cukuplah tiga contoh pasal yang menurutku bisa mewakili gelisah. *halah# Anggaplah pasal tersebut tidak cukup untuk membuat karyawan menuntut. Mungkin karena aku juga buta hukum Indonesia sehingga tak paham bahwa pasal di atas tak bisa dijadikan payung hukum hak atas apa yang bisa diperjuangkan oleh teman-temanku.

Tetapi sudah waktunya bagi teman-temanku yang curhat menentukan sikap. Rezeki Allah maha luas. Jadikan pelajaran. Perusahaan macam apa yang hanya fokus pada kemauannya sendiri tanpa memerhatikan kewajibannya? Toh perusahaan tak akan bisa menjalankan operasinya tanpa bantuan dari karyawan. Logis?

Ada pendapat lain? Bagikan di kolom komentar. Aku mohon pencerahan dari yang paham kondisi semacam ini. Terima kasihšŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s