Aku Tak Bisa Hidup Tanpamu

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka belum diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah sungguh-sungguh mengetahui siapa orang-orang yang benar (dalam keimanannya) dan benar-benar mengetahui siapa orang-orang yang dusta.” (‘Al-Ankabut: 2-3)

Ujian dan cobaan yang menghampiri hamba beragam macam dan bentuknya, bisa berupa kekurangan harta, hilangnya jiwa, kelaparan, dan sebagainya. Allah berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Tulisan kali ini, bukan bermaksud untuk menyudutkan orang-orang yang pernah berduka atau saat ini sedang berduka. Aku pernah merasakannya dan mungkin akan berulang kali merasakannya sebelum saatku tiba nanti.

Begini, kita mulai dengan sebuah fragmen singkat tentang kematian seorang pria tua yang meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Teriakannya berulang kali dalam kesedihan yang tak tertahankan kurang lebih begini, “Papa! Papa kenapa tinggalin Mama sendirian begini? Papa! Mama nggak sanggup hidup begini. Mama nggak kuat! Papa tega!”

Pernah mendengar ratapan seperti itu?

Oke. Rasulullah tidak melarang kita bersedih saat ditinggal orang yang kita sayang, kok.

Bersedih ketika ditinggal mati seseorang dibolehkan dalam Islam karena bersedih adalah perasaan manusiawi. Tauladan ummat Islam Rasulallah shallallahu alaihi wasallam pun pernah bersedih ketika ditinggal wafat putranya Ibrahim dan juga putrinya, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

“Sesungguhnya mata akan meneteskan air dan hati akan bersedih. (Akan tetapi) kami tidak akan mengatakan kecuali apa yang akan diridhai Rabb kami dan sesungguhnya kami sungguh sangat sedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.” (HR. al-Bukhari)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas radhiallahu anhu bahwa ia berkata: Aku menyaksikan putri Rasulallah shallallahu alaihi wasallam dimakamkan dan Rasulallah shallallahu alahi wasallam duduk di atas kubur, dan aku melihat kedua matanya meneteskan air mata.”  (HR. al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukan bahwa bersedih atas meninggalnya seseorang diperbolehkan. Sayyid Sabiq rahimahullah dalam fiqh sunnah berkata, “Para ulama sepakat, dibolehkan menangisi mayit jika tidak disertai teriakan dan ratapan.”

Tetapi, Rasulullah melarang hal yang berlebihan.

Mengomentari dua hadits yang seakan-akan bertentangan yaitu hadits tentang dilarangnya wanita meratapi mayat dan hadits bersedihnya Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka Muhammad ibn Isma’il al-Shan’ani rahimahullah berkata, “Yang dilarang adalah dengan mengeraskan suara atau berteriak, atau larangan itu dikhususkan untuk perempuan karena tangisannya berbentuk ratapan. Jadi, larangan larangan perempuan untuk menangis adalah sebagai tindakan pencegahan.” (Subulus Salam, I/886)

Berikut adalah dalil diharamkannya meratapi orang yang meninggal:

رَوَي مُسْلِمٌ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِى النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

Muslim merwayatkan dari Abu Hurairoh radhiallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, “Dua hal yang ada pada manusia dan keduanya menyebabkan mereka kafir: mengingkari keturunan dan meratapi kematian.” (HR. Muslim)

رَوَي مُسْلِمٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Muslim meriwayatkan dari Abdulloh radhiallahu anhu ia berkata bahwaRasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, “Bukanlah dari golongan kami orang yang menampari pipi (ketika ditimpa kematian), merobek pakaian dan yang mengeluh serta meratapi seperti kebiasaan jahiliah.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukan bahwa meratapi kematian merupakan perbuatan yang diharamkan. Meratapi mayit termasuk perbuatan orang-orang kafir, akhlak orang-orang jahiliyyah sebelum Islam, termasuk perbuatan kufur nikmat dan bisa menyebabkan kepada kekafiran. Muhammad ibn Isma’il al-Shan’ani rahimahullahberkata, “Meratapi mayat adalah menangis dengan mengeraskan suara sambil menyebutkan sifat dan keadaan mayat serta perbuatan dan jasa-jasa baiknya. Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya yang demikian, dan ini disepakati ulama” (Subulus Salam, 1/880)

Jadi, yang wajar sajalah. Alih-alih meratap berlebihan, doakan pasangan yang mendahului kita agar selamat dari siksa kubur. CMIIW.

*bahan rujukan: Mimbar Hadist, Asysyariah

Semoga bermanfaat😉

2 thoughts on “Aku Tak Bisa Hidup Tanpamu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s