Siapa Saja Mahram Kamu?

Jika masih ada yang bingung atau belum tahu tentang mahram, sila baca di bawah ini๐Ÿ™‚ Semoga bermanfaat๐Ÿ˜‰

A. Sumber –> Konsultasi Syariah

Pertama kami ingatkan, bahwa penggunaan istilah yang benar adalah mahram bukan muhrim. Karena muhrim artinya orang yang melakukan ihram, baik untuk umrah atau haji. Sedangkan mahram, Imam an-Nawawi memberi batasan dalam sebuah definisi berikut,

ูƒู„ ู…ู† ุญุฑู… ู†ูƒุงุญู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฃุจูŠุฏ ุจุณุจุจ ู…ุจุงุญ ู„ุญุฑู…ุชู‡ุง

Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram. (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 9:105)

Kemudian beliau memberikan keterangan untuk definisi yang beliau sampaikan:

  1. Haram untuk dinikahi selamanya : Artinya ada wanita yang haram dinikahi, namun tidak selamanya. Seperti adik istri atau bibi istri. Mereka tidak boleh dinikahi, tetapi tidak selamanya. Karena jika istri meninggal atau dicerai, suami boleh menikahi adiknya atau bibinya.
  2. Disebabkan sesuatu yang mubah : Artinya ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya dengan sebab yang tidak mubah. Seperti ibu wanita yang pernah disetubuhi karena dikira istrinya, atau karena pernikahan syubhat. Ibu wanita ini haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan mahram. Karena menyetubuhi wanita yang bukan istrinya, karena ketidaktahuan bukanlah perbuatan yang mubah.
  3. Karena statusnya yang haram : Karena ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan karena statusnya yang haram tetapi sebagai hukuman. Misalnya, wanita yang melakukan mulaโ€™anah dengan suaminya. Setelah saling melaknat diri sendiri karena masalah tuduhan selingkuh, selanjutnya pasangan suami-istri ini dipisahkan selamanya. Meskipun keduanya tidak boleh nikah lagi, namun lelaki mantan suaminya bukanlah mahram bagi si wanita.

Adapun wanita yang tidak boleh dinikahi karena selamanya ada 11 orang ditambah karena faktor persusuan. Tujuh diantaranya, menjadi mahram karena hubungan nasab, dan empat sisanya menjadi mahram karena hubungan pernikahan.

Pertama, tujuh wanita yang tidak boleh dinikahi karena hubungan nasab:

  1. Ibu, nenek, buyut perempuan dan seterusnya ke atas.
  2. Anak perempuan, cucu perempuan, dan seterusnya ke bawah.
  3. Saudara perempuan, baik saudari kandung, sebapak, atau seibu.
  4. Keponakan perempuan dari saudara perempuan dan keturunannya ke bawah.
  5. Keponakan perempuan dari saudara laki-laki dan keturunannya ke bawah.
  6. Bibi dari jalur bapak (โ€˜ammaat).
  7. Bibi dari jalur ibu (Khalaat).

Kedua, empat wanita yang tidak boleh dinikahi karena hubungan pernikahan:

  1. Ibu istri (ibu mertua), nenek istri dan seterusnya ke atas, meskipun hanya dengan akad
  2. Anak perempuan istri (anak tiri), jika si lelaki telah melakukan hubungan dengan ibunya
  3. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek (nenek tiri), dan seterusnya ke atas
  4. Istri anak (menantu perempuan), istri cucu, dan seterusnya kebawah.

Demikian pula karena sebab persusuan, bisa menjadikan mahram sebagaimana nasab. (Taisirul โ€˜Alam, Syarh Umdatul Ahkam, hal. 569)

Catatan:

Pertama, saudara ipar apakah mahram (muhrim):

Saudara ipar bukan termasuk mahram. bahkan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengingatkan agar berhati-hati dalam melakukan pergaunlan bersama ipar. Dalilnya: Ada seorang sahabat yang bertanya, โ€œYa Rasulullah, bagaimana hukum kakak ipar?โ€
Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œSaudara ipar adalah kematian.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud hadis: Interaksi dengan kakak ipar bisa menjadi sebab timbulnya maksiat dan kehancuran. Karena orang bermudah-mudah untuk bebas bergaul dengan iparnya, tanpa ada pengingkaran dari orang lain. Sehingga interaksinya lebih membahayakan daripada berinteraksi dengan orang lain yang tidak memiliki hubungan keluarga. Kondisi semacam ini akan memudahkan mereka untuk terjerumus ke dalam zina.

Kedua, Sepupu bukan mahram

Karena itu, dalam islam kita dibolehkan menikahi sepupu. Keterangan selengkapnya ada di:ย www.konsultasisyariah.com/menikah-dengan-sepupu

Ketiga, istri paman atau suami bibi, bukan mahram.

Misal: Adi punya paman (Rudi), istri Rudi bukan mahram bagi Adi. Atau ย Wati punya bibi (Ida), suami Ida bukan mahram bagi Wati.

Allahu aโ€™lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

=-=-=-=-=-

B. Sumber —> muslim.or.id

Yang dimaksud mahrom[1] adalah wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki. Mengenai mahrom ini telah disebutkan dalam firman Allah Taโ€™ala,

ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู†ู’ูƒูุญููˆุง ู…ูŽุง ู†ูŽูƒูŽุญูŽ ุขูŽุจูŽุงุคููƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ุณูŽู„ูŽููŽ ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ููŽุงุญูุดูŽุฉู‹ ูˆูŽู…ูŽู‚ู’ุชู‹ุง ูˆูŽุณูŽุงุกูŽ ุณูŽุจููŠู„ู‹ุง (22) ุญูุฑูู‘ู…ูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฃูู…ูŽู‘ู‡ูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽูˆูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุนูŽู…ูŽู‘ุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุฎูŽุงู„ูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูŽุฎู ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูุฎู’ุชู ูˆูŽุฃูู…ูŽู‘ู‡ูŽุงุชููƒูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ุงุชููŠ ุฃูŽุฑู’ุถูŽุนู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽูˆูŽุงุชููƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุถูŽุงุนูŽุฉู ูˆูŽุฃูู…ูŽู‘ู‡ูŽุงุชู ู†ูุณูŽุงุฆููƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุจูŽุงุฆูุจููƒูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ุงุชููŠ ูููŠ ุญูุฌููˆุฑููƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ู†ูุณูŽุงุฆููƒูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ุงุชููŠ ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ูู†ูŽู‘ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒููˆู†ููˆุง ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ูู†ูŽู‘ ููŽู„ูŽุง ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุญูŽู„ูŽุงุฆูู„ู ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุฆููƒูู…ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ู„ูŽุงุจููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌู’ู…ูŽุนููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูุฎู’ุชูŽูŠู’ู†ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ุณูŽู„ูŽููŽ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุบูŽูููˆุฑู‹ุง ุฑูŽุญููŠู…ู‹ุง (23) ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญู’ุตูŽู†ูŽุงุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ููƒูู…ู’ ูƒูุชูŽุงุจูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูุญูู„ูŽู‘ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุงุกูŽ ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุจู’ุชูŽุบููˆุง ุจูุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ููƒูู…ู’ ู…ูุญู’ุตูู†ููŠู†ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูุณูŽุงููุญููŠู†ูŽ

โ€œDan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.โ€ (QS. An Nisaโ€™: 22-24)

Mahrom di sini terbagi menjadi dua macam: [1] Mahrom muabbad, artinya tidak boleh dinikahi selamanya; dan [2] Mahrom muaqqot, artinya tidak boleh dinikahi pada kondisi tertentu saja dan jika kondisi ini hilang maka menjadi halal. Berikut kami rinci secara ringkas.

Mahrom Muabbad

Mahrom muabbad dibagi menjadi tiga: [1] Karena nasab, [2] Karena ikatan perkawinan (mushoharoh), [3] Karena persusuan (rodhoโ€™ah).

[1] Mahrom muabbad karena nasab ada tujuh wanita:

Pertama: Ibu.

Yang termasuk di sini adalah ibu kandungnya, ibu dari ayahnya, dan neneknya (dari jalan laki-laki atau perempuan) ke atas.

Kedua: Anak perempuan.

Yang termasuk di sini adalah anak perempuannya, cucu perempuannya dan terus ke bawah.

Ketiga: Saudara perempuan.

Keempat: Bibi dari jalur ayah (โ€˜ammaat)

Yang dimaksud di sini adalah saudara perempuan dari ayahnya ke atas. Termasuk di dalamnya adalah bibi dari ayahnya atau bibi dari ibunya.

Kelima: Bibi dari jalur ibu (khollaat)

Yang dimaksud di sini adalah saudara perempuan dari ibu ke atas. Termasuk di dalamnya adalah saudara perempuan dari ibu ayahnya.

Keenam dan ketujuh: Anak perempuan dari saudara laki-laki dan saudara perempuan (keponakan).

Yang dimaksud di sini adalah anak perempuan dari saudara laki-laki atau saudara perempuannya, dan ini terus ke bawah.

[2] Mahrom muabbad karena ikatan perkawinan (mushoroโ€™ah) ada empat wanita:

Pertama: Istri dari ayah.

Kedua: Ibu dari istri (ibu mertua). Ibu mertua ini menjadi mahrom selamanya (muabbad) dengan hanya sekedar akad nikah dengan anaknya (tanpa mesti anaknya disetubuhi), menurut mayoritas ulama. Yang termasuk di dalamnya adalah ibu dari ibu mertua dan ibu dari ayah mertua.

Ketiga: Anak perempuan dari istri (robibah). Ia bisa jadi mahrom dengan syarat si laki-laki telah menyetubuhi ibunya. Jika hanya sekedar akad dengan ibunya namun belum sempat disetubuhi, maka boleh menikahi anak perempuannya tadi. Yang termasuk mahrom juga adalah anak perempuan dari anak perempuan dari istri dan anak perempuan dari anak laki-laki dari istri.

Keempat: Istri dari anak laki-laki (menantu). Yang termasuk mahrom juga adalah istri dari anak persusuan.

[3] Mahrom muabbad karena persusuan (rodhoโ€™ah):

  1. Wanita yang menyusui dan ibunya.
  2. Anak perempuan dari wanita yang menyusui (saudara persusuan).
  3. Saudara perempuan dari wanita yang menyusui (bibi persusuan).
  4. Anak perempuan dari anak perempuan dari wanita yang menysusui (anak dari saudara persusuan).
  5. Ibu dari suami dari wanita yang menyusui.
  6. Saudara perempuan dari suami dari wanita yang menyusui.
  7. Anak perempuan dari anak laki-laki dari wanita yang menyusui (anak dari saudara persusuan).
  8. Anak perempuan dari suami dari wanita yang menyusui.
  9. Istri lain dari suami dari wanita yang menyesui.

Adapun jumlah persusuan yang menyebabkan mahrom adalah lima persusuan atau lebih. Inilah pendapat Imam Asy Syafiโ€™i, pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, Ibnu Hazm, Athoโ€™ dan Thowus. Pendapat ini juga adalah pendapat Aisyah, Ibnu Masโ€™ud dan Ibnu Zubair.

 

Mahrom Muaqqot

Artinya, mahrom (dilarang dinikahi) yang sifatnya sementara. Wanita yang tidak boleh dinikahi sementara waktu ada delapan.

Pertama: Saudara perempuan dari istri (ipar).

Tidak boleh bagi seorang pria untuk menikahi saudara perempuan dari istrinya dalam satu waktu berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun jika istrinya meninggal dunia atau ditalak oleh si suami, maka setelah itu ia boleh menikahi saudara perempuan dari istrinya tadi.

Kedua: Bibi (dari jalur ayah atau ibu) dari istri.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ุชูู†ู’ูƒูŽุญู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู…ูŽู‘ุชูู‡ูŽุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽุงู„ูŽุชูู‡ูŽุง

โ€œTidak boleh seorang wanita dimadu dengan bibi (dari ayah atau ibu) -nya.โ€ (HR. Muslim no. 1408)

Namun jika istri telah dicerai atau meninggal dunia, maka laki-laki tersebut boleh menikahi bibinya.

Ketiga: Istri yang telah bersuami dan istri orang kafir jika ia masuk Islam.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญู’ุตูŽู†ูŽุงุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ููƒูู…ู’

โ€œDan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.โ€ (QS. An Nisaโ€™: 24)

Jika seorang wanita masuk Islam dan suaminya masih kafir (ahli kitab atau agama lainnya), maka keislaman wanita tersebut membuat ia langsung terpisah dengan suaminya yang kafir. Hal ini berdasarkan firman Allah Taโ€™ala,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุฅูุฐูŽุง ุฌูŽุงุกูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ู…ูู‡ูŽุงุฌูุฑูŽุงุชู ููŽุงู…ู’ุชูŽุญูู†ููˆู‡ูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูุฅููŠู…ูŽุงู†ูู‡ูู†ูŽู‘ ููŽุฅูู†ู’ ุนูŽู„ูู…ู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฑู’ุฌูุนููˆู‡ูู†ูŽู‘ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูููŽู‘ุงุฑู ู„ูŽุง ู‡ูู†ูŽู‘ ุญูู„ูŒู‘ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุญูู„ูู‘ูˆู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู†ูŽู‘ ูˆูŽุขูŽุชููˆู‡ูู…ู’ ู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ููŽู‚ููˆุง ูˆูŽู„ูŽุง ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽู†ู’ูƒูุญููˆู‡ูู†ูŽู‘ ุฅูุฐูŽุง ุขูŽุชูŽูŠู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูุฌููˆุฑูŽู‡ูู†ูŽู‘

โ€œHai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya.โ€ (QS. Al Mumtahanah: 10)

Keempat: Wanita yang telah ditalak tiga, maka ia tidak boleh dinikahi oleh suaminya yang dulu sampai ia menjadi istri dari laki-laki lain.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ููŽุฅูู†ู’ ุทูŽู„ูŽู‘ู‚ูŽู‡ูŽุง ููŽู„ูŽุง ุชูŽุญูู„ูู‘ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽู†ู’ูƒูุญูŽ ุฒูŽูˆู’ุฌู‹ุง ุบูŽูŠู’ุฑูŽู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุทูŽู„ูŽู‘ู‚ูŽู‡ูŽุง ููŽู„ูŽุง ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽุฑูŽุงุฌูŽุนูŽุง ุฅูู†ู’ ุธูŽู†ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ููŠู…ูŽุง ุญูุฏููˆุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู

โ€œKemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.โ€ (QS. Al Baqarah: 230)

Kelima: Wanita musyrik sampai ia masuk Islam.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู†ู’ูƒูุญููˆุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒูŽุงุชู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูุคู’ู…ูู†ูŽู‘ ูˆูŽู„ูŽุฃูŽู…ูŽุฉูŒ ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุฉูŒ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ู…ูุดู’ุฑููƒูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุฃูŽุนู’ุฌูŽุจูŽุชู’ูƒูู…ู’

โ€œDan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.โ€ (QS. Al Baqarah: 221)

Yang dikecualikan di sini adalah seorang laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab. Ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Taโ€™ala,

ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃูุญูู„ูŽู‘ ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ุทูŽู‘ูŠูู‘ุจูŽุงุชู ูˆูŽุทูŽุนูŽุงู…ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ุญูู„ูŒู‘ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุทูŽุนูŽุงู…ููƒูู…ู’ ุญูู„ูŒู‘ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญู’ุตูŽู†ูŽุงุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญู’ุตูŽู†ูŽุงุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูู…ู’ ุฅูุฐูŽุง ุขูŽุชูŽูŠู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูุฌููˆุฑูŽู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูุญู’ุตูู†ููŠู†ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูุณูŽุงููุญููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูุชูŽู‘ุฎูุฐููŠ ุฃูŽุฎู’ุฏูŽุงู†ู

โ€œPada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.โ€ (QS. Al Maidah: 5)

Adapun wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki ahli kitab atau laki-laki kafir. Hal ini berdasarkan firman Allah Taโ€™ala,

ููŽุฅูู†ู’ ุนูŽู„ูู…ู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฑู’ุฌูุนููˆู‡ูู†ูŽู‘ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูููŽู‘ุงุฑู ู„ูŽุง ู‡ูู†ูŽู‘ ุญูู„ูŒู‘ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุญูู„ูู‘ูˆู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู†ูŽู‘

โ€œMaka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.โ€ (QS. Al Mumtahanah: 10)

Keenam: Wanita pezina sampai ia bertaubat dan melakukan istibroโ€™ (pembuktian kosongnya rahim).

Tidak boleh menikahi wanita pezina kecuali jika terpenuhi dua syarat:

(a) Wanita tersebut bertaubat.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ุงู„ุฒูŽู‘ุงู†ููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ูƒูุญู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฒูŽุงู†ููŠูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ู…ูุดู’ุฑููƒูŽุฉู‹ ูˆูŽุงู„ุฒูŽู‘ุงู†ููŠูŽุฉู ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ูƒูุญูู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฒูŽุงู†ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูุดู’ุฑููƒูŒ ูˆูŽุญูุฑูู‘ู…ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ

โ€œLaki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukminโ€ (QS. An Nur: 3)

Dengan taubat-lah yang akan menghilangkan status sebagai wanita pezina. Karena Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ย ุงู„ุชูŽู‘ุงุฆูุจู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฐูŽู‘ู†ู’ุจู ูƒูŽู…ูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฐูŽู†ู’ุจูŽ ู„ูŽู‡ู

โ€Orang yang bertaubat dari suatu dosa seakan-akan ia tidak pernah berbuat dosa itu sama sekali.โ€ (HR. Ibnu Majah no. 4250. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

(b) Istibroโ€™ yaitu menunggu satu kali haidh atau sampai bayi dalam kandungannya lahir. Inilah pendapat Imam Ahmad dan Imam Malik. Inilah yang lebih tepat.

Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,

ู„ุงูŽ ุชููˆุทูŽุฃู ุญูŽุงู…ูู„ูŒ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽุถูŽุนูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฐูŽุงุชู ุญูŽู…ู’ู„ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽุญููŠุถูŽ ุญูŽูŠู’ุถูŽุฉู‹

โ€œWanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibroโ€™nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh.โ€[2] (HR. Abu Daud no. 2157. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ketujuh: Wanita yang sedang ihrom sampai ia tahallul.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ูŠูŽู†ู’ูƒูุญู ุงู„ู’ู…ูุญู’ุฑูู…ู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูู†ู’ูƒูŽุญู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฎู’ุทูุจู

โ€œOrang yang sedang berihram tidak diperbolehkan untuk menikahkan, dinikahkan dan meminang.โ€ (HR. Muslim no. 1409, dari โ€˜Utsman bin โ€˜Affan)

Kedelapan: Tidak boleh menikahi wanita kelima sedangkan masih memiliki istri yang keempat.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ููŽุงู†ู’ูƒูุญููˆุง ู…ูŽุง ุทูŽุงุจูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ู…ูŽุซู’ู†ูŽู‰ ูˆูŽุซูู„ูŽุงุซูŽ ูˆูŽุฑูุจูŽุงุนูŽ

โ€œMaka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empatโ€ (QS. An Nisaโ€™: 3)

Bagi kaum muslimin dilarang menikahi lebih dari empat istri. Kecuali Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam boleh menikahi lebih dari empat istri dan boleh menikah tanpa mahar.

Inilah pembahasan singkat mengenai mahrom. Semoga bermanfaat. Wa billahit taufiq. Alhamdulillahilladzi bi niโ€™matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu โ€˜ala nabiyyina Muhammad wa โ€˜ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

 

Referensi: Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik hafizhohullah, 3/76-96, Al Maktabah At Taufiqiyah.

Diselesaikan di Panggang-GK, 28 Jumadil Awwal 1431 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Istilah yang tepat adalah mahrom bukan muhrim. Muhrim adalah orang yang berihram. Muhrim adalah isim faโ€™il dari kata โ€œahromaโ€ yang artinya berihram. Sedangkan mahrom adalah wanita yang haram dinikahi oleh pria. Mahrom adalah isim mafโ€™ul dari kata โ€œharomaโ€ yang artinya melarang.

[2] Catatan penting yang perlu diperhatikan: Redaksi hadits ini membicarakan tentang budak yang sebelumnya disetubuhi tuannya yang pertama, maka tuan yang kedua tidak boleh menyetubuhi dirinya sampai melakukan istibroโ€™ yaitu menunggu sampai satu kali haidh atau sampai ia melahirkan anaknya jika ia hamil. Jadi jangan dipahami bahwa hadits ini membicarakan larangan untuk menyetubuhi istri yang sedang hamil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s