Hukuman Sebagai Tanda Sayang Allah?

Aku terpana sejenak ketika membaca kutipan berikut ini:

Salah satu hukuman besar dari Allah ialah dicabutnya nikmat berupa sulitnya menyempatkan waktu untuk beribadah.

Dan aku langsung tersentak setelah memahami maksud kalimat tersebut. Aku ada di fase itu sekarang. Jujur, sakit banget ketika menyadari ada yang hilang dari jiwa. Kehampaan dan kekeringan itu berbanding lurus dengan semakin sibuknya dengan duniawi. Perih.

Ketika bulan September 2015 datang, aku mencoba untuk beradaptasi dengan ritme kerja yang baru. Kehidupan yang biasanya dihabiskan bersama krucil 24 jam, kini tercerabut hanya tinggal setengahnya. Kupikir ini hanya masalah waktu. Aku dan krucil mencoba bertahan meski sulit.

Bulan Oktober 2015 datang, gelombang pasang itu menerjang.Tetapi aku tak menyadarinya dan menganggap itu hanya cipratan air biasa. But deep inside my heart, there’s something missing. Gone. And I feel lost. Entah mengapa.

November 2015, aku mulai hilang arah. Mulai merasakan kesulitan untuk bangun malam. Mulai kepayahan untuk shalat Dhuha. Mulai kedodoran untuk One Day One Juz. Aku menyadari ada yang salah…

Aku bahkan tak menangis atau tertawa. Aku merasakan jiwaku membatu. Hatiku mengeras. Aku terjebak dalam lomba duniawi. Untuk apa?

Lantas aku membaca enam perkara yang dapat menggerogoti amal baik di bawah ini:

  1. Al istighlal bi’uyubil kholqi (sibuk dengan aib orang lain) sehingga lupa pada aib sendiri. Semut diseberang kelihatan sedang gajah di pelupuk mata tidak kelihatan.
  2. Qaswatul qulub ( hati yang keras) kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang. Sulit menerima nasehat.
  3. Hubbun dunya ( cinta terhadap dunia) merasa hidupnya hanya di dunia saja. Segala aktifitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di akhirat.
  4. Qillatul haya’ (sedikit rasa malunya), jika seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.
  5. Thulul amal ( panjang angan- angan), merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk bertaubat.
  6. Dhulmun la yantahi (kezhaliman yang tak pernah berhenti) perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut.

Saat ini, nomer dua lah yang membuatku meradang. Kemudian aku mengingat satu twit dari temanku yang bisa dikaitkan dengan nomer tiga:

Duit udah bertriliun-triliun tetap sibuk kerja. Ga yakin niatnya nyari rejeki buat anak istri.

Kenapa aku jadi tersinggung? *bagus, An, masih bisa mikir#

Aku kerja di luar untuk apa? Pergi pukul tujuh pagi dan baru sampai di rumah lagi pukul tujuh malam. Bertemu mereka dalam keadaan lelah. Berjuang untuk mempertahankan sisa tenaga menemani mereka bermain dan belajar. Pagi harinya, bertemu saat sarapan sebelum aku pergi lagi.

Banyak hal serupa di luar sana. Aku lahir dari seorang ibu pekerja kantoran. Aku pernah tahu rasanya menjadi karyawan yang memiliki waktu terbatas bersama anak. Memiliki anak yang punya hati besar dan legowo agar aku bisa menjemput rezeki untuk mereka itu… Rasanya…

No offense bagi pembaca. 2 x 24 jam saat akhir pekan pun terkadang tercerabut dengan kesibukan yang mungkin seharusnya tak usah dikerjakan. Membayar waktu yang hilang 12 jam selama 5 hari belum cukup di akhir pekan. Berulang terus.

Ditambah, kewajiban sebagai manusia yang harus dilakukan. Beribadah selama empat bulan terakhir terasa bagai penggugur kewajiban. Di mana ruh yang selama ini bisa membuatku berdebar karena rindu, merasa dekat dan tenang meski sendirian?

Allah sedang memberi hukuman itu. Jauh dari-Nya. Jauh dari titipan-Nya.

Entah, aku bisa selamat atau tidak dari jebakan duniawi kali ini. Waullahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s