Sesuatu yang Menakutkan Itu Kembali Menghantui

Dua minggu terakhir, ada sesuatu yang membuatku tak nyaman saat teringat. Apa yang sudah kulakukan dua bulan terakhir dan mengapa aku melakukannya?

Semua, aku yakin, bukan tanpa alasan. Apalagi tanpa campur tangan Allah. Bahkan, skenario-Nya tampak sangat sempurna dan selalu kusadari melebihi apa yang sudah kuperkirakan.

Dua bulan terakhir, aku tak lagi menulis sesering biasanya. Tak setiap hari menuangkan ide-ide yang berlarian tak karuan di kepala. Waktu penuh cinta dan intim bersama aksara itu semakin mahal, setingkat di bawah semakin langkanya saatku bersama krucil.

Gelisah itu menggedor-gedor hingga menyakiti kepala dan menohok dadaku. Sampai aku kembali mengadu pada Mommy Javi, “Sesek banget. Berasa overwhelmed dan ya gue butuh piknik.” Aku butuh waktu bersama lagi bersama 26 huruf yang terbiasa menjadi darah dan denyut di jantungku.

Aku ingin menulis lagi. Benar-benar menulis. Fiksi dan non fiksi. Artikel. Cerita pendek. Menjadi penulis bayangan. Apa saja. Sesuatu yang bisa membuatku terus berdebar karena gairah yang menyala. Godaan ide yang mengedip manja dan ingin disetubuhi segera.

Sesuatu yang bisa membuatku bangun tidur pukul delapan pagi dan terjaga di pukul dua dini hari. Hal yang begitu membuatku terus jungkir balik karena bahagia namun juga merasa ketakutan di saat yang sama.

Takut?

YA! Menulis bagiku sama dengan menjual diri. Menjual kemampuanku berekspresi untuk dinikmati oleh semua mata manusia yang bisa membaca sebuah tulisan. Suka atau tidak suka. Tugasku menulis. Dinilai buruk, hak pembaca. Diapresiasi positif, hak pembaca. Aku menawarkan yang kupunya.

Menulis adalah hal paling menggairahkan setelah tertawa tanpa beban bersama kedua pangeran kecilku. Menulis bisa membuatku menangis, marah, benci, cemburu, bahagia, dan apatis pada satu waktu.

Aku ingin kembali ke duniaku. Padahal baru kutinggalkan 2,5 bulan. Tapi sudah cukup membuatku gila karena rindu.

Apa yang membuatku takut? Karena semua mimpiku dengan tulisan-tulisan itu. Aku takut. Aku senewen. Aku ingin merasakan gugupnya saat menunggu apakah tulisanku layak terbit atau tidak…

Semoga Allah menguatkan keputusanku. Meski itu berarti aku harus melepas zona nyaman sialan yang membuatku selingkuh dan menjauh dari dekapan aksara itu…

Aku ingin kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s