Bandung yang Tercipta Saat Tuhan Tersenyum

Romantisnya kota Bandung, dari zaman pendudukan Belanda (ah, sepertinya sejak tanah Parahyangan ini terbentuk) sudah dikenal luas. Pamornya laksana gadis cantik yang dipingit.

Priangan, Parahyangan, Pasundan, Bandung… Entah apa lagi penamaannya. Namun bagiku, semuanya terdengar seksi dan manis. Mungkin seperti laiknya mojang kota kembang yang identik dengan kulit putih mulus dengan senyum mekar bak bunga di taman. *ahay#

Wisata-Romantis-Bandung

Sejenak teringat dengan tulisan yang ada di tembok jembatan dekat alun-alun kesayangannya warga Bandung, di dekat Jalan Cikapundung Barat.

“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”

Kutipan itu dari seorang M.A.W Brouwer (lahir 14 Mei 1923-19 Agustus 1991), psikolog dan budayawan warga negara Belanda yang lama tinggal di Bandung, pernah mengajukan permohonan menjadi WNI namun ditolak hingga akhir hayatnya.

Seorang Pidi Baiq menambahkan:

Dan Bandung, bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.

Aku merasakan daya magis kota ini sejak kecil. Mungkin, karena setengah diriku berakar dari sini. Mama lahir dan besar di Bandung. Bibiku, bahkan hingga kini menetap dan tak berpindah ke kota lain. Setiap datang ke kota ini, perasaan dan pikiranku selalu berbisik, suatu saat… Ya, suatu saat nanti aku akan tinggal di sini. Jika Allah mengizinkan, aku ingin menghabiskan sisa usia bersama orang-orang terkasih, ketika yang terakhir kali kulihat adalah indahnya alam Bandung…

Kata Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa namaBandung diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandungyang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot. (Wikipedia)

Aku ada di sini sekarang. Tinggal di sini. Resmi jadi warga kotanya Kang Emil (walikota saat aku menulis artikel ini). Pindah ke Bandung setelah berdoa siang malam sejak usia sepuluh tahun. Demi… Demikian.

Apa sih yang membuat kamu kangen balik lagi ke Bandung? Jujur, aku gak punya jawabannya. Tiap ditanya begitu, bingung. Apa? Ya, gak tau. Hanya ada sesuatu yang menarikku ke sini. Menyuruhku pulang. Kembali. Merindunya. Haish, kalah deh pasanganku kalo begini.

Etapi serius, di Bandung itu bagiku:

  • Biru. Persib nu aing! 😀
  • Kalau sedang macet, tidur di angkot itu enak banget.
  • Kalau terjebak macet, turun dari angkot juga gak rugi. Jalan kaki kan sehat.
  • Belanja baju murah meriah cakep pilihannya cuman Bandung, gudangnya distro.
  • Kalau lapar, jajanan atau camilan atau makan berat yang enak ada di sepanjang jalan. Tinggal pilih.
  • Pakai tas ransel itu di punggung, sesuai dengan kodratnya. Bukan di dada seperti ketika jalan di Jakarta.

Lainnya adalah…

Aku jarang mendengar orang suku lain berbahasa daerah asalnya (kecuali ketika bersama dengan komunitasnya). Mereka berbicara bahasa Sunda lebih fasih daripada aku, meski logat daerahnya tak bisa hilang.

Apapun jenis gosip yang sedang bergulir, ujungnya tetap membahas makanan. Mencoba tempat-tempat baru untuk mencicipi aneka menunya. Entah ketika sedang ngariung (berkumpul) membahas agenda kerja, atau di media daring seperti WA, selalu ada yang nyeletuk, “Eh, laper. Enaknya makan apa ya?” Kira-kira demikian. Lantas ada yang menjawab, “Sudah coba makan ini di situ?”

“Hanya ke Bandung lah aku kembali kepada cintaku yang sesungguhnya.”

Demikian kutipan surat cinta Soekarno untuk istrinya, Inggit Ganarsih, bertahun silam. Romantisme yang dipamerkan sang presiden bukanlah tanpa alasan.

jembatan pasupati

Tak ada kata yang bisa kuungkapkan untuk menyatakan sudah purna rindu ini saat duduk di kursi penumpang dalam bus atau mobil menuju Bandung. Terngiang kembali perkataan seorang bapak petugas pemda di Depok tahun 2011 lalu, “Semoga di Bandung nanti, Neng ketemu jodoh yang baik dan shalih ya?” Ketika aku ditanya mau pindah ke mana dan aku menjawab : Bandung.

Aku tersenyum.

Aku sudah pulang.

Iklan

2 thoughts on “Bandung yang Tercipta Saat Tuhan Tersenyum”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s