Perbandingan Kandungan Gizi Susu Kambing, Susu Sapi, dan ASI

Mari kita belajar kembali tentang susu yang baik dikonsumsi oleh semua usia. Yuk!

=-=-=
Tidak seperti susu sapi, susu kambing tidak mengandung aglutinin. Akibatnya globula lemak susu kambing tidak mengalami klusterisasi, sehingga lebih mudah dicerna. Susu kambing mengandung kadar laktosa yang sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan susu sapi (4,1 vs 4,7 %). Kondisi ini sangat baik bagi orang yang mengalami lactose intolerant.

Orang tua yang memiliki bayi yang alergi terhadap susu sapi dan susu formula, seringkali dianjurkan untuk menggunakan susu kambing sebagai salah satu alternatif. Secara teori, susu kambing lebih tidak menyebabkan alergi dan mudah dicerna dibandingkan dengan susu sapi, akan tetapi perlu dicatat bahwa penggunaan susu kambing tidak diperuntukkan sebagai susu pengganti susu formula. Seperti halnya dengan susu sapi, pengantian dalam jangka panjang dapat menyebabkan anemia dan iritasi usus halus. Jika bayi kita yang usianya di bawah 1 tahun mengalami alergi terhadap susu formula yang bahan dasarnya susu sapi, dianjurkan untuk mencoba susu formula berbasis kedelai atau susu khusus untuk hypoallergenic.

Diperkirakan bahwa kejadian alergi terhadap susu sapi pada bayi berkisar antara 3-7 %, akan tetapi jumlah kejadian yang sebenarnya masih belum diketahui. Fries mengatakan bahwa berbagai gejala khas gangguan gastrointestinal kemungkinan berhubungan dengan komponen antigenic makanan, toxin tertentu, faktor fisik makanan bayi, buruknya penyiapan serta kontaminasi bakteri.

Dewasa ini kejadian alergi terhadap susu sapi atau makanan yang berbahan dasar susu sapi makin menurun. Salah satu faktor penyebabnya adalah penggunaan antibiotik dalam pakan sapi yang sudah sangat berkurang dan bahkan di beberapa negara penggunaannya sudah dilarang. Peternakan sapi harus menerapkan “Good Farming Practices” yang sudah terstandardisasi, sehingga susu yang dihasilkan lebih aman, sehat dan kandungan nutrisinya lebih baik.

Gejala alergi terhadap susu sapi pada bayi biasanya sudah mulai tampak sejak awal, bahkan pada beberapa kasus kejadian ini langsung tampak sejak bayi diberi susu formula asal sapi untuk pertama kalinya. Gejala yang tampak adalah ganggunan pencernaan seperti misalnya muntah, sembelit, feces yang sangat encer. Pada kasus tertentu terkadang tampak bayi kesulitan bernafas dan hidung berair.

Susu kambing memiliki komposisi nutrisi yang khas sehingga pada beberapa kasus dapat digunakan sebagai susu pengganti susu sapi pada bayi bayi yang mengalami Hypo-Allergenic Infant Food terhadap susu sapi.

Dalam memahami mengapa susu kambing dapat digunakan sebagai susu pengganti berikut disampaikan berbagai perbandingan nilai nutrisi susu kambing dibandingkan dengan susu sapi. Disamping itu perbandingan ini dapat dibandingkan dengan nilai nutrisi Air Susu Ibu (ASI) sebagai bahan pertimbangan sebelum menggunakan memberikan susu kambing pada bayi.

KANDUNGAN PROTEIN

Pada umumnya distribusi komponen protein susu kambing hampir sama dengan susu sapi, walaupun komposisi kaseinnya berbeda. Kasein yang dikandung susu sapi mengandung 55% alpha kasein, 30% beta kasein dan 15% kappa kasein, sedangkan susu kambing komposisinya adalah 19% alpha S-1 kasein, 21% alpha S-2 kasein dan 60% beta kasein.

Kasein susu kambing memiliki kandungan glycine (terutama methionine), arginin serta sulphur nya lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu sapi.

Perbandingan antara Komposisi Nutrisi Susu Kambing, Susu Sapi dan ASI (untuk setiap 100 ml)

 Komponen   ASI  Sapi  Kambing
Protein (g)  1.2  3.3  3.3
kasein (g)  0.4  2.8  2.5
Laktalbumin (g)  0.3   0.4  0.4
Lemak (g)
 3.8  3.7  4.1
Laktosa (g)  7.0  4.8  4.7
Nilai-Kalori (Kcal)  71  69  76
Mineral (g)  0.21  0.72  0.77
Kalsium (mg)  33  125  130
Fosfor (mg)  43  103  159
Mg (mg)  4  12  16
K (mg)  55  138  181
Na (mg) 15  58  41
Fe (mg)  0.15  0.10  0.05
Cu (mg)  0.04  0.03  0.04
I (mg)  –  0.007  0.021
Mn (mg)
 0.07  2   8
Zn (mg)  –  0.53  0.38

VITAMIN:
Vitamin A (I.U.)  160  158  120
Vitamin D (I.U.)  1.4 2.0  2.3
Thiamine (mg)  0.017  0.04  0.05
Riboflavin (mg)  0.04  0.18  0.12
Nicotinic Acid (mg)  0.17  0.08  0.20
Pantothenic Acid (mg)  –  0.20  0.35
Vitamin B6 (mg)  –  0.001  0.035
 Folic Acid (mcg)  0.2  2.0  0.2
 Biotin (mcg)  0.4  2.0  1.5
Vitamin B12 (mcg)  0.03  0.50  0.02
Vitamin C (mg)  4.0  2.0  2.0

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ribadeau Dumas et al. disimpulkan bahwa struktur molekuler susu kambing berbeda dengan susu sapi, demikian juga dengan kasein susunya. Dinyatakan bahwa selain laktalbumin, berbagai fraksi protein susu kambing berbeda dengan susu sapi. Hal ini kemungkinan besar merupakan penjelasan yang dapat digunakan untuk menjawab mengapa bayi yang tidak toleran terhadap susu sapi masih toleran dengan susu kambing.

Susu kambing juga memiliki “curd tension” yang lebih rendah jika dibandingkan dengan susu sapi perah FH dan Jersey (36, 52 dan 78). Hal ini diduga sebagai penyebab mengapa daya cerna susu kambing lebih baik jika dibandingkan dengan susu sapi.

KANDUNGAN LEMAK

Krim susu kambing lebih lambat mengendap jika dibandingkan dengan susu sapi. Hal ini disebabkan ukuran globula lemaknya lebih kecil. Disamping itu susu kambing memiliki “globule clustering agent” yang lebih sedikit.

Susu kambing memiliki asam lemak linoleic dan arachidonic yang lebih tinggi dan juga memiliki persentase asam lemak jenuh rantai pendek yang lebih tinggi. Perbedaan ini diduga berhubungan dengan lebih mudah dicernanya susu kambing dibandingkan dengan susu sapi.

Perbandingan Komposisi Asam Lemak ASI, Susu Sapi dan Susu Kambing

Asam Lemak
ASI 
 Sapi  Kambing
ASAM LEMAK JENUH
Butyric Acid  0.4  3.1  2.6
Caproic Acid  0.1  1.0  2.3
Caprylic Acid  0.3  1.2  22.7.7
Capric Acid  0.3  1.2  –
Lauric Acid  5.8  2.2  4.5
Myristic Acid 8.6  10.5  11.1
Palmitic Acid  22.6  26.3   28.9
Stearic Acid  7.7  13.2  7.8
Arachidonic Acid  1.0  1.2  0.4
ASAM LEMAK TIDAK JENUH
Oleic Acid  36.4  32.3  27.0
Linoleic Acid  8.3  1.6  2.6
Linolenic Acid  0.4    
C22-20 Acids  4.2  1.0  0.4
Arachidonic Acid  0.8  1.0  1.5

Susu kambing memiliki kandungan asam caproic, caprylic, capric dan lauric yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu sapi. Kandungan asam palmitic dan stearic nya lebih rendah.

KANDUNGAN MINERAL

Kandungan abu susu kambing berkisar antara 0,7-0,85 %. Susu kambing memiliki kandungan sodium (Na)yang lebih rendah, akan tetapi kandungan potassium (K) dan chlorine (Cl)nya lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi. Kandungan zat besi (Fe)susu kambing bervariasi bergantung pada cara pemeliharaan dan pakan kambing. Konsentrasi “trace elemen” susu kambing pada umumnya hampir sama dengan susu sapi kecuali kandungan cobalt(Co)nya

KANDUNGAN VITAMIN

Kandungan vitamin susu kambing hampir sama dengan susu sapi, kecuali untuk vitamin B6, asam folat dan vitamin B12 yang lebih rendah jika dibandingkan dengan susu sapi.

PENULIS :

*) Rarah Ratih Adjie Maheswari, Bagian Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan IPB

*) Ronny Rachman Noor, Bagian Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan IPB.

SUMBER BACAAN UTAMA :

  1. Goat Milk and Its Use as a Hypo-Allergenic Infant Food By Dr. H.P. Maree, MBChB. First printed in Dairy Goat Journal, May 1978
  2. http://askdrsears.com/html/3/t032400.asp

  3. http://goatconnection.com/articles/publish/article_152.shtml

DAFTAR BACAAN LAINNYA:

  1. Van der Horst, R.L., S.Afr. med. J., 50, 927 (1976).
  2. Fries, J.H., J.A.M.A., 165, 1542 (1957).
  3. Jester, WR., Wright, W.W. and Welch, H., Antibiot. 9, 397 (1959).
  4. Fries, J.H., Lightstone, A.C., Ann. of Allergy, 20, 351 (1962).
  5. F.A.0. Production Yearbook, Vol. 20, Rome.
  6. Sapperstein, S., Anderson, D.W., Journ. of Pediat., 61, 196 (1962).
  7. Macy, I.G., Kelly, H.J. and Stoan, R.E., (1953), The Composition of Milks, Public. No. 254, Nat’l. Acad. of Sciences, Washington, D.C.
  8. Kadiiski, E. (1952), Nauchi Trud Selskostop, Akad. Georgi Dimitrov 2, 23 (DSA 16:797).
  9. Sirry, I. and Hassan, H.A. (1954), Indian J. Dairy Sci., 7, 188.
  10. Nottbohm, F E. and Phillipi, K. (1933), X. Lebensmittelunters, U.-Forsch, 68,289.
  11. Knowles, F. and Watkin, J.E. (1938) J. Dairy Res., 9.153.
  12. Nirmalan, G. and Nair, M.K. (1962) Kerala Vet., 1, 49.
  13. Canuti, A. and Saivadori, F. (1959) Latte 33, 25 (DSA 22:808).
  14. Valen, A. and Valen, I.(1950), Meieriposten 39, 793.
  15. Leonhard, I. (1963), Roczn, Naute roin. (Ser Zootechnika) 81, 535.
  16. lzmen, E.R. (1940) Yuksek Ziraat Entitusu Calismalarindam iii (DSA 7:150)
  17. Lythgoe, H. C. (1940), J. Dairy Sci. m 123, 1097.
  18. Gamble, J.A., Ellis, N. R. and Bosley, A.K. (1939), Tech. Bull. U.S. Dept. Agric.
  19. Webb, B. H. and Johnson, A. H. (1965) Fundamentals of Dairy Chemistry, Avi. Publi. Co., Westport, CT
  20. Hofman, T., Nature, 181, 633.
  21. Waugh, D., and Von Hippet, P H., J. Amer. Cham Soc. 78, 4576 (1956).
  22. Melvin Lee, Rohitkumar, M and Lucia, S.P., Proc. Soc. Exp. Biol Med. (1962) 110 (1) 115.
  23. Duman, B.R., Grosclaude, F. and Mercier, J.C. in Kretchmer, N., Rossi,E. and Sereni, F., eds (1975): Modern Problems in Paediatrics, p. 46. Basle: S. Karger.
  24. Gambie, J.A., Ellis, N. R. and Besfey, A.K, Tech. Bull. U.S. Dep. Agric., 671 (1939).
  25. Daniels, A. L. and Sterns, G.: Am. J. Dis. Child. 30, 359.
  26. Versell, A., Ztshr. lmmunitatsforch. 24:267,(1915).
  27. Crawford, L.V. and Grogan, F.T., Journ. of Pediat., 59, 347 (1961).
  28. Saperstein, S., Annals of Allergy, 18, 765 (1960).
  29. Hanson, L.A. and Andersen, Acta Paediatrica 51, 509, (1962).
  30. Fahmi, A.J., Sirry, I., and A. Safwat, Indian J. Dairy Sci., 9:124.
  31. Jenness, R. and Parkash, S., Journal of Dairy Science 54, 1, 123-
  32. Fomon, S., Infant Nutrition, p. 206 Philadelphia: N.B. Saunders.
  33. Gyorgy, P.: Beitra zur pathogenese der ziegenmiichanamie, ztschr. Kilderh., 56:1.
  34. Collins, R.A., Amer. J. of Clinical Nutrit. 11, 169 (1962)
  35. Gasser, C., Helvet, Paediat. Acta, 3:301.
  36. Glansman, E., Jb. Kinderhk. iii, 127 (1926).
    38 Freudenberg, E., Ann. paediatri. 169, 103 (1927).
    39 Betke, K and Gantert, L. Dtsch. med. Wschr, 176, 1342 (1951),
    40 Hill, L.W., J. Pediat. 47 656 (1955).

Sumber tulisan di atas dari: LPPM IPB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s