Balancing Life, Balanced Life

Aku sudah menonton film Eat, Pray, Love (lupakan bukunya) entah berapa kali. Awalnya aku hanya melihat perjalanan Julia Roberts seperti film Hollywood pada umumnya. Seperti yang selama ini dia mainkan. Aku masih berpikir demikian sampai pada satu titik, aku merasa sedang menjelma menjadi Liz.

Tahun 2011 adalah saat aku hancur dan nyaris melupakan kedua anakku sendiri. Dan ternyata aku membiarkan kehancuran itu meluluhlantakkan pertahananku hingga tak ada sisa. Aku melupakan segalanya. Termasuk Tuhan, Dzat yang menciptakanku. Aku merasa habis.

Kemudian, sepanjang 2012 dan 2013, aku merasakan dunia menyembuhkanku. Setidaknya aku merasa demikian.Tanpa benteng pertahanan. Tanpa ingat apapun. Aku menikmatinya. Memberi makan pada jiwaku yang rapuh dan kering. Tanpa kendali. Tanpa disaring. Aku membebaskannya.

Awal 2014, kenyataan mulai menamparku sangat keras. Aku merasa tak dicintai, tak dibutuhkan, tak dipedulikan. Berulang kali aku berpikir bahwa ini saatnya untuk memerhatikan humor-Nya yang tak biasa. Aku belajar membuang semua ego dan memaafkan diri sendiri. Kembali mencintai diri dan menerima keadaan. Akhir tahun, aku berbisik di suatu pagi buta, setelah sujud tahajjud terakhir. Aku lelah.

Memasuki tahun 2015, lahir batinku sepi. Aku menyepi di suatu senja. Menertawakan diriku sendiri. Meresapi kesendirian. Perlahan memetakan ke mana skenario Allah akan membawaku. Layaknya seorang penumpang bus, aku memercayakan keselamatan dan tujuanku kepada supir. Maka, aku memejamkan mata dan membiarkan cahaya Illahi menuntunku. Aku tak membantah. Tak bersuara. Tak berusaha melawan arus.

Aku berulang kali sakit hati. Kata sahabatku, “Kamu orang baik, An. Wajar jika ada yang memanfaatkan kebaikanmu.” Sahabatku yang lain bilang aku terlalu nekat dan gemar berbuat hal ajaib. “This is a good sign, having a broken heart. It means we have tried for something.” ~ Elizabeth Gilbert.

Akhirnya aku tercenung pada sebuah kutipan, “To lose balance sometimes for love is part of living a balanced life.”

Aku sudah memasrahkan segalanya. Bahkan ketika aku sudah tak sanggup lagi untuk meminta, Dia sudah siap dengan beberapa pilihan untukku. Ya, Dia dengan segala kasih sayang tanpa batas, masih mengizinkanku untuk memperbaiki semua kesalahan masa lalu yang mengerikan itu.

Aku sudah tak bisa berkata apapun lagi.

 

(Ditulis lima menit setelah selesai menonton EPL yang kesekian kalinya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s