Berpasangan Agar Tercipta Keseimbangan Alam

Pagi – malam. Yin – yang. Kanan – kiri. Atas – bawah. Terang – gelap. Laki – perempuan.

Manusia kerap harus diingatkan bahwa dalam keadaan terkacau sekalipun ada Dzat yang mampu membalikkan keadaan jika Dia berkehendak. Allah ingin kita datang dengan merendahkan diri di hadapan-Nya, namun kita seringkali memilih untuk tidak datang. ~ Akmal Sjafril ~

Mari kita renungkan lagi taushiyah dari beberapa twit Ustaz Yusuf Mansyur tangal 29 Juni 2015 (sebagian):

  1. Bikin dosa aja udah masalah. Apalagi sampe berbangga, & men-declare tanpa bersalah tentang dosa itu. Semoga Allah menyelamatkan kita semua.
  2. Ada yang berbuat dosa karena ketidaktahuannya. Ada yang emang udah ngelawan segala aturan Allah, Tuhannya. Atau emang udah ga bertuhan lagi.
  3. Pelaku2 dosa tetap ditunggu Allah. Sampe nanti nyawa udah di kerongkongan. Sebelum itu nyampe, masih tetap terus ditunggu. Semoga bisa kembali. Didoakan.
  4. Jadi di zaman inilah semua dosa dari semua ummat para Nabi terdahulu, ngumpul. Ngeri kalo ga berdoa minta perlindungan.
  5. Udah gitu, saya melihat kawan2 yang berdosa, kalo dulu malu2, sekarang na’uudzu billaah, berani2. Baik perkataannya. Maupun terang2an perbuatannya.
  6. Ada orang2 yang padahal ia bukan pelaku. Tapi ia men-support & mendukung pelaku, & membela kelakuannya. Sesungguhnya ia tidak menyayangi mereka2 yang berdosa.
  7. Mereka yang berdosa, nyaman sebab dibela dengan perkataannya, pemikirannya. Tapi sesungguhnya mereka jahat. Sebab membiarkan orang lain berdosa.
  8. Suatu saat, saat semua gunung sudah dihancurkan, & dihempaskan bagai debu yang beterbangan, tiada guna lagi kesadaran & pertaubatan.
  9. Ucapan2 pembangkangan ummat para Nabi terdahulu, pelan2 terdengar makin santer. Akankah kemudian Azab-Nya yang pedih, harus kita rasakan?

Al  A`raf  7 - 80 81 82

Kita lihat pendapat dari agama lain tentang perbuatan yang mendapat banyak pertentangan ini.

Dikutip dari ArtikelBuddist.com seperti ini:

Homoseksualitas sudah dikenal di zaman India kuno; masalah ini secara eksplisit. Disinggung dan dilarang di dalam Vinaya. Akan tetapi, tidak dituding secara khusus, melainkan disebutkan di antara banyak jenis perilaku penyimpangan seksual lain yang bertentangan dengan keharusan hidup seharusan hidup selibat seorang biarawan/wati. Hubungan seksual, apakah dengan pasangan sejenis atau lawan jenis, di mana organ seks memasuki vagina, mulut, atau anus, adalah tindakan yang bisa mengakibatkan dikeluarkannya seseorang dari Sangha. Tindakan seksual lainnya seperti saling masturbasi, walaupun bukan dianggap sebagai pelanggaran berat dan tidak mengakibatkan dikeluarkannya dari sangha, tetapi harus diakui di depan anggota sangha.

Sementara T&J dengan YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera terkutip berikut ini dari Bodhi Buddist Centre Indonesia:

T: Apakah agama Buddha menerima kaum Homoseksual ?
J: Dalam Agama Buddha seseorang diajarkan untuk bisa mengendalikan diri dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Seseorang yang berprilaku seksual menyimpang (Homoseksual, red) bisa saja mengikuti Buddha Dhamma. Karena ia juga memiliki hak untuk itu. Kita harus mengerti bahwa penyimpangan pada dirinya adalah bagian dari keputusan pribadinya, sedangkan pemilihan Buddha Dhamma juga merupakan keputusan pribadinya yang lain. Memang idealnya, setelah ia mengenal Dhamma, lambat laun,ia akan memperbaiki prilakunya sehingga hilanglah kebiasaan yang dikatakan oleh lingkungannya sebagai prilaku yang menyimpang itu.

T: Apakah Homoseksuality dilarang dalam Agama Buddha, dalam hal ini Umat Buddha berkeluarga ?
J: Ya, karena ini termasuk melanggar Sila ke 3, yaitu melakukan perbuatan asusila yang maksudnya adalah melakukan pemuasan nafsu indriawi yang menyimpang. Apalagi jika yang di tekankan disini adalah ‘umat berkeluarga’, karena bagi umat yang berkeluarga, hanya boleh melakukan hubungan seksual dengan pasangannya yang resmi telah dinikahinya, maka seorang pria hanya boleh berhubungan seksual dengan istrinya.

Agak sulit mencari referensi untuk agama Hindu. Aku coba untuk merangkum yang ada yah.

Dari artikel Vemale, terkutip demikian:

Menurut wikipedia.org, meski mayoritas pemeluk Agama Hindu tidak pernah secara resmi menyatakan tidak setuju dan melarang keberadaan kaum homoseksual, tapi dalam sejarahnya di India, terdapat beberapa aksi protes terhadap pemutaran film yang bertemakan homoseksual.

Di sisi lain, Dewa-Dewa dalam Agama Hindu bermacam-macam jendernya. Contohnya adalah kisah Arjuna pada Mahabharata. Di situ diceritakan bahwa Arjuna pernah bersumpah untuk menjalani kehidupan menjadi seorang yang terkastrasi selama setahun.

Selain itu, dalam kitab Weda ternyata juga dituliskan adanya Jender ke tiga.

Pada teks-teks Hindu seperti Manu Smriti, dan Sushruta Samhita bahwa ada orang yang dilahirkan dengan jender campuran, pria dan wanita. Maksudnya, ada orang yang terlahir pria tapi bersikap seperti wanita, dan juga sebaliknya.

Tambahan:

Perkawinan secara Hindu harus ada sepasang manusia yang bertindak sebagai purusha dan pradana. Dalam hal ini untuk kaum gay mungkin mereka bisa menunjuk salah satu pasangannya sabagai purusha atau predana. Tapi dalam hal ini purusha (lak- laki) dan pradana (perempuan) cukuplah jelas bahwa yang melakukan perkawinan adalah laki dan perempuan.

Kita beralih ke agama Nasrani.

Alkitab jelas menyebutkan bahwa homoseksualitas adalah dosa dan kekejian di mata Allah.

  • Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka … kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki … (Roma 1:24-27)
  • Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian. (Imamat 18:22)
  • Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian … (Imamat 20:13)
  • … sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang. Namun demikian orang-orang yang bermimpi-mimpian ini juga mencemarkan tubuh mereka dan menghina kekuasaan Allah serta menghujat semua yang mulia di sorga (Yudas 1:7-8)
  • Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (1 Korintus 6:9-10)

Kata “pemburit” berasal dari teks asli Alkitab bahasa Yunani “arsenokoites” yang artinya adalah “One who lies with a male as with a female, sodomite, homosexual.”

Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang dengan keinginan homoseks. Alkitab memberitahu kita bahwa seseorang menjadi homoseks karena dosa (Roma 1:24-27) dan pada akhirnya karena pilihan mereka sendiri. Seseorang mungkin dilahirkan dengan kecenderungan terhadap homoseksualitas, sama seperti orang dapat dilahirkan dengan kecenderungan kepada kekerasan dan dosa-dosa lainnya. Ini bukan merupakan dalih untuk hidup dalam dosa dengan mengikuti keinginan dosa mereka. (sumber: Martianus)

Coba bandingkan dengan apa yang dikatakan kalangan medis:

In 1973, the weight of empirical data, coupled with changing social norms and the development of a politically active gay community in the United States, led the Board of Directors of the American Psychiatric Association to remove homosexuality from the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Some psychiatrists who fiercely opposed their action subsequently circulated a petition calling for a vote on the issue by the Association’s membership. That vote was held in 1974, and the Board’s decision was ratified.

Subsequently, a new diagnosis, ego-dystonic homosexuality, was created for the DSM’s third edition in 1980. Ego dystonic homosexuality was indicated by: (1) a persistent lack of heterosexual arousal, which the patient experienced as interfering with initiation or maintenance of wanted heterosexual relationships, and (2) persistent distress from a sustained pattern of unwanted homosexual arousal. (from psychology.ucdavis.edu)

Sejarah panjang tentang kaum homoseksual ini sudah berusia ribuan tahun. Allah sudah mengingatkan azab-Nya yang maha pedih untuk mereka yang membangkak.  Tetapi manusia, seperti biasa, belum akan berhenti atau menyesal apabila dirinya tak merasakan derita / akibat dari perbuatan dosanya. Menentang dan menantang.

Seluas apapun kasih Allah, dimentahkan dengan aneka argumen. Bahkan di kalangan terpelajar dunia barat pun, pertentangan mengenai kaum homoseksual terus bergulir.

Baca lebih banyak lagi.

Other German forensic writers followed Westphal’s lead, most notably Richard von Krafft-Ebing (1840-1902). His Psychopathia Sexualis with Especial Reference to the Antipathic Sexual Instinct: A Medico-Forensic Study (1886) was first published as a small booklet and then vastly expanded over the years into an encyclopedia of sexuality. Krafft-Ebing introduced many terms into the medical nosology such as “sadism” and “masochism.” Although he did not coin the word “homosexuality,” his work popularized it. Krafft-Ebing initially presented homosexuality as a severe manifestation of hereditary degeneration, but late in his life, after having met many homosexuals, he argued that they could be perfectly respectable and functional individuals. He was a political liberal who argued against sodomy laws and testified in the defense of homosexuals.

Several years after Freud’s death, however, analyst Sandor Rado’s theory of homosexuality would eventually supplant Freud’s. In a 1940 article, “A Critical Examination of the Concept of Bisexuality,” Rado argued that Freud’s theory of bisexuality was based on a faulty 19th century belief in embryonichermaphroditism, a disproved hypothesis that every embryo had the potential to become an anatomical man or a woman. Since the original theory upon which Freud had based his belief in bisexuality had been disproven, Rado claimed heterosexuality as the only nonpathological outcome of human sexual development.

Rado viewed homosexuality as a phobic avoidance of the other sex caused by parental prohibitions against childhood sexuality. Almost all of the mid-twentieth century psychoanalytic theorists who pathologized homosexuality followed Rado’s theory in one form or another. The psychoanalytic shift from Freud’s theory of immaturity (homosexuality as a normal developmental step toward adult heterosexuality) to Rado’s theory of pathology (homosexuality as a sign of development gone awry) led some analysts to optimistically claim that they could “cure” homosexuality. Analysts whose work was in the tradition of Rado included Irving Bieber, Charles Socarides, Lionel Ovesey, and Lawrence Hatterer. (source: The History of Psychiatry & Homosexuality)

Membaca sumber di atas (masuk ke link yang disebutkan) dengan perlahan, terlihat jelas pertentangan di kaum terpelajar (dokter, profesor, dan lainnya). Kita lihat pendapat dari :

The slow demise of homosexuality as disease

Although the removal of homosexuality from the DSM is often heralded as a radical and rapid sea-change in how sexual orientation was viewed, the reality is more sobering. Homosexuality was not actually removed from the diagnostic nomenclature of the revised DSM-II. Instead, it was shifted into parentheses of the new diagnosis of sexual orientation disturbance. The change in diagnosis was supposed to create as little disruption to psychiatric practice as possible, and the position statement about this change notes that ‘hardly anyone can disagree’ that ‘Modern methods of treatment enable a significant proportion of homosexuals who wish to change their sexual orientation to do so.’ While noting that homosexuality does not fulfill criteria for a psychiatric disorder, the same position statement goes on to note “no doubt, homosexual activists will claim that psychiatry has at last recognized that homosexuality is as “normal” as heterosexuality. They will be wrong.” The same year, 1973, a number of publications discuss diagnostic and treatment aspects of homosexuality, including aversive conditioning, use of electric shocks and even lobotomy. Further, the diagnosis of ‘sexual orientation disturbance’, later to become ‘ego-dystonic sexual orientation’ was only applicable to same-sex attraction. The implicit assumption is that it is not possible for those with opposite-sex attraction to feel negatively about this. Whether true or not, the assumption goes unchallenged. (source: madinamerica.com)

Trus ngapain aku nulis panjang kali lebar kali tinggi tiang gawang ini? Tentunya tahu dong yaaaaa, apa yang baru terjadi di Amerika Serikat 26 Juni 2015?

potus love wins

WASHINGTON — In a long-sought victory for the gay rights movement, the Supreme Courtruled by a 5-to-4 vote on Friday that the Constitution guarantees a right to same-sex marriage. (NewYorkTimes)

Jauh sebelum si Potus melegalkannya, tanda bahwa ‘kemenangan’ kaum LGBT sudah mulai terendus. Tepatnya ketika di negara bagian Massachusetts tahun 2004 mulai melegalkannya. Hanya tinggal menunggu waktu, saat itu. Ternyata benar, kan?

The White House Massachusetts LoveWins

Nah, jangan dikira bahwa seluruh rakyat AS setuju. Pertentangan itu jelas ada, meski bos Facebook sendiri mendukung dengan avatar pelangi.

facebook gay pride

Semua kembali kepada individu. Terutama ummat muslim, kita berbangga disebut ummat Rasulullah atau bagian dari kaum Sodom yang dilaknat Allah?😉

“Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth.”

[HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad]

“Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth. (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)”

[HR Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337]

Kalau menurut hukum pernikahan sesama jenis di Indonesia, bagaimana?

Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”), perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri.

Pasal 1

“Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Selain itu, di dalam Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan dikatakan juga bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Ini berarti selain negara hanya mengenal perkawinan antara wanita dan pria, negara juga mengembalikan lagi hal tersebut kepada agama masing-masing.

Psikiater ternama Indonesia, Bapak Dadang Hawari pun berpendapat:

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender menganggap kelainan yang mereka alami akibat faktor genetika. Psikiater Prof. Dadang Hawari membantah hal tersebut. Kecenderungan sesama jenis, kata dia, dominan disebabkan oleh faktor lingkungan.

“Sama sekali bukan karena gen. Gen itu hanya rasionalisasi anggapan dari kaum homo sendiri. Malah ada seorang professor Amerika yang menyatakan homoseksual bisa terjadi akibat kurangnya pendidikan agama,” kata Dadang Hawari kepada Republika, Rabu (1/7).

Dari semua kasus yang diteliti semua profesor tentang homoseksual, lanjut Dadang, mereka mengalami kelainan karena tidak mendapatkan pendidikan agama sama sekali.

Dia menjelaskan, kalau menengok sistem pendidikan Islam, sudah jelas diatur bagaimana seharusnya orang tua memperlakukan tiap-tiap anak. Anak laki-laki diperlakukan seperti apa, dan perempuan diperlakukan seperti apa.

Lain halnya, ketika agama tidak ikut berperan. Laki-laki dan perempuan diperlakukan sama saja. Lantaran tidak ada peraturan agama, tidak ada kontrol saat mereka berkembang ke arah menyimpang.

“Toleransi masyarakat Indonesia kadang terlalu tinggi. Homoseksual dikampanyekan sebagai hak asasi manusia. Hak asasi itu kalau berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan,” kata Dadang.

Lebih lanjut, psikiater ini berpandangan, masyarakat semestinya sadar dan tanggap terhadap keberadaan para gay. Ia mengaku prihatin, sebab masyarakat selama ini cenderung bersikap diam, meski sudah tahu ada aktivis yang terang-terangan mengkampanyekan homoseksual.

Keseimbangan alam dan keberlangsungan hidup makhluk hidup terjadi karena bersatunya jantan & betina, laki & perempuan dengan cara yang sudah dituntun oleh Rasulullah berdasarkan perintah Allah. Kamu, mau ikut Rasulullah atau kaum Sodom? Pilihan ada di tanganmu.

Adam-Hawa

Semoga bermanfaat.

Tambahan: bisa baca juga blognya Pak Iwan untuk referensi berbeda dan cek bagian komentarnya ya🙂

Waullahu’alam bishawwab.

9 thoughts on “Berpasangan Agar Tercipta Keseimbangan Alam”

      1. Denmark saja yang awalnya melegalkan hal hal aneh seperti perkawinan dengan hewan, akhirnya melarangnya juga di 2015 ini, http://www.thedailybeast.com/articles/2014/10/14/denmark-s-bestiality-problem-it-s-legal.html

        http://www.bbc.co.uk/newsbeat/article/32411241/denmark-passes-law-to-ban-bestiality

        http://www.dailymail.co.uk/news/article-3049182/Denmark-bans-bestiality-against-animal-sex-tourism.html

        entahlah, hukum dilegalkan tergantung ditingkat voting/suara terbanyak, kalau banyak yang ga benar orangnya, bisa ditebak, hukum sesuai nafsunya…

        Suka

  1. Kekacauan itu sudah mulai kelihatan… anak-anak di Kanada yang diadopsi oleh pasangan gay / lesbi pada banyak yg mengeluh, mendatangi ruang2 curhat di sekolahnya, karena merasa tertekan, malu, dlsb-nya oleh teman-teman sekolahnya. Yang mereka rasakan selaku anak-anak adalah tidak mendapatkannya sentuhan ibu yg sebenarnya, atau ayah yg sebenarnya. Sehingga rata2 anak-anak yg diasuh pasangan homoseksual jeblok prestasinya di sekolah, atau menjadi anak yg bermasalah. Semuanya akibat mereka tidak mendapatkan pola pengasuhan yg layak, sebagaimana sentuhan dari orangtua yang normal.

    Suka

    1. benar, pak. banyak pula artikel yang ditulis oleh kaum LGBT atau para pendukungnya, tertera bahwa anak-anak adopsi itu hidup bahagia. sepertinya mereka memang hndak menciptakan halusinasi yang menjerat. na’udzubillah….

      Suka

      1. Berarti mereka bohong. Padahal faktanya ini:

        A Warning from Canada: Same-Sex Marriage Erodes Fundamental Rights
        by Dawn Stefanowicz
        http://www.thepublicdiscourse.com/2015/04/14899/

        quote:
        Over fifty adult children who were raised by LGBT parents have communicated with me and share my concerns about same-sex marriage and parenting. Many of us struggle with our own sexuality and sense of gender because of the influences in our household environments growing up.

        quote:
        Over and over, we are told that “permitting same-sex couples access to the designation of marriage will not deprive anyone of any rights.” That is a lie.

        When same-sex marriage was legalized in Canada in 2005, parenting was immediately redefined. Canada’s gay marriage law, Bill C-38, included a provision to erase the term “natural parent” and replace it across the board with gender-neutral “legal parent” in federal law. Now all children only have “legal parents,” as defined by the state. By legally erasing biological parenthood in this way, the state ignores children’s foremost right: their immutable, intrinsic yearning to know and be raised by their own biological parents.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s