Sampah Ramadhan, Ketika Kita Menjadi Kalap

Ramadhan seharusnya hanya menjadi ajang penyerahan diri kepada Allah secara utuh. Bulan penuh rahmat yang dirindukan seluruh umat Islam yang beriman. Bukankah sesuai dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. QS. al-Baqarah : 183.

Ya, shaum Ramadhan hanya ditujukan kepada kaum beriman. Bila ada orang yang mengaku ummat Rasulullah dan mengaku beriman, hendaknya beribadah sesuai yang diajarkan beliau. Tak kurang, tak lebih. Termasuk dalam pelaksanaan keseluruhan rangkaian selama 30 hari. Sejak sahur sampai sahur lagi alias 24 jam.

Kita, yang setiap hari di 11 bulan lainnya, makan sehari bisa 3x dengan pembagian pagi, siang, dan malam. Camilan atau coffee break 2x: pukul 10 pagi dan 3 atau 4 sore. Ketika bulan puasa tiba, jam makan bergeser, ditambah porsinya juga berkurang menjadi 2x: sahur dan makan malam. Camilan hanya pada saat berbuka puasa atau biasa disebut ta’jil. Kita sejatinya bisa berhemat. Benar?

Tunggu. Ada jadwal buka puasa bersama di kantor, kampus, pengajian, dan so-called reunian kecil-kecilan. Hitunglah seminggu nih ya, kita ada minimal 2x undangan makan malam di bulan puasa dengan nilai Rp100,000,- sampai Rp300,000,- per orang (tergantung lokasi dan menu.) Budget ini bisa diambil dari jatah salah satu pos makan sehari-hari + satu pos camilan kan? Toh bukber ini juga gak setiap hari.

Nampaknya hal ini disadari namun ditampik oleh banyak orang. Iya, seharusnya kita bisa berhemat. Iya, seharusnya puasa menjadi saat tepat untuk muhasabah, tafakur, dan tadabur. Namun, atas nama ibadah pula, “Buka bersama kan bisa jadi ajang silaturrahim dan reunian. Memperbanyak rezeki dan memperpanjang umur.” Benar. Tapi ada 11 bulan yang lain, ngapain aja?

Kita bisa fokus ibadah benar-benar total selama sebulan. Ditambah lagi 10 hari terakhir untuk yang berkesempatan bisa i’tikaf di masjid, berlomba ingin menggapai lailatul qadar. Nilainya 1000 bulan. Ini yang harusnya disebut, “Kapan lagi dapat malam seribu bulan?”

Ramadhan ini bisa jadi yang terakhir bagi kita. Hidup di dunia ini fana. Bahkan, ketika disebutkan bahwa dunia ini lebih menjijikkan dari bangkai keledai, masih saja manusia tak menggubris. Seolah yakin, usianya sampai di tahun depan.

Intermezzo: Aku kehilangan teman SMP seminggu lalu. Jika dia masih hidup pun, belum tentu diizinkan shaum oleh dokternya. Aku sempat bilang sebulan sebelumnya, “Ayo sembuh! Kita reunian.” Dia tertawa datar. Dia tahu usianya tak akan sampai. Dia menahan emosinya. Dia berusaha tak menangis. Tapi aku yang perih. Setelah pertemuan itu, aku bermaksud menemuinya seminggu kemudian. Namun temanku yang lain bilang, bahwa pasiennya sudah pulang ke rumah. Baiklah. Dan ketika aku kepikiran untuk membezoeknya sekali lagi, temanku malah mengirim pesan via WA. Berita duka. Mungkin aku jahat. Ketika pertemuan terakhir itu, aku juga sudah melihat kekosongan di matanya. Aku sangsi dia bisa sembuh. Aku sangsi dia bisa merasakan Ramadhan.

Sebenarnya tak hanya Ramadhan saat kita bisa lebih dekat pada Allah. Namun, berjuta hikmah dan makna meluap saat Ramadhan. Bulan yang penentuan tanggal satunya selalu diributkan😀 Bulan yang setiap malamnya akan lebih syahdu, dini harinya menjadi ramai, sorenya lebih akrab, dan jaminan syaithan dibelenggu tak akan menggoda kita.

Yakin? *ketawa kunti# Syaithan mendidik, meracuni, dan menghanyutkan kita selama 11 bulan. Sehingga ketika Ramadhan tiba, kalimat “Cuman setahun sekali, gak papa kali?” menjadi tameng untuk berbuat dzolim pada diri sendiri dan orang lain.

sisa makanan

Iya, salah satu bentuk dzolim itu misalnya adalah:

  1. Timun suri dan kolak pisang lebih afdol kalau bulan puasa.
  2. Stok bahan makanan di kulkas mendadak lebih banyak dan sesak.

  3. Sisa makanan yang masih sangat banyak dan kamu mengeluh kekenyangan.

4.. Memberi makan anak yatim lebih sering… Tapi menggunakan kemasan styrofoam. Dhuar!

Kamu pasti gak tahu kalau styrofoam sudah dipastikan dilarang di New York per tanggal 1 Juli 2015. Kenapa? Tanya deh kenapa. SULIT TERURAI! Itu akibatnya apa? Timbunan sampah akan lebih tinggi. Kamu juga perlahan membunuh hewan yang secara tak sengaja menelan aneka sampai sulit terurai itu. Kamu pun meracuni tumbuhan dengan bahan berbahaya dari kemasan yang nampaknya mudah + praktis digunakan itu. Warga Bandung, kita belajar memilah dan memilih sampah bersama Bandung Clean Action dan RecycleBank yuk? Sekalian ikutan memulai #GerakanPungutSampah juga😉

Hidup tanpa menjadi sumber masalah, sebenarnya tidak sulit. Kita harus mengeremnya agar tak menjadi latah. Lihat akibatnya. Kita berniat mulia dengan memberi makan anak yatim. Volumenya di bulan Ramadhan menjadi meningkat. Tapi sampahnya juga otomatis meningkat! Ribuan botol kemasan yang ada di dalam paket buka puasa itu bagaimana? Berujung di tempat sampah? Selesai? Bisakah didaur ulang? Kita peduli gak dengan hal itu? “Yah, itu bagian pemulung dan pengepul aja deh. Kita kan udah buang sampah. Ngasih mereka kerjaan.” Sempit dan pendek banget kan mikirnya? Jujur, dulu aku cupu. Aku juga mikirnya gitu. Tetapi setelah dikasih tahu kalau pengetahuan memilah dan memilih sampah juga menjadi kewajiban individu, ya haruslah aku berubah.

Nah, kembali ke urusan Ramadhan dengan segunung sampah. Kita kaum muslim mendadak lebih konsumtif. Jajanan khas Ramadhan tumpah ruah di beberapa sudut kota, yang hanya bisa dijumpai saat menjelang buka puasa. Plastik kresek, plastik bening, styrofoam, dan entah apa lagi namanya, menjadi semakin banyak. Mending kalau buang plastik bekasnya di tempat sampah. Nah kalau yang malas? Lempar!😀 Trus pada ngeluh deh bau. Pada kesel deh dapet banjir. Pada ngomel deh gotnya mampet. #ngok

Kita yang kalap saat berbuka puasa… Karena yang lebih lapar sebenarnya sih mata. Tanki perut kita takarannya sekilo, misalnya. Kita melihat aneka makanan dan minuman yang tersaji sekitar tiga kilo. Semua mau kita habiskan. Eh, ternyata sisa. Karena perut sakit kekenyangan. Tragis. Di luar sana masih banyak yang kelaparan. Apakah makna shaum Ramadhan sudah berhasil diamalkan kalau begini caranya?

Sekarang soal cara bawa makanan. Ayo, kalau mau beli camilan atau ta’jil atau lauk makan malam… Bawa misting sendiri dong plis!😉 Kan nanti bisa dicuci. Mari kita kurangi sampah bareng Miss Clean Action yah! Pokoknya, ke mana-mana bawa misting dan tumbler. Jadi, ketika nemu jajanan enak, tinggal sodorin misting ke tukang jualannya. Sekalian kasih tau si abangnya, ganti plastik hitamnya dengan yang putih atau bening. Kenapa? Karena yang hitam terindikasi bahan karsinogennya lebih tinggi. Plus, kalau pakai kertas bekas fotokopian atau bertinta, bagian polosnya di dalam agar tinta bekasnya gak nempel ke makanan.

Andiana bawel banget. Iya, mending bawel daripada ke dokter karena sakit, bayarnya lebih mahal dari harga gorengan. Gitu. Iya, aku mah gitu orangnya.

Ramadhan adalah saat bagi kita introspeksi. Ngaca. Kita hidup di dunia ini, saat ini, beneran ngontrak. Gak salah kalau ada meme, “Dunia milik berdua, yang lain ngontrak.” Ambil kata ‘yang lain ngontrak’ ini dengan lebih luas. Kita seriusan ngontrak dari anak cucu. Kita dikasih pinjemnya dengan syarat. Kembaliin ke mereka dalam keadaan bersih. Pohonnya banyak lagi. Ekosistem alamnya seimbang lagi.

Dan inilah PR bersama kita. Aku, kamu, dia, mereka.

Jadi, mau mulai belajar gak nyampah per 1 Ramadhan kali ini? YUK!🙂

Semoga Ramadhan kali ini menjadi pembersih hati, pikiran, dan jiwa kita. Semoga kembali ke fitrah nan bersih menyejukkan di penghujungnya.

PS: misting itu kotak makan dalam bahasa sunda. wokey?

2 thoughts on “Sampah Ramadhan, Ketika Kita Menjadi Kalap”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s