Melodi Hati Tanpa Nada ~ Cerpen

Jalan Sudirman, pertengahan bulan Agustus tahun 1982. Aku malas menghabiskan makan siangku. Omelan Ranti selepas subuh membuat selera makan amblas dan sisa teh hangat setengah gelas tadi langsung kutandaskan. Aku melangkah malas keluar dari mobil menuju boks telepon umum.

“Kamu bisa kan, untuk gak mengurusi Rahmat lagi, Mas? Dia udah gede. Masih ada ibunya pula. Jadi laki manja dia nantinya. Umur udah duapuluh tahun, harusnya bisa mandiri. Kost masih dibayarin kamu juga,” cerocos Ranti sambil memberskan rantang makanku di dapur. Arif dan Susi yang baru selesai shalat saling berpandangan dan menatapku penuh tanya. Aku hanya memberi kode agar mereka lekas mandi dan bersiap sekolah. Arif mengangkat bahu dan mengambil handuk yang sebelumnya dia letakkan di kursi makan. Susi kembali ke kamar untuk mengecek tas sekolahnya.

“Ti, Rahmat itu anakku. Aku masih dan tetap punya kewajiban untuk menafkahinya. Termasuk biayanya sampai dia jadi sarjana,” jawabku berusaha tenang.

“Sarjana?” ulang Ranti sinis. “Mau jadi apa dia selepas lulus? Sastra gak bisa ngidupin dia. Coba dulu masuk teknik atau ekonomi. Atau seenggaknya jadi kayak kamu itu, sarjana hukum. Cita-cita ibunya kok diterusin. Penyair bisa makan enak di restoran tiap minggu?”

Perempuan bermata cokelat dan berambut sebahu itu masih mengoceh. Aku sudah berat mendengarnya. Dia janda yang ditinggal meninggal suaminya empat tahun lalu. Maya, istri pertamaku yang menyuruhku menikahinya. Padahal aku malas. Tapi, “Anak yatim akan menjadi ladang amalmu, Mas. Ingatlah itu,” ucap wanita berambut ikal yang baru berjilbab setahun lalu dan lebih tua dariku lima tahun itu, sebulan sebelum aku menikah dengan Ranti.

Kata Maya sambil terkekeh, kalau Ranti ngomel, sebaiknya kamu dengarkan tanpa perlu emosi. Perempuan itu memang bermulut pedas, tapi hatinya yang terdalam justru baik. Maya benar. Sepupunya itu memang bawel kalau cemburunya kumat. Tapi jika dia ingat Rahmat suka membantunya ke pasar atau menemani dua anaknya ke kebun binatang, dia bisa memuja pemuda itu laiknya anak kandung.

Tapi subuh tadi, mulut Ranti sudah kelewat batas. “Kita kan gak tau uang darimu itu dipakai apa. Masa sih setiap bulan minta uang seratus ribu. Sebesar itu untuk apa? Padahal uang kost, uang makan, dan uang transport sudah kamu kasih. Meski kamu orangnya menteri kehutanan, bukan berarti anakmu bisa seenaknya toh? Sudah setahun tak pulang. Bahkan lebaran kemarin pun dia malah ke Bromo. Jangan-jangan gosip ibu-ibu itu benar. Anakmu dipelihara orang. Anakmu jadi gigolo.”

Aku refleks menampar Ranti hingga ujung bibirnya terluka. Aku sangat emosi. Aku benar-benar tidak terima bila Rahmat dituduh gigolo. “Tega sekali kamu, Ti. Dia itu keponakanmu. Dia itu juga anakmu. Ibu macam apa, kamu?” Aku masih harus menahan volume suaraku agar tak lepas kontrol dan membuat riuh tetangga.

“Buktikan saja ucapanku. Jika aku salah, aku yang angkat kaki dari sini. Jika aku benar, kamu yang angkat kaki. Ini tentang nama baik keluarga Nataprawira,” suara emosi Ranti membuat Susi dan Arif menelan ludah dan buru-buru pergi ke sekolah. Aku memberi uang jajan kepada mereka berdua. Setelah pamit, mereka boncengan dengan sepeda kumbang warisan dari aki uyut.

“Pak, mau pakai teleponnya?” tanya seseorang membuyarkan lamunanku. Aku gelagapan.

“Oh? Oh ya. Benar. Maafkan saya. Saya mau menelepon anak,” aku menjawab dengan tawa canggung.

“Dari tadi Bapak sudah dilewati lima orang. Saya pikir Bapak tidak sedang menunggu antrian. Saya sudah selesai, Pak. Permisi,” ujar ibu bertubuh gemuk berusia sekitar enam puluh tahun itu tersenyum. Aku menangguk.

“Pak Sartono?” tanya seseorang dari kejauhan. Aku menoleh. Pria muda itu menghampiriku dengan wajah riang. “Halo, Pak. Saya Tri, dulu kerja di kehutanan. Sekarang saya kerja di pelabuhan.” Dia menjabat tanganku penuh semangat.

“Ah, ya! Tri Surya? Ingat! Apa kabar?” aku tertawa melihatnya lebih gemuk daripada terakhir bertemu dengannnya dua tahun lalu…

“Sehat, Pak. Lah, Bapak sendiri juga lebih berseri sekarang. Enak nih, jadi orangnya pak menteri. Lah, tapi ngapain di sini, Pak? Nelepon? Dari kantor kan bisa?”

“Lagi mau sendiri sebentar. Hehehe… Sumpek habis meeting tadi pagi. Saya juga mau nelepon Rahmat dari sini saja.”

“Rahmat masih kuliah di Sastra, Pak? Minggu kemarin saya ketemu dia di Surabaya. Waktu saya ada dinas ke pelabuhan, ngeliat dia sama perempuan. Gak tau juga siapa. Mungkin Pak Tono tahu. Seusia Bapak. Tantenya, barangkali.”

Rasanya disamber geledek gini hari. Tapi… “Kamu yakin gak salah lihat?” tanyaku gak yakin.

“Gak mungkin salah, Pak. Dia juga ngenalin saya. Wong kita sempat teguran kok. Cuman dia nampak buru-buru gitu.”

“Dia mau ke mana?”

“Bali, katanya. Beneran Bapak gak tau dia pergi ke sana?” Tri tak menyadari perubahan mukaku yang mendadak panas. Rasanya seperti tersengat listrik. Tak biasanya dia begini.

“Gak, Tri. Saya gak tahu.” Suara pelanku tak terdengar Tri, tepat ketika sebuah mobil melintas.

“Saya kembali ke kantor dulu, Pak. Tadi kebetulan baru kirim berkas ke kantor walikota dan lewat ngeliat mobil Bapak.”

“Oh ya, Tri. Makasih loh infonya. Saya kan jadi gak usah nelepon dia. Biar nanti paling dia nelepon ke rumah,” aku berusaha tertawa kecil.

Setelah Tri pergi, kepalaku mendadak sakit dan berdenyut. Perempuan seusiaku? Ke Bali? Bahkan tak pamit kepadaku? Apakah Maya tahu? Apakah Maya tahu?

Jam segini biasanya Maya sedang tidur siang. Sore nanti dia sibuk arisan. Aku memutar nomer telepon rumah Rawamangun. Dua dering, tiga dering, empat… “Halo?”

“Maya? Sedang apa?”

“Mas Tono? Baru saja pulang dari rumah Pak RT. Nanti malam rapat untuk tujuhbelasan lusa. Ada apa, Mas? Ranti dan anak-anak sehat?”

“Mereka sehat. Oh ya nanti malam aku hadir deh rapatnya. Sekalian aku juga mau pinjam ransel Rahmat.”

“Mau ke mana, Mas? Tumben aja.”

“Nyusul dia.” Aku berharap Maya tahu anaknya pergi ke mana.

“Ke mana, Mas?” pertanyaan Maya menyentakku lebih sakit lagi. Kepalaku semakin nyeri.

“Kamu gak tahu dia sedang ada di mana, May? Memangnya dia ada di mana selama seminggu ini? Dia gak pulang udah berapa lama?”

“Dia bilang mau naik Mahameru. Itu aja.”

“Ke Mahameru tak harus sampai selama ini, May. Dia tidak sedang pergi ke Tibet!” aku benar-benar emosi. Rahmat bahkan tak bilang pada ibunya.

“Mas, kamu kenapa sih? Rahmat kenapa? Dia ada di mana?” suara Maya terdengar mulai panik.

Mataku panas. Jantungku seperti tersengat. Sekelebatan, aku seperti melihat Rahmat di kejauhan. Memeluk perempuan dengan mesranya. Perempuan yang lebih cocok menjadi ibunya.

Pandanganku mulai kabur. Nak, Bapak rindu padamu… Kita bahkan belum sempat menuntaskan janji untuk pergi umroh.

Semuanya gelap.


tantangan nulis berlima bersama Jaka, Doroii, Adel, Ade.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s