Kebiasaan Mengurangi Penggunaan Material Plastik

Kalau diingat-ingat, dari aku kecil, sebenarnya sudah dilatih menggunakan misting (kotak makan) dan tumbler (tempat minum) yang biasa kusebut tempat bekal ke sekolah. Sejak TK, aku selalu membawa masakan dari rumah. Plus minumnya. Uang yang diberikan hanya untuk ongkos. Jadi, kalau uang ongkos dipakai jajan, risiko aku bakalan pulang ngesot deh. Kebayang jaraknya? Dulu aku sekolah di daerah Kesambi Cirebon. Rumahku di Jalan Kusnan Kecamatan Kejaksan. Kebayang? Belum? Silakan ukur dengan googling deh. *ngerjain#

Namun mulai kelas 3 SD, aku ogah bawa tempat bekal karena diledek teman, “Ih, kayak anak teka aja masih bawa bekel. Mending jajan.” Dasar anak kecil yang jiper, aku mulai melakukan aksi protes pada tanteku di rumah. “Gak mau bawa bekel lagi ah. Jajan aja.” Mama awalnya marah dan khawatir kebersihan jajanan di sekolah. (puluhan tahun kemudian, aku pun melakukan hal serupa pada anakku. Muehehehe…)

Mamaku dulu selalu membeli peralatan makan dari Tupperware (aku gak lagi promosi atau jadi buzzer yah! :p ) dan semua lengkap. Tempat nasi, sayur, lauk, buah, roti, camilan… Sampai semua tempat sayuran, daging, buah, dan bumbu dapur di kulkas + dapur pun pakai. Tapi… Emang ya hama bernama mikimos itu sadis. Hancur hampir 80% peralatan Tuppy di rumah. Barang mahal emang jadi incaran penjahat! Huh! *makanya aku benci sama mikimos dari dulu# hahahaha *digampar fans mikimos#

Ketika kuliah, aku memakan tempat minum dari Tuppy. Tapi ya gak bertahan lama. Bandelnya aku, beli minum dari gelas plastik atau botol kemasan, trus buang aja (ke tempat sampah tentunya). Bertahun-tahun, aku sering melihat yang membawa tempat bekal itu menjamur di kalangan pekerja kantoran di bilangan Sudirman Jakarta. Bahkan bos Jepangku juga pakai misting dan tumbler. (iye emang beda lah ya negara maju mah kalau soal kesehatan).

from pinterest

Bicara soal Jepang, aku baru sadar ketika melihat film Rurouni Kenshin – Kyoto Inferno, saat adegan Kaoru pergi ke Kyoto untuk menyusul Kenshin (Lord, aku gak nemu foto potongan adegan yang pas, tapi foto di atas bisa mengingatkanmu), aku melihat gadis itu membawa tempat minum dari kayu. Hey! Itu tumbler kuno! Bayangin ajalah zaman Restorasi Meiji itu kapan.

Kembali ingatanku kepada kedua orangtuaku yang sebenarnya sudah mendidikku untuk membawa tempat minum dan makan sendiri ke mana pun pergi. Aku selalu beralasan ribet dan rempong. Kebayang, sejuta orang mikir kayak aku, berapa banyak sampah menggunung? Uyeah!

Mama selalu mencontohkan bawa tas belanja sendiri ke pasar tradisional atau swalayan. Kalau mau beli makanan jadi pun bawa rantang dari rumah, jadi gak pakai plastik pembungkus dari tukang makanannya. Mama gak peduli dibilang kuno atau ribet oleh orang lain. Akunya yang sok gengsi (padahal lebay). Piknik ke mana pun, Mama lagi-lagi ‘direpotkan’ oleh tempat makan bertumpuk dan beberapa tumbler. “Kan tinggal dicuci aja tempatnya, Teteh,” begitu selalu kata Mama setiap aku melancarkan protes harus bawa perlengkapan perang seperti itu.

Kini, setelah di Bandung. Aku mengetahui ada komunitas aksi Bandung Clean Action, kembali aku seperti ditampar. Ayo, disiplin lagi seperti yang dicontohkan orangtuamu dulu, An! Apalagi sudah ada anak. Untunglah, mereka mudah mengaplikasikan contohku. Aku gak perlu banyak bicara. Tanganku saja yang bergerak mengambil sampah di sepanjang jalan yang kami lalui. Aku membuang sampah di rumah dengan cara dipilah (botol kemasan / segala tempat plastik dikumpulkan di kantong lain untuk didepositkan sementara yang organik — bekas sayuran dan lainnya — kadang diberikan ke ayam tetangga atau kucing, kertas koran bekas pembungkus diberikan ke aki sampah setiap 2x seminggu).

Bukan hal yang mudah juga. Tapi alhamdulillah krucil di rumah malah sekarang yang mengingatkanku. “Bunda, sampahnya itu jangan dibuang sembarangan!” Hahahaha… *plak!# Setiap ke minimarket atau mana pun, membeli minuman atau camilan, mereka selalu bilang, “Gak usah diplastikin. Mau langsung diminum.” Hehehe🙂

Yuk ah, kita kembali disiplin. Plastik sangat sulit terurai. Kaleng dan kaca? Yah, sama. Styrofoam sebaiknya dihindari kecuali amat sangat terpaksa. Oh ya, penjual seblak itu semuanya masih menggukana styrofoam. Sebaiknya kamu yang mau beli jajan seblak, bawa misting sendiri!

Mayor Bill de Blasio announced on Thursday that all plastic-foam containers and packaging will be banned from New York City as of July 1. Restaurants, stores and manufacturers will no longer be allowed to possess, sell or offer items made with expanded polystyrene (EPS).

The ban on Styrofoam stems from a law passed in December 2013 that gave officials a year to determine whether EPS could be recycled in a safe, environmental effective and economically feasible matter. According to the mayor’s office, the Department of Sanitation determined it cannot. (from Entrepreneur)

Jadi, yuk berpikiran lebih maju. Ingat, kita menyewa bumi ini dari generasi cucu dan cicit kita. Mereka meminjamkannya pada kita untuk dipakai hari ini. Tegakah kita mengembalikan kepada mereka dengan segudang masalah sampah?

Mari kita mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan mulai hari ini.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s