Ikut Ajang Pemilihan Putri-putrian? Bukan Aku Banget!

Ini ngetiknya sambil inget kejadian yang bikin aku dan Fira ngakak berdua di BBM. Asli, ini mungkin yang namanya kurang informasi, kurang banyak tanya, kurang penasaran, dan malah ‘terjebak’ di situasi yang serba salah.

Semua berawal dari rasa penasaranku karena twit di akun Miss Clean Action minggu lalu (5 Juni):

Miss Clean Action registration

Ya, ketika membaca twit tersebut, aku langsung tanya…

Miss Clean Action -tanya

Kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku? Miss Clean Action membutuhkan tim baru untuk mengkampanyekan #Gerakan1000Tumblr dengan cara seperti ini. Namun, di saat aku bertanya dan mengirim surel, aku sempat berpikir janggal… “Ini maksudnya milih anggota tim atau ajang putri-putrian whatsoever ya? Bukan jadi relawan kayak link pendaftaran Bandung Clean Action? Apa iya jadi relawan harus ada tes dan penilaian fisik?” Udah kagok edan, yowes lah. Toh nothing to lose. Karena gak mikir apapun.

Apalagi sampai tanggal 9 Juni, gak ada kabar apapun… Hingga menjelang Maghrib. “Besok datang ke Bumi Bandhawa Hotel di Cigadung ya?” Telepon dari Teh Nana, salah satu relawan MCA. Aku bengong dan bingung. Oh… Baiklah. Trus ngapain ya besok? Mungkin pembekalan mengenai MCA at a glance something lah ya?

Aku paling mudašŸ˜› *dikeplak* Di foto ini aku, Fuji, Dina, Maera, Tria, Alisa, dan Mauli. Pagi hari, baru kami yang hadir.

Drama pun dimulai dari pagi hari, aku nginem selepas subuh, berangkat pukul 7 pagi dan sampai di lokasi pukul 09.30 WIB. Meh, drama nyasarnya gak nahan. Seperti biasa!

Sampai lokasi, isi daftar hadir, dan cari colokan! *Andiana Banci Colokan Moedasir#šŸ˜€ Setelah itu ngumpulin nyawa, sarapan sendirian *ngumpet# deket kolam (laper buanget bray!) dan baru berkumpul dengan mereka yang ada di foto atas itu.

Semua peserta berusia dari 18-24 tahunan… Dan aku? Ini gak pada salah kan ya meloloskan aku ke seleksi ini? langsung mendadak seperti dikerjain# hahahahaha :DĀ Apalagi ketika bertemu Teh Hani yang langsung bertanya, “Kamu ngapain di sini?” Ā muka nyengir bingung# dan juga Bli Gede, “Hei, Teh! Ikutan juga?” Lagi-lagi aku hanya nyengir.

Aku baru sepenuhnya sadar ketika salah satu tim Miss Clean Action bilang bahwa penjurian dilakukan oleh beberapa orang. Salah satunya adalah Bapak Willem Bevers,Ā pengajar dari Gathaya Personal Development. Perasaan dan pikiranku langsung meradangšŸ˜› Meh, beneran ini ajang putri-putrian ya? Kenapa sih gak dijelaskan dari awal dan ada pembatasan usia sekalian? Aku merasa renta… Fufufufufu…

Ketika aku masuk ke ruang penjurian (setelah shalat dzuhur), Pak Willem memintaku menjelaskan siapa diriku dengan cara berjalan. *crap!# (you know kan aku ini tomboy blas???? *nangis#) Apalagi ketika beliau bertanya, “Dari foto Anda dan penampilan saat ini, Anda suka sekali menggunakan sepatu santai. Jika menjadi Miss Clean Action, bisa menggunakan high heels?” Aku langsung menjawab, “Tak lebih dari 5 senti.” (dari jawaban yang langsung dipotong oleh beliau, aku semakin tak karuan. Semua miss whatsoever itu pasti akan pakai stiletto 12 senti, An!) Merasa terjebak di ruangan sempit itu. Dengan 3 orang juri dan 3 orang relawan BCA, aku langsugn terdistraksi. Aku gak bisa menghadapi banyak orang asing dalam satu ruangan diinterogasi begitu. Snif.

Ketika giliran Teh Hani yang bertanya, “Kamu kapan jadi leader? Selama ini aku lihat kamu hanya bisa berkomentar. Gak bisa kasih ide apa gitu?” Ini seperti rada menjebak atau malah pertanyaan yang membutuhkan jawaban seperti tesis. Jujur saja, aku bukan tipe konseptor. Jadi kalau ditanya ide, jelas aku blur and blank. Aku bukan orang yang suka dan bisa memberi ide di depan orang baru atau di lingkungan yang sama sekali belum kukenal. Salah satu alasan adalah karena aku tak mau dianggap sok tahu. Tetapi kalau draft tugas sudah jelas, aku bisa mengeksekusinya dengan nyaman dan cepat. Iya, aku tipe eksekutor di lapangan. Aku bisa jadi leader di lapangan saat bertugas, bukan tim perumus ide. Kecuali… Aku sudah mengenal lingkungan tempat aku bergabung. Lain soal. Aku bisa mengeluarkan semua ide yang berkeliaran di otak tanpa kendali. MuehehehehehešŸ˜€ Itu sebabnya aku merasa pertanyaan Teh Hani tak bisa kujelaskan dalam waktu singkat. Aku hanya menjawab, “Aku butuh belajar. Makanya aku mau bergabung di sini karena butuh pengalaman baru.” Begitu saja. NgambangšŸ˜› Tipe ENFP banget gak siiiihhhh….

Keluar dari ruang penjurian dengan kepala berasap. Antara mau ngetawain diri sendiri yang begonya kebangetan (karena gak ngeh ini kegiatan apaan) dan pusing dengan pertanyaan jebakan para juri. Wajah tidak fotogenik dan bukan camera face pun, jadi ya benar deh akunya yang udah gak tau diri kali ye? *nulisnya masih ketawa aja inih#

Kupikir, acara selesai dan semua yang sudah diwawancara bisa pulang. Ternyata gak! Kami harus menunggu dan membuang waktu percuma selama lima jam ke depan karena banyak peserta yang terlambat datang. Mau emosi sebenarnya, karena aku bela-belain datang pagi dan meninggalkan anak (sama dengan cerita Fuji yang dari Tangerang datangnya pukul 1 dini hari demi ke Cigadung), dan sudah berjanji pula pulangnya siang. Haish, sampai rumah pukul 20.30 WIB doooonnggg…

Di sela kekosongan acara yang lumayan lama itu, kami hanya bisa berbincang santai. Tapi sepertinya, ada sedikit unsur kesengajaan… Para juri menilai bagaimana kami berinteraksi dengan orang lain. Behavior and attitude? LOL! Something like that. Aku sih gak jaim. Lah emang aku nyablak, tomboy, dan cuek. But yes, am strong enough to face anything almost impossible. Aku emang bukan putri ayu, tapi aku putri tangguh lah. *grin#

Jadi, ketika aku dinyatakan tidak lolos tahap selanjutnya, girang banget. Lega! HahahašŸ˜€ Karena kalau lolos, pasti ada yang salah dengan mata para juri. HihihihišŸ˜›

Sayangnya, selama lima jam itu, tak ada dari tim relawan itu yang sekadar menjelaskan apa MCA, apa BCA, apa Recyclebank, dan siapa mereka. Akhirnya membuatku bertanya sendiri, Jika 8 orang lolos itu sudah dipastikan ada tugasnya, 8 orang sisanya bagaimana? Mengapa tak langsung ditunjuk untuk mengisi kekosongan divisi yang ada, misalnya? Mereka kan akan lebih merasa diapresiasi gitu.

Well, life is about competition, anywayšŸ˜‰

Segitu aja dulu yah? Oke.

PS: Untuk Fira. Iya, sekarang lu puas kan ngeledekin gue yang udah uzur ini secara ajaib ada di tengah para cewek unyu? *ngakak koprol sampe Madagaskar#

Dan untuk seseorang yang mungkin bertanya-tanya aku kesambet apa bisa sampai ada di kegiatan putri-putrian, well… Ini murni aku yang miskom. Tapi lumayan lah jadi nambah temen baru dan pengalaman barušŸ˜‰

4 thoughts on “Ikut Ajang Pemilihan Putri-putrian? Bukan Aku Banget!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s