Mengapa Orang Islam Terganggu Dengan Suara Tilawah & Adzan?

Ini pertanyaan yang bisa ditanggapi dengan jawaban ala disertasi kayaknya. Ranah agama memang sensitif. Aku ingin membahas pernyataan wapres Jusuf Kalla yang berkata pada tahun 2013:

“Kalau subuh, pengeras suara untuk azan dan mengaji tidak usah keras karena tidak semua orang di sekitar masjid ini, bangun salat subuh,” kata Kalla dalam siaran pers diterima merdeka.com, Sabtu (22/6). Dia menambahkan banyak penganut agama lain dan bisa mengganggu tidur mereka.

Kok aku agak kurang sreg ya? Karena jelas-jelas tetanggaku di Depok yang beragama Nasrani berkata, “Nenek seneng bangun subuhnya sama suara pengajian dari masjid. Itu jadi weker alami Nenek. Kalau sudah terdengar ‘bismillah’, Nenek bisa langsung bangun deh.” Waktu kutanya apakah suara keras dari masjid itu mengganggu? Aku tanyanya sekitar tahun 2010an deh. Nenek Nirmala juga bilang sambil tersenyum, “Setiap azan dari masjid, Nenek jadi tahu sudah jam berapa. Gak perlu liatin jam dinding lagi.”

Ternyata ada juga teman Nasraniku yang lain bilang, “Gue gak usah pasang weker kalo subuh mau ngantor. Dibangunin sama pengajian dari masjid. Enak. Untung juga ya tinggal deket masjid?”

Oke, ini hanya sebagian kecil contoh yang tak terganggu. Lagi pula, kalau tetanggaku sedang ada kebaktian dan mereka bernyanyi dengan suara keras plus piano / organ dipasang agak kencang, aku gak protes. Ikutan dengerin aja dari rumah.

Kini, Jusuf Kalla kembali membuat pernyataan yang bikin gerah.

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta agar pengelola masjid di Indonesia berhenti memutar kaset pengajian. Menurut Kalla, kebiasaan ini tidak membuahkan pahala bagi pemutarnya, tetapi justru menganggu warga sekitar.

“Permasalahannya yang ngaji cuma kaset dan memang kalau orang ngaji dapat pahala, tetapi kalau kaset yang diputar, dapat pahala tidak? Ini menjadi polusi suara,” kata Kalla saat menghadiri pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia di Pondok Pesantren Attauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah, Senin (8/6/2015).

Kalla yang juga menjabat Ketua Dewan Masjid Indonesia itu menceritakan pengalamannya ketika pulang kampung ke Bone, Sulawesi Selatan. Ketika itu, Kalla merasa terganggu dengan suara pengajian yang disiarkan empat masjid di sekitar rumahnya.

Kaset pengajian mulai diputar pukul 04.00, padahal shalat subuh baru dimulai pukul 05.00. Karena suara pengajian yang diputar keras tersebut, Kalla pun terbangun.

Membacanya membuatku pusing. Jelas yang mendengarkan pun mendapat pahala. Apalagi jika yang mendengarkan itu ada uzur tak dapat membaca Quran karena sakit. Mendengarnya membuat hati adem, damai, nyaman. Terganggu karena pengajian dan jadi terbangun? Lah, ya sudah sekalian saja tahajjud, Pak! Ketahuan deh gak pernah melaksanakan qiyamul lail ya? Kena deh!

Padahal jika banyak tempat ibadah di sekitar rumah (di lingkunganku ada 2 mushala dan 2 masjid, ramai banget tapi seneng aja jadi tau waktu shalat), tinggal para marbot itu bermusyawarah bagaimana agar suara dari masjid tak mengganggu. Polusi suara? Oh, please!! Kenapa mendadak aku meragukan wapres ini akan bisa dan mau membela agamanya sendiri sih ya?

Akibat celoteh protes wapres tua ini, ustadz Yusuf Mansyur sampai harus meminta maaf jika suara dari masjid dianggap sebagai gangguan.

Saat ini, Pak Mamat, jg semua merbot, yg notabene tdk sebaik&seindah kalo Muammar ZA mengaji lwt kaset yg dibrodkes Speaker Masjid &pastinya bukan Pak Mamat&merbot2 lain yg ngaji, sbb sdh pasti itu adalah kaset. Beliau2 yg nyetel, akan dpt pahalanya…

Aaahhh… Kelewat banyak hutang saya. Pd speaker masjid, pd kaset2 ngaji, &kaset2 tausiyah, yg diperdengarkan dari masjid…

Saya rindu itu semua…

Kalo dah dtg rasa rindu, rasa kangen, suka netes air mata… Saat ini, udah semakin banyak masjid yg ga berani lagi nyetel kaset2 itu…

Apalagi nanti… Di malam2 Ramadhan… Bahkan di malam takbiran… Semua bakal sunyi senyap… Mdh2an tidak… Saya rindu suara2 itu…

Maafkan masjid2… Maafkan surau2… Maafkan langgar2… Jika suara2 kaset, atau suara2 asli, terasa mengganggu…

Aku malah khawatir jika nikmat pendengaranku diambil oleh Allah sewaktu-waktu. Bagaimana aku bisa mendengar lagi azan nan penuh semangat itu? Bagaimana aku bisa mendengar tilawah dan murottal lagi? Sungguh, aku merasa ngeri sendiri. Takut. Takut bila hilangnya nikmat mendengarkan seruan muadzin dan cinta Allah melalui pengeras masjid dan pemutar kaset (sekarang bisa DVD) membuatku juga bisa merasa jauh dari Allah…

Mungkin ini hanya kelebayanku saja. Mungkin wapres sudah khatam Quran dan hafidz sehingga tak membutuhkan suara murottal yang menurutnya dipasang keras itu mengganggu. Mungkin wapres tak butuh keindahan dan kesyahduan itu menyelinap ke dalam sukmanya lagi. Mungkin lho ya? Karena kalau masih butuh, gak mungkin protes. Aku aja gak protes kalo dengerin kebaktian. Karena kebaktian bukan panggilan ibadahku dan aku bertoleransi dengan umat lain. Lah kalau aku protes karena murottal sangat mengganggu, aku harus menanyakan keislamanku sendiri.🙂

Padahal, suara murottal dan azan itu sudah terbukti menjadi sarana hidayah Allah bagi manusia pilihan-Nya. Sudah banyak kisah muallaf yang tergerak karena indahnya panggilan ibadah dan firman Allah yang diperdengarkan dari rekaman. Pahala bagi yang mengaji, yang memasang rekamannya, dan yang mendengarkannya. Semua mendapat pahala. Kok bisa disebut pahalanya hanya untuk orang tertentu?

Mohon maaf atas segala kekurangan.

Waullahu’alam.

One thought on “Mengapa Orang Islam Terganggu Dengan Suara Tilawah & Adzan?”

  1. ya, betul tuh, bagaimana kalau sang wapres diambil pendengarannya leh Yang aha Kuasa, yang memberi pendegaran, kuping bisa dibikin, tapi pendengaran..??????

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s