Ngojek : Sebuah Profesi Aman dan Nyaman

Disclaimer: Tidak sedang menjadi buzzer sebuah merek / perusahaan. Otreh?

Ya, aku menyebutnya masalah tiada akhir. Buatku, ya. Karena pada kenyataannya, kegamangan itu ternyata tak hanya kualami sendiri. Lirik kanan kiri pun sama. Ya sudah, pembahasanku kali ini agak unik. Menyoal sebuah profesi yang sedang ngetren dan jadi perbincangan warga dunia maya.

Aku mau ngobrolin satu profesi yang bisa dikerjakan oleh semua orang, sebenarnya. Ngojek. Iya, jadi tukang ojek. Honestly, ini pekerjaan mulia. Apalagi kredit motor bisa diperoleh dengan sangat mudah saat ini. You know kan yang namanya kota besar pasti macetnya menjijikkan. Meeting? Harus ke stasiun kereta? Harus beli obat tapi gak ada yang bisa ke apotek? Mau kirim dokumen dari Lebak Bulus ke kantor suami di Dukuh Atas karena sangat mendesak? Hasil perahan ASI harus sampai rumah demi si kecil? Nah, tukang ojek menjadi malaikat penyelamat di mana pun dan kapanpun. Di… Jakarta! Hahahaha… Well, waktu aku tinggal di Depok dan segala urusan kerjaan di Jakarta pun mengalami serunya menembus kemacetan bersama tukang ojek. Memang sih, harus adu argumen dulu soal tarif. Sebenarnya sih aku cuman ngetes. Mau gak dengan jarak 2KM hanya dibayar ceban, misalnya. *dibantai#

Tukang-Ojek

Oke, jadi gini. Apa hubungannya dengan judul? Ada. Kamu bisa jadi tukang ojek secara mandiri. Itu juga termasuk freelancer versi aku. Keren lho. Siapa bilang ngojek itu kerjaan rendahan? Bisa disambi kalau siangnya kamu kerja kantoran, pulang kerjanya ngojek sampe tengah malam. Yekali lagi kejar setoran buat modal nikah. *ngikik# Tapi, amankah ngojek? Ya amanlah! Modal kita kalau menggunakan moda umum apa sih? Keamanan dan percaya si supir akan membawa kita ke tempat yang dituju, kan? Tapi (lagi), kamu juga bisa jadi mitra sebuah perusahaan transportasi umum ini.

Mitra? Katakanlah demikian. Penduduk Jabodetabek pastinya sudah mengenal GO-JEK kan? Layanan jasa transportasi (plus pengiriman barang dalam kota) dengan praktis, aman, tepercaya, dan keren. Gitu. Well, seperti yang kubaca di Metrotvnews ini:

Metrotvnews.com, Jakarta: Tukang ojek yang bergabung dengan Gojek memiliki penghasilan mencapai Rp 3 juta per bulan. Uang itu diterima setelah dipotong 20 persen dari perusahaan Gojek.

“Gojek tidak menerapkan sistem gaji pokok. Semua dibayar dengan bagi hasil perolehan keuntungan. 80 persen untuk tukang ojek dan 20 persen untuk Gojek,” kata Samsul yang sudah bergabung dengan Gojek, saat ditemui metrotvnews.com, Senin (23/2/2015).

Dia merincikan, penghasilan sebulan dari bagi hasil dengan Gojek sekitar satu juta lebih, ditambah dari ngojek pribadi Rp1,5 juta dan bonus yang diberikan oleh penumpang tergantung dari sifat serta kondisi penumpang. “Dari Gojek saya juga dapat bonus, jika ditotal dalam satu bulan minimal Rp 3 juta,” ujar Samsul.

Dia mengungkapkan, penghasilan itu lebih besar ketimbang mengojek sendiri. Karena dengan Gojek dirinya tidak perlu keliling mencari penumpang. Selain itu, dengan Gojek tingkat kepercayaan masyarakat kepada dirinya lebih tinggi. “Kalau ojek pribadi kerjanya sendiri, keliling sendiri. Sekarang saya sama kantor. Sini dapet, sana dapet, masyarakat juga lebih percaya karena merasa aman, semua yang ikut Gojek terdaftar,” katanya.

Selain itu, tukang ojek Gojek memiliki kesejahteraan yang lebih setelah bergabung dalam perusahaan itu. Dalam dua minggu, pria yang mangkal di bawah flyover rel kereta Stasiun Gondangdia itu mengaku sudah mengantongi uang Rp500 ribu dari Gojek. “Itu baru dari Gojek saja,” kata Samsul.
FZN

gojek-ojek

credit: go-jek.com

Aku menangkap beberapa keyword yang pasti dicari oleh seluruh pengguna jasa maupun orang yang tertarik bergabung dengan GO-JEK: penghasilan lebih besar, tingkat kepercayaan masyarakat lebih tinggi, dan bonus. Oke, semua setuju bahwa keamanan dan keselamatan adalah utama. Ketika dua hal itu dicari, jujur, aku memang pemilih dalam mencari tukang ojek. Tak jarang, setiap turun KRL di stasiun di Jakarta, itu yang nawarin ojek pasti banyak dan berisik. Nah, aku bisa saja malah tak jadi naik ojek bila merasa tak nyaman. Mungkin mereka baik dan jujur, tapi akunya keburu parno. Oke abaikan bagian ini.

Nah, GO-JEK membuat semuanya jadi nyaman. Karena, setiap tukang ojek yang bermitra pastinya terdata. Jadi, ketika ada kendala atau masalah, pelanggan / pengguna jasa akan melakukan protes dan pihak perusahaan akan melacak dan memberi sanksi. Oke. Tarifnya untuk PEAK HOUR dari pukul 16.00 – 19.00 WIB Senin-Jumat adalah Rp35.000,- Aman dan nyaman. Bandingkan dengan ojek pribadi yang bisa jadi lebih mahal (belum lagi ditambah drama keluhan macet, hujan, apalah).

Memang, kita tak pernah peduli siapa yang menjadi tukang ojek, asalkan bisa tiba di tujuan dengan selamat. Masalah muncul ketika mulai ada kesenjangan sosial antara registered driver dengan yang sudah lama biasa mangkal. Berikut salah satu masalah yang terekam dan jadi perbincangan.

sumber Path, ambil dari Twitter. *ribet*
sumber Path, ambil dari Twitter. *ribet*

See? Tukang ojek yang biasa mangkal merasa terancam dengan kehadiran GO-JEK. Tetapi, si abang tukang ojek itu pun juga sebenarnya bisa mendapatkan solusi terbaik: daftarlah ke GO-JEK. Bisa membuat para calon pengguna jasa lebih percaya kan? (iye aku mah ngomong gampang, padahal masalahnya lebih ruwet) Entah ya, bagaimana manajemen GO-JEK menyikapi masalah ini. Asli sih, sebenarnya nyaris tak ada beda antara tukang ojek pribadi atau yang bermitra. Toh ojek pribadi pun biasanya di pangkalan memiliki data siapa saja yang bertugas mangkal di sana. Rumah di mana, nomer telepon, dan beberapa ada yang menggunakan area kerja sampai radius berapa gitu deh.

Mungkin, di samping urusan keamanan, kepercayaan itu penting. Seberapa banyak sih yang berlangganan ojek pribadi di area segitiga emas Jakarta? Bagaimana bisa memercayakan sebuah dokumen penting kepada tukang ojek tak jelas? Well, kalau urus ke jasa pengiriman dokumen macam JNE atau TIKI ya ribet juga, kalau butuhnya harus sampai dalam maksimal 2 jam. Iya gak sih? *gak yakin#

Aku sih gak mau sok-sokan memberikan solusi di postingan ini. Hanya sekadar berbagi, ini lho fenomena yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Ojek itu dibutuhkan, anytime dan anywhere. Cepat. Kalau di sebuah lokasi sulit ojek, memang GO-JEK bisa diandalkan. Tapi kalau in a hurry, batere hape lobet dan gak bisa order GO-JEK, dan kudu sampe di lokasi dengan cepat, nemu ojek biasa, yowes ambil aja!😀

Ohya, kabarnya GO-JEK akan merambah Bandung dan Surabaya. Hmmm… Aku ini masih angkot lover kok. Gak terlalu butuh juga sama ojek kecuali sudah terlalu malam harus pulang dan gak ada angkot plus kalau mau pergi pagi banget sebelum subuh. Besides, macetnya Bandung seberapa sih? Masih bisa dijangkau dengan jalan kaki biar lebih sehaaaaatttt…

Sekian dulu ocehanku soal ngojek.

UPDATED:

Sejam berselang, ada konfirmasi resmi dari akun GO-JEK nih.

gojek disclaimer

 

 

Jadi… Ayo ngojek dengan aman, nyaman, dan tiati di jalan!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s