Tahapan Ukhuwah Islamiyah (dan Praktiknya di Masa Modern)

Kalau kita ke terasnya Om Google, ketik ukhuwah islamiyah bakalan dapat banyak sumber tulisan yang bagus dan cukup jelas. Ah, siapalah aku yang mau sok-sokan menulis hal seperti ini. Tetapi, seperti kewajiban muslim lainnya, sampaikan walau satu ayat itu wajib. Meski aku, jujur saja, enggan membebani diri dengan menyitir ayat. Tapi biarlah Allah yang menilainya ya?

Jadi gini,

Sebelum ke bagian pendapat pribadi, seperti biasa, aku akan menyalin apa yang berhasil aku dapatkan di terasnya si Om.

Firman Allah dan Sabda Rasul Tentang Ukhuwah

“Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah saat itu kalian saling bermusuhan maka disatukan antara hati kalian maka jadilah dengan Nikmat Allah saling bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. 3 : 103)

Ayat ini jelas sekali ditujukan bagi sesiapa yang hendak mengeratkan hubungan karena cinta kepada Allah, bukan lainnya.

Rasulullah Saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Imam Bukhari).

Tidak ada seorang pun yang tidak memiliki permusuhan antara kaum Aus dan Khazraj di kota Madinah sebelum Islam. Namun setelah masuk Islam, Allah menyatukan hati di antara mereka. Tidak ada solusi sedikit pun kecuali Islam yang dapat menyatukan hati yang beragam bentuknya, tidak ada yang terjadi kecuali karena tali Allah yang dapat menyatukan mereka menjadi saudara, dan tidak mungkin hati-hati itu akan bersatu kecuali karena ukhuwah fillah. (sumber: dakwatuna)

Tingkatan Ukhuwah

Tingkatan yang terendah dari ukhuwah adalah salamatush shadr, yaitu bersihnya hati kita dari perasaan iri, dengki, benci, dan sifat-sifat negatif lainnya terhadap saudara kita. Jika kita tidak bisa memberikan suatu kebaikan kepada saudara kita, paling tidak kita tidak memiliki perasaan yang negatif kepadanya. Termasuk juga dalam tingkatan yang terendah ini adalah selamatnya saudara kita dari kejahatan lisan dan tangan kita. Jangan sekali-kali kita melakukan kezhaliman kepada saudara kita.

Adapaun tingkatan ukhuwah yang tertinggi adalah itsaar, yaitu lebih mementingkan dan mengutamakan saudara kita diatas diri kita sendiri. Inilah dahulu yang pernah dicontohkan oleh para sahabat Anshor kepada para sahabat Muhajirin di Madinah. (sumber: menaraislam)

Tahapan Ukhuwah

Aku akan menggabungkan pengertian Ukhuwah Islamiyah antara lain dari Imam Hasan Al Banna dan Dr. Abdul Halim Mahmud. Boleh ya kalau kita berbeda pendapat? Gak boleh protes lho. Kita sepakat untuk tidak sepakat yah?🙂

Ta’aruf (Saling Mengenal)

Pepatah bilang: ‘Tak kenal maka tak sayang.’ Apalagi saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT (Q.S. Al Hujurat: 13)

Ta’aluf (Saling Bersatu)

Bersatunya seorang muslim dengan muslim yang lainnya, atau bersatunya seseorang dengan orang lain. Proses ini tidak akan mungkin terjadi jika ta’aruf itu tidak terlaksana, dan tak mungkin juga terwujud jika tanpa didasari penyatuan akidah dan dengan inilah hati yang berpecah akan bisa menjadi padu.

Tafahum (Saling Memahami)

Istiqamah dalam manhaj yang benar, menunaikan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya, dan tinggalkan apa-apa yang dilarang, melakukan evaluasi diri dengan evaluasi yang detail dalam hal ketaatan dan kemaksiatan, setelah itu bersedia menasehati saudaranya yang lain begitu aib tampak padanya. Hendaklah seseorang menerima nasehat saudaranya dengan penuh rasa suka cita dan ucapkan terima kasih padanya.

Tafaqud (Saling Perhatian)

Hendaklah seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar ia bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranyanya tersebut memintanya, karena pertolongan yang merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Di antara bentuk perhatian adalah menutupi aib saudara muslimnya, berusaha menghilangkan kecemasannya, meringankan kesulitan yang dihadapinya, dan membantunya dalam memenuhi kebutuhan, serta menjalankan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Islam atasnya untuk saudaranya itu.

Ta’awun (Saling Membantu)

Berangkat dari tafahum yang mencoba memahami keadaan saudara/i kita lalu tawarkanlah kepadanya bantuan dari kita untuk menolong mereka.

Tanashur (Saling Menolong)

Masih sejenis dengan ta’awun, tapi memiliki pengertian yang lebih dalam, luas, dan menggambarkan makna cinta dan kesetiaan. Seseorang tidak akan menjerumuskan saudaranya, kepada sesuatu yang buruk, tidak pula membiarkannya saat ia meraih suatu maslahat yang tidak membahayakan orang lain; mencegah dan menolongnya dari bisikan setan; menolongnya dari orang yang menghalanginya dari hidayah; serta menolongnya saat menzhalimi dan dizhalimi.

Takaful (Saling Mengayomi / Menanggung Beban)

Beban saudara/i kita adalah beban kita juga. Melihat teman yang sedang ditimpa kesusahan, kita ikut merasakan kesusahan yang mereka alami hingga kita mencoba untuk menolong mereka.

Jika semua tahapan di atas sudah terlewati dengan sukses, akan sampai pada tahap Itsar (tingkatan tertinggi). Berat banget yang satu ini. Banyak orang bertepuk dada menyatakan kesanggupannya, justru dia terperangkap dalam tahap pertama yang gak lulus-lulus: ta’aruf. Mengenal saudaranya sendiri saja tidak, bagaimana bisa mendahulukannya kelak?

Itsar (Mengutamakan Saudaranya Dibanding Dirinya Sendiri)

Mendahulukan saudaranya. Itsar adalah tingkatan tertinggi dalam ukhuwah. Itsar merupakan tingkatan imannya para sahabat Rasulullah SAW. Contohnya adalah ketika dalam suatu perang, salah seorang sahabat sangat kehausan. Ia hanya mempunyai 1 kali jatah air untuk minum. Saat akan meminumnya, terdengar rintihan sahabat lain yang kehausan. Maka air tersebut ia berikan kepada sahabat yang kehausan itu. Saat mau meminumnya, terdengar sahabat lain lagi yang merintih kehausan. Kemudian ia berikan air tersebut kepada sahabat itu. Begitu seterusnya sampai air tersebut kembali kepada si pemilik air pertama tadi. Dalam kondisi mendahulukan terlebih kepentingan sahabat lainnya akhirnya semua mati syahid.

Ukhuwah Era Modern

Jadi…

Ehm. Aku sedang kukurusukan di linimasa Twitter (sejak beberapa bulan terakhir) dan memperhatikan beberapa akun (yang entah mereka ini siapa) dikenal berada pada barisan sebuah kelompok tertentu yang mengatasnamakan dakwah.

Bagus. Banget. Ikatan di antara mereka sangat kuat dan kompak. Demikianlah ukhwah sebaiknya. Tetapi satu catatan penting yang mungkin terlewatkan: benarkah mereka SUDAH saling mengenal? Apa hobi temannya? Apa warna kesukaan saudaranya? Apa bacaan favoritnya? Apakah saudaranya punya alergi sesuatu? Lulusan sekolah manakah dia? Berapa bersaudara? Dan mungkin yang paling tak pernah digubris: saudaranya ini tipe Sanguin atau Koleris? Pedulikah dengan hal-hal demikian?

Mari kita abaikan bagian tersebut. Sampai ketika ada pihak yang kontra dengan mereka. Bagaimana mereka menyikapinya? Mengacuhkan? Menasihati? Mendekati? Merangkul? Atau menyerang? Oh, mungkin ini bisa disebut bentuk intimidasiku terhadap mereka. Nope. A big no no. It is a reality. It is fact. I know it just because I know.

Sependek pengetahuanku atas kelemahan imanku, aku tak pernah mengurusi yang bukan keahlianku. Atau, aku juga tak ambil pusing dengan orang-orang yang tak kukenal, meski boleh dikatakan kami dalam satu ikatan persaudaraan iman karena satu agama.

Media sosial di dunia maya sekarang sangat canggih. Kita bisa bercakap dengan sesiapa pun yang berada di belahan dunia lain tanpa batas waktu dan tempat lagi. Setipis ponsel pintar yang kita punya. Itu saja. Kita bisa mendadak dekat secara naluri dengan mereka yang satu hobi, satu cita-cita, satu selera, dan mungkin satu pandangan politik.

Kita bisa tetiba bermusuhan dengan saudara kandung hanya karena dia berpolitik sosialis dan kita demokratis. Misalnya demikian. Tetapi kadang lucunya, kita justru malah bisa semakin dekat dengan mereka yang kontra dengan kita dan malah semakin jauh dengan yang sepertinya satu koridor dengan kita.

Bingung? Contohnya adalah:

Sahabatku mendukung LGBT sementara aku menentangnya habis-habisan. Kami selalu adu debat dengan menyodorkan fakta maupun ayat Quran di linimasa. Tetapi di kehidupan nyata, aku dan dia bagai anak kembar. Sangat dekat, saling tahu apa phobia masing-masing dan siapa artis favoritnya.

Aku dan si A sama-sama menentang LGBT. Aku dengan gayaku, mencoba merangkul kaum LGBT dan berbicara heart to heart. Memposisikan diri dari sisinya. A, dengan caranya, melakukan pemaparan argumen yang nyaris tak bisa dibantah. Aku dan A bahkan tak pernah saling bicara. Saling tahu tapi tak satu huruf pun keluar dari mulut kami untuk berbincang. Ini ukhuwah?

Sampai di sini bisa dipahami ya? Bagaimana sebuah istilah “Ukhuwah Islamiyah” sejatinya sedang kabur dan buram di era super modern sekarang. Bagaimana sebuah ukhuwah bisa terjalin dan terbangun kokoh jika masih ada pihak yang enggan berta’aruf atau berkenalan dengan orang lain. Dengan orang satu visi saja sudah enggan meski gayanya berbeda, bagaimana jika perbedaan itu dari A hingga Z.

GAYA DAKWAH BERBEDA

Ingat, anak kembar saja memiliki perbedaan cukup signifikan, apalagi yang beda ayah dan beda ibu? Lantas, mengapa yang memiliki gaya dakwah berbeda bisa dianggap tak layak dan tak sesuai dengan kebutuhan ummat? Yakin?

Kembalikan pada firman Allah:

يٰٓأَيُّهَا    النَّاسُ    إِنَّا    خَلَقْنٰكُم    مِّن    ذَكَرٍ    وَأُنثَىٰ    وَجَعَلْنٰكُمْ    شُعُوبًا    وَقَبَآئِلَ    لِتَعَارَفُوٓا۟    ۚ    إِنَّ    أَكْرَمَكُمْ    عِندَ    اللَّهِ    أَتْقَٮٰكُمْ   ۚ    إِنَّ    اللَّهَ    عَلِيمٌ    خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujuraat:13)

Kita dilahirkan berbeda. Memaksakan semuanya untuk seragam jelas mustahil. We are not Nazi troops, anyway. Yekan?

Jika berharap ada kekuatan yang signifikan di antara ummat, biarkan masing-masing berdakwah dengan caranya. Selama itu benar menurut Quran dan Hadist, why bother?

Sebelum menghakimi bahwa pendakwah lain tak sesuai dengan tuntutan Quran dan Hadist, cek dulu… Sudahkah kita sendiri mengenal siapa saudara yang duduk melingkar dengan kita tadi malam? Siapa orang tuanya? Apa pekerjaannya? Siapa suami / istrinya? Di mana rumahnya? Pernahkah berkunjung?

Semoga Allah melindungi kita semua.

Waullahu’alam. Afwan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s