Mengomentari Akun Anonim di Media Sosial (3)

Awalnya tidak berniat melanjutkan sisa pikiran acak tentang akun anonim setelah bagian keduanya kelar, namun ketika sebuah twit terlintas di depan mata, maka ini bagian akhirnya….

Aku pernah berkomentar sekaligus bertanya retorik kepada satu akun anonim, “Bagaimana aku bisa mendoakanmu jika namamu pun bahkan aku tak tahu?”

Dia menjawab, lagi-lagi, dengan perbandingan al-Qassam. “Doakan saja yang umum. Allah juga maha tahu maksud doamu untuk siapa. Tentara al-Qassam tak bernama pun didoakan demikian di seluruh dunia.” He even didn’t get my question. Maksudku sebenarnya sih begini, jika sebuah akun anonim lama tak muncul di media sosial, tentu membuat pengikutnya bertanya-tanya ada apa. “Sudah lama A tak terlihat di linimasa. Ada apa, ya? Semoga dia baik-baik saja.” Ini bentuk perhatian yang baik, kan?

Ketika seseorang dengan akun asli disadari pengikutnya sudah lama tak muncul, tentunya ada yang akan segera menyadarinya. Mungkin keluarganya yang di luar kota, atau teman baiknya, atau bahkan salah satu pengikutnya yang sudah mengenalnya. Jika kemudian diketahui ada hal yang perlu diumumkan di media sosial, tentu mudah bagi yang mengenalnya untuk segera memberitahukannya. Entah pernikahannya, kelahiran anaknya, wisuda, orangtuanya wafat, diterima kerja, hingga berita terburuk sekalipun. Kecelakaan, sakit, sampai wafatnya akan lekas ketahuan.

Bandingkan dengan sebuah akun anonim yang datanya tertutup rapat. Tak ada seorang pun yang tahu. Ia tak membiarkan sesiapa pun tahu tentang dirinya. Jika terjadi sesuatu yang baik saja tak ada yang mendoakan, bagaimana bila terjadi sesuatu yang jelek? Oh, mungkin hanya sebuah alter akun? Oke, lantas akun aslinya siapa? Berapa banyak yang mengetahuinya? Berapa banyak yang akan menyadarinya?

Memang, banyak sekali akun anonim yang justru dikenal banyak orang karena dia tak segan berkenalan dengan orang lain. Sehingga ketika ada hal-hal yang tak biasa, teman-temannya segera mengetahui dan langsung memberitahu ke media sosial.

Kehidupan akun anonim rada mbulet ya? Terutama jika dia bukan alter akun. Ya, hanya itu akun satu-satunya. Jika alter lebih dikenal dari akun asli juga bingung, apalagi bila tak ada yang tahu akun aslinya. Lebih mudah dilupakan orang pun.

Kenapa begitu peduli dan mau pusing dengan keberadaan mereka, An? Bukankah suatu hal yang wajar bila ada yang seperti itu? Sebenarnya aku tak pernah mau pusing dengan mereka. Kenal di kehidupan nyata juga gak, apa yang bisa diharapkan dari perkenalan yang hanya sebatas media sosial? Nothing. Aku tak pernah bisa percaya sebuah akun media sosial anonim kecuali aku tahu dengan benar siapa orang di balik akun tersebut. Minimal, aku bisa mengetahui apa motifnya membuat akun anonim. Aku pun jadi tahu kehidupan aslinya seperti apa.

Ada akun anonim yang memang dibayar untuk tujuan tertentu (politik untuk menyerang lawan atau berbuat jahat adalah dua tujuan yang sering ditemui). Ada yang sekadar iseng. Ada yang bersembunyi atas nama dakwah. Semua alasan ada di sini. Tak mengapa. Aku tak membenci mereka. Rugi beneran kalau membenci sesuatu atau seseorang yang dikenal hanya dari media internet. Lucu aja sih.

Untuk akun anonim yang sudah revealed dan aku mengenalnya, lebih mudah bagiku untuk berinteraksi. Bahkan lanjut ke BBM atau WA, misalnya. “Untuk apa kamu mengenal siapa aku sebenarnya?” adalah pertanyaan standar mereka ketika aku bertanya.

Jika mereka adalah akun “biasa”, aku akan menjawab, “Lebih asyik kan kalau ketemu di jalan lantas bisa saling sapa. Syukur akhirnya ngopi bareng dan berbincang segala hal? Mungkin hal ringan seperti kucingmu yang baru melahirkan?”

Tetapi jika akun tersebut ditujukan untuk so-called dakwah,  jawabanku biasanya, “Salahkah bila aku mengenalmu, keluargamu, pekerjaanmu, impianmu, pandangan keislamanmu, dan bahkan kecenderunganmu mengikuti golongan yang mana?”

Di mana letak sebuah ukhuwah islamiyah yang nyata terbentuk dengan erat jika sudah dibentengi dengan tertutupnya seseorang dari dunia di luar dirinya? Dapatkah dia dipercaya sebagai akun yang jujur? Gak heran banyak yang jengkel dengan dirinya. “Pakai nama dan avatar asli saja gak berani, mau coba-coba berdakwah.” See?

Akun anonim, menurutku yang sotoy ini, tak layak dibela jika kita tak mengetahui siapa dia. Pembelaan kita akan sangat lemah di mata umum. Makanya, sangat jarang terlihat aku membela sebuah akun anonim jika aku tak mengenalnya di dunia nyata. Silakan, boleh cek deh. Justru yang ada, aku mendebatnya balik.

Oke, bagian ini adalah terakhir dari sebuah pemikiran panjang yang menarik perhatianku sejak tahun 2010, ketika akun Twitter-ku mulai membuka diri lebih sering. (Setelah off sejak pembuatan akunnya, mati suri setahun)

Sekali lagi mohon maaf atas segala kata dan kalimat yang mungkin menyakiti beberapa pihak. Tak pernah terlintas sedikit pun membuat rangkaian tulisan ini untuk menyerang pihak tertentu. Just because I do care. No more, no less. Sederhana.

Terakhir, sebuah kalimat nasihat dari sayyidina Ali untuk kita semua:

“Jangan kau bersahabat dengan orang bodoh, sebab mungkin ia bermaksud memberi manfaat kepadamu, namun sebaliknya ia malah merugikanmu. Dan jangan kau bersahabat dengan seorang pendusta, sebab ia dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” ~ Ali bin Abi Thalib.

Waullahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s