Mengomentari Akun Anonim di Media Sosial (1)

Awalnya enggan menulis tentang akun anonim begini. Karena hal ini seperti misteri tiada ujung. Tetapi…. Kok rasanya menarik ya? Coba ah telusuri terasnya Om Google dulu kemudian baru nyerocos pendapat pribadi😉

ASAL KATA ANONIM

Anonim berasal dari bahasa Inggris “anonymous” yang berarti “of unknown authorship or origin; not named or identified; lacking individuality, distinction, or recognizability”; tidak bernama atau tidak beridentitas atau tidak dikenal atau tidak diketahui. Akar katanya berasal dari bahasa Yunani, “anonumos” yang bermakna “nameless”; tidak bernama.

Sosiolog Fisip Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Ari Ganjar mengatakan, seharusnya media sosial tak jauh berbeda dengan dunia nyata yang berarti norma interaksi harus sama seperti biasa masyarakat berinteraksi. Akan tetapi, menurut Ari, masalah di media sosial kebanyakan masyarakat menggunakan anonim atau tanpa nama.

“Orang yang biasanya menghina atau memfitnah biasanya anonim seperti akun trio macan yang dengan leluasa mengeluarkan informasi yang bernada fitnah dan tak jelas sumbernya,” kata Ari kepada PRFM, Senin (3/11/2014) malam.

LEBIH TEPAT PSEUDONIM

Cek di Wikipedia seperti ini:

A pseudonym (/ˈsjuːdənɪm/ sew-də-nim) is a name that a person or group assumes for a particular purpose, which differs from his or her original or true name (orthonym).[1]Pseudonyms include stage names, screen names, ring names, pen names, nicknames, aliases, superhero identities and code names, gamer identifications, and regnal names ofemperors, popes and other monarchs. Historically they have often taken the form of anagrams, Graecisms, and Latinisations, although there are many other methods of choosing a pseudonym.[2]

Pseudonyms are most usually adopted to hide an individual’s real identity, as with writers’ pen names, graffiti artists’ tags, resistance fighters’ or terrorists’ noms de guerre, and computer hackershandles. Actors, musicians, and other performers sometimes use stage names, for example, to mask their ethnic backgrounds. Employers sometimes require employees to use assigned names to help sell products: for example, a company that does business mostly in one country but locates a call center in another country may require its employees to assume names common in the former country to try to draw a more positive or less negative reaction from customers.[citation needed]

In some cases, pseudonyms are adopted because they are part of a cultural or organisational tradition: for example devotional names used by members of some religious institutes, and “cadre names” used by Communist party leaders such as Trotsky and Lenin.

A pseudonym may also be used for purely personal reasons when an individual feels the context and content of the exchange offer no reason, legal or otherwise, to provide their given or legal name.

The term is derived from the Greek ψευδώνυμον (pseudṓnymon), literally “false name”, from ψεῦδος (pseûdos), “lie, falsehood”[3] and ὄνομα (ónoma), “name”.

Jadinya, mereka itu bukannya TAK BERNAMA (anon), tapi BERNAMA SAMARAN (pseudo). Hanya saja, mungkin lidah melayu ini belibet jika harus mengucapkan pseudonim, jadinya menggunakan anonim. Tak mengapa, meski tak sepenuhnya benar.

MENARIKNYA AKUN ANONIM

Kehadiran akun anonymous atau anonim di Twitter bukanlah sesuatu yang baru. Namun akhir-akhir ini akun-akun seperti itu semakin banyak bermunculan dan sering menarik perhatian. Mengapa demikian?

Melihat fenomena ini, pengamat social media Nukman Luthfie terlebih dahulu mencoba meluruskan pemahaman publik terhadap akun anonim. Menurut Nukman, lebih tepat akun seperti itu disebut sebagai akun pseudonym atau dalam bahasa Indonesia berarti akun yang menggunakan nama samaran.

“Tidak ada yang disebut sebagai akun anonim. Anonim itu kan tanpa nama. Akun Anda apa? Masa tanpa nama? Nah, yang ada itu akun pseudonym atau samaran. Kalau dulu ada penulis yang menggunakan nama samaran, sekarang ada akun Twitter dengan nama samaran,” papar Nukman saat ditemui detikINET.

Namun berdasarkan risetnya, jumlah follower akun samaran yang kontennya ‘berat’ tetap tidak bisa mengalahkan akun populer yang disukai anak-anak muda.

“Akun samaran yang kontroversial itu rata-rata followernya mentok di angka 57 ribu. Artinya apa? Akun samaran yang membeberkan mengenai politik penyukanya tidak sebanyak akun samaran yang isinya lebih ke entertainment,” papar Nukman. (sumber: detikINET tahun 2012 )

ALASAN MEMILIKI AKUN ANONIM

Tetapi dua poin yang signifikan yaitu:

1. Rasa Aman. Terkadang melakukan interaksi di sosial media memiliki risiko tertentu yang mungkin dapat membahayakan jiwa. Itulah sebabnya ada sebagian individu yang memutuskan untuk menggunakan identitas anonim untuk melindungi dirinya.
2. Ingin berbuat jahat. Alasan untuk memilih identitas anonim juga dapat di lakukan oleh seseorang, yang memang sejak awal mereka menggunakan sosial media, telah merencanakan suatu perbuatan yang jahat kepada pengguna sosial media lainnya. Kejahatan yang mereka lakukan dapat berupa penipuan, penghancuran nama baik, hingga perencanaan pembunuhan.

HUKUM YANG MENJERAT

Akun anonim yang menggunakan sosial media dapat dikenakan Pasal 27 ayat (3) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) jika mereka terbukti melakukan fitnah dan pencemaran nama baik:“Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

CARA MELACAK AKUN ANONIM

Kepala Divisi Hukum Indonesia Cyber Law Community (ICLC) Josua Sitompul menjelaskan sebenarnya ada beberapa cara untuk melacak seseorang sebagai pemilik atau admin akun anonim itu.

Pertama, melihat dari kesesuaian pola tulisannya. “Kan kadang-kadang ada orang yang membuat satu tulisan itu sangat spesifik. Misalnya, kalau saya ngomong thanks itu ‘tks’, orang lain ‘tx’. Atau mungkin juga dari pola tulisannya yang lain,” ujar Josua kepada hukumonline, Senin (30/3).

Kesesuaian pola tulisan tersebut dapat dilihat dengan cara membandingkan konten yang ada di dalam akun anonim dengan konten yang ada di blog atau website resmi milik orang tersebut, lanjutnya.

Kedua, jelas Josua, pelacakan yang paling akurat adalah melalui pencarian IP address si pelaku. Namun, untuk kasus-kasus jejaring sosial seperti facebook dan twitter, pelacakan IP address susah untuk didapatkan. “Itu (media sosial,-red) kan servernya ada di Amerika, jadi kita itu akan memiliki kesulitan yang signifikan untuk minta IP ke mereka,” ujarnya. (Sumber: hukumonline )

—————kita lanjutkan ke Mengomentari Akun Anonim di Media Sosial (2) ———————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s