Mengomentari Akun Anonim di Media Sosial (2)

Melanjutkan Mengomentari Akun Anonim di Media Sosial edisi sebelumnya, sekarang sila ke bagian kedua:

AKUN ANONIM, TEMAN ATAU LAWAN?

Pernah dengar istilah pesudonim atau akun anonim? Itu adalah akun palsu yang tujuan utamanya adalah menyembunyikan identitas pengelola akun yang sebenarnya. Sebelum ramai sosial media, tentu istilah akun anonim bakal sangat jarang didengar. Pseudonim sendiri bisa berarti nama samaran sih, yang biasa dipakai penulis pada sebuah karya. Dan itu sah-sah saja. Tapi, pesudonim di jejaring media social, apakah perlu?

Jika sudah benar mengganggu, kita bisa juga lho menggugat dan memperkarakan pengelola akun anonim. Disadur dari situs online Tempo, ahli digital forensik, Ruby Alamsyah, mengatakan akun boleh-boleh saja menggunakan nama atau alamat surat elektronik samaran. Tetapi pengguna aslinya tetap manusia asli yang menggunakan teknologi sebagai tools-nya. Menurut dia, kegiatan cybercrime selalu meninggalkan cybertrail atau jejak digital, tinggal bagaimana menelusurinya dengan tepat dan benar.

Bahkan, ketika akun itu telah dibunuh, penyidik masih bisa membukanya dan dijadikan bukti. Caranya, kata Ruby, dengan melakukan reactivate accountdengen login asli pemilik account tersebut sebelumnya. Hanya saja, cara ini efektif hanya bisa dillakukan dalam kurun waktu 30 hari setelah account Twitter tersebut dihapus. (sumber: Muhammad Sufyan, Dosen Ilmu Komunikasi Telkom University )

SEKILAS al-QASSAM

Brigade Asy-Syahid Izzuddin Al-Qassam adalah sayap militer kelompok pejuang Hamas. Siapa sih yang tidak mengenal mereka? Nyaris tak ada. Sekelompok pasukan bersenjata yang ditakuti oleh kawan maupun lawan. Dipelopori berdirinya oleh pejuang Palestina seperti Sheikh Ahmad Yassin, Dr. Ibrahim Al-Maqadema dan Sheikh Salah Shehada pada tahun 1984.

Semua bermula dari sini. Di dunia Islam khususnya di kalangan mujahidin, siapa yang tidak mengenal  seorang yang bernama Syaikh Izzuddin Al Qassam. Sosok yang menggelorakan api jihad di bumi Palestina puluhan tahun silam ini begitu melekat di memori para pejuang Islam saat ini. Semangat dan perjuangannya tidak lekang ditelan zaman meski jasadnya telah tiada.

Banyak yang tidak mengetahui bahwa sosok yang namanya dijadikan oleh Harakah Al Muqawwamah Al Islamiyah (Hamas) sebagai sayap militernya ini ternyata bukan orang Palestina.

Syaikh Izzuddin Al Qassam lahir di Jibillah, di Provinsi Al Ladziqiyyah, Syiria pada 20 November 1882 dengan nama lengkap Izzuddin ibn Abdul Qadar ibn Mustafa ibn Yusuf ibn Muhammad  Al Qassam. Beliau lahir dari keluarga miskin yang begitu erat memegang ajaran Islam. Ayahnya adalah seorang guru Agama. Sejak kecil beliau telah dididik dalam lingkungan yang islami. Sehingga tidaklah mengherankan  jika beliau muncul sebagai pejuang yang gigih dalam menegakkan Islam.

Sedikit saja tentang kehebatan mereka ada di sebuah portal yang menyebutkan tentang senjata produksi mereka. “Tujuan utama didirikannya Al- Qassam adalah untuk mempertahankan tanah suci Palestina dari penjajahan Zionis yang zalim, membebaskan tanah Palestina dan seluruh tanahnya yang dirampas di Tepi Barat serta memantapkan semangat jihad dalam kalangan orang Palestina,” kata seorang komandan yang dirahasiakan identitasnya. Peraturan mereka yang paling ketat ialah setiap tentara mesti solat lima waktu sehari secara berjamaah.

“Al-Qassam selalu bergerak dalam kelompok-kelompok kecil. Jadi apabila ada satu pemimpin yang terbunuh pemimpin,  dari kelompok lainnya dapat cepat menggantikan,” ujar seorang penulis buku konflik Palestina, Jonathan Schanzer, seperti dikutip The New York Times, Senin (19/11/2012).

Kebanyakan anggota dari brigade ini adalah para hafidz (penghapal al-Qur’an) dan orang-orang terdidik. Mereka juga dituntut untuk menghapal minimal hadits-hadits dalam Arba’in an-Nawawi, kitab yang memuat hadits-hadits pilihan. Mereka tak hanya siap secara fisik, tapi juga matang secara ruhani. Mereka menerapkan pola hidup quwwatul jasad, wa quwwatul aqidah, kuat secara fisik dan kuat secara akidah.

HUBUNGAN al-QASSAM DENGAN AKUN ANONIM

Berdasarkan paparan di atas (yang mungkin belum lengkap), mau dong ah, aku ikutan ngoceh soal akun anonim di sini. Mau nyambung atau malah jaka sembung, ada benang merahnya sebenarnya. Bermula dari twit berbalasku dengan salah satu akun anonim. Singkatnya begini, aku ingin mengetahui siapa pemegang akun sebenarnya dan wajar dong kalau bertanya? Dia menjawab tak usah. Lalu dia membelokkan pembicaraan dan berusaha menyambungkannya dengan pasukan al-Qassam.

“Dakwah tuh gak harus dengan identitas asli. Yang menjaga dakwah adalah orang-orang dengan identitas dirahasiakan.Seperti kami inilah,” ujarnya pede. Aku hanya bisa nyengir.

Jadi, dengan memakai akun anonim (sebenarnya kurang tepat istilah ini, lebih baik memakan pseudonim, yaitu nama samaran), mereka merasa bebas merdeka untuk menyuarakan pendapat. Atas nama dakwah whatsoever, mereka bersembunyi di akun tak jelas, dan terkadang mengarah pada komunitas atau organisasi atau partai tertentu.

Justru itulah, mereka akan dengan mudah pula berkelit bahwa mereka tak berasosiasi dengan golongan tertentu. Mulailah mereka berlindung dengan jawaban tipikal, “Kapan saya menulis bahwa saya adalah anggota XXX atau YYY?” Malesin ya?

Karena ada yang menarik di tanggal 28 Mei dari akun Pak @ferrykoto tentang partai berbasis Islam terkenal di Indonesia (plus banyak haters-nya😛 ) yaitu PKS, sila baca di chirpstory dan ada bagian yang menempel di pikiranku. Verifikasi akun Twitter bagi para kader PKS.

Do you know something? Masih banyak kader PKS yang tidak melek Twitter, terutama di akar rumput. Bila pun ada yang menggunakan media sosial, mereka menggunakan Facebook. Tetapi, sekalinya ada yang melek Twitter, mereka terbagi dua kelompok: ada yang menggunakan nama dan avatar asli, pihak lain menggunakan avatar dan nama samaran.

Menjadi lebih menarik, beberapa akun “berlepas diri” dari disebut sebagai kader PKS dan mengklaim bahwa semua twitnya adalah pribadi, bukan mengarah ke partai tersebut. Ada juga yang dari awal tak menggunakan identitas kepartaian, namun di banyak twitnya jelas sekali menunjukkan kekaderannya. Ini baru yang menggunakan nama asli dan avatar asli. Pusing? Kalau tak bermain di ranah Twitter pasti pusing. Abaikan deh ya😛

Bagaimana dengan akun anonim / samaran? Mereka lebih terlihat tanpa beban. Pokoknya, jika ada masalah (isu tentang apa saja) dan banyak akun lain mengarah kepadanya, mungkin bisa dipastikan sanggahannya adalah, “Siapa bilang saya ini kader PKS?” Iyain aja biar cepat lah ya?

Kembali lagi, atas nama dakwah, mereka yang anonim ini anehnya suka sekali memanasi akun lain instead of membuat klarifikasi. Aku memerhatikan beberapa akun samaran. Satu orang bersedia bertemu denganku bila saatnya tiba, tapi harus di kotanya. Meh, perempuan bok yang kudu nyamperin.😛 Satu orang lain, hingga detik ini menolak bertemu dengan berbagai alasan. Kembali ke alasan, “Al-Qasssam saja identitasnya disembunyikan dengan alasan keamanan.” Ya Allah, hellow!!! Jangan bandingkan dirimu dengan mereka yang sedang menjemput syahid! That is too much! Never dream too high, dude! I don’t get it! Phewh…

Satu hal lagi, PKS adalah partai dakwah. Kalian mengusung tagline “Cinta, Kerja, Harmoni” sehingga pantaslah seorang guru besar dari UI (eh lupa namanya) pernah berkata bahwa PKS adalah partai harapan negeri ini. Janganlah disia-siakan dengan lengah terhadap akun-akun samaran yang senantiasa ‘terpeleset’ apalagi terindikasi mereka adalah kader namun mengelak untuk mengakui. Meski semua orang pun tahu, ranah dunia maya sangatlah riskan dengan cyber crime. Hal ini dianggap fitnah? Ya sudah, gak masalah. Gitu aja kok repot?😛

Mohon maaf kepada PKS yang namanya disebutkan dalam postingan super panjang ini. Sila sebut aku hater meski pada kenyataannya, aku selalu memberikan suaraku menjadi amanah bagi kalian. Aku mencantumkan partai ini karena hanya kalian yang menjadi sorotanku, bukan partai lain. Aku bahkan tak paham peta politik dan kaderisasi partai lain.

———————-lanjut ke bagian terakhir dari sebuah pemikiran panjang tentang akun anonim—————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s