Memahami Nasionalisme ~ Akmal Sjafril

Sore ini mau ngobrol sedikit tentang .

Sudah banyak perdebatan soal , dari yang serius sampai yang konyol.

Sayangnya, belakangan ini di tanah air lebih sering dipahami secara naif.

Semasa kecil dahulu, banyak film-film perjuangan yang sering diputar di TV. Semua paham apa itu .

Jika Indonesia diserang, maka kita akan membelanya dengan harta dan jiwa. Itulah .

Ingin tahu ? Dengarkan dari ahlinya! >>

Dibuka dengan Basmalah, kemudian teriakan “Merdeka!”. Itulah .

Diawali dengan Basmalah, diakhiri dengan takbir. Kita, umat Muslim, paham apa itu .

Para ulama menyerukan ‘Resolusi Jihad’ utk mengawal kemerdekaan. Kita paham betul apa itu  -> http://inpasonline.com/new/resolusi-jihad-mengawal-kemerdekaan/

Sayangnya, sekarang film-film perjuangan sudah teramat jarang diputar.

Pidato Bung Tomo jarang ada yang mendengar. Pernah diputar, tapi takbirnya dihilangkan.

Sekarang, banyak orang tak paham lagi apa itu . Atau memahami dengan cara yang keliru.

, misalnya, dipahami melalui atribut semata, itu pun secara inkonsisten.

Misalnya, ada yang begitu bencinya dengan sorban dan jubah. Katanya, itu pakaian Arab, bukan Indonesia.

Pakaian Arab? Betulkah?

Pangeran Diponegoro

Sampai sekarang yang berhijab pun masih disindir-sindir juga. Lagi-lagi, isunya adalah Arabisasi. #Nasionalisme

Ini foto Buya Hamka dan istrinya, sekitar 90 tahun yang lalu. #Nasionalisme

Buya Hamka dan istri.

Ini foto Rahmah El-Yunusiyah, usianya sedikit lebih tua daripada Buya Hamka.  

Apakah para pembenci hijab ini lebih paham ketimbang yang berhijab?

Apakah dengan membenci hijab maka ia lebih paham ?

Orang seenaknya saja mengatakan sorban sebagai Arabisasi, tapi jas ala Barat tidak dianggap Westernisasi.

Bandingkan dengan negara-negara jiran yang dengan bangga mengenakan pakaian Melayu. Kita?

Sering diceritakan kisah tentang kontes kecantikan dunia. Peserta dari tanah air, konon, telah mengharumkan nama bangsa.

Apa iya? Bagaimana keikutsertaan dalam sebuah kontes kecantikan bisa mengharumkan nama bangsa?

Bagaimana berlenggak-lenggok di panggung dan menjawab beberapa pertanyaan mudah bisa memajukan negeri?

Parahnya lagi, ada orang-orang yang pemikirannya merusak namun justru merasa nasionalis.

Ketika Palestina atau negeri lain butuh bantuan, ia tidak peduli.

Komentarnya, “Di Indonesia pun banyak masalah! Kenapa jauh-jauh mengurusi Palestina?”

Apa kita harus bebas dari masalah dulu baru menolong orang? Ini masalah keluhuran budi.

Padahal, ketika Indonesia baru merdeka, negara-negara lain pun menolong semampunya.

Apakah negara-negara itu semuanya ‘bebas masalah’ ketika mengulurkan tangan? Tentu tidak!

Apa yang bisa dibanggakan dari negeri kita jika kita menutup mata dari penderitaan orang?

-kah ini? Apa bedanya dengan fanatisme buta, atau bahkan bibit-bibit fasisme?

Semestinya kita berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bangga kepada bangsa kita jika telah menebar banyak kebaikan.

Tapi yang kita banggakan kini hanya hal-hal kosong tak bermakna, tak membawa manfaat bagi sesama.

Bahkan kaum Rohingya yang dibantai di negerinya dan terkatung-katung di lautan pun kita abaikan. Inikah ?

Sementara itu kita sibuk mengutak-atik bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan langgam negeri, melabrak tajwid. Inikah ?

Jika kita tidak lagi berorientasi pada kebaikan dan keluhuran budi, bagaimana menjelaskan kepada generasi penerus?

Semoga kita tidak terjebak dalam palsu yang tidak membawa kebaikan. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s