Berpenghasilan Tetap atau Tetap Berpenghasilan?

Pertanyaan abadi untuk sesiapa saja yang ingin tetap bertahan hidup di dunia sebelum waktunya habis. Kamu bisa memilih ingin bekerja secara mandiri atau menjadi pekerja alias manut dengan aturan orang lain. Aku, yang pernah terprogram salah saat kecil, akhirnya pernah menganggap bahwa menjadi karyawan kantor adalah satu-satunya cara mendapatkan uang untuk membeli beras dan membayar iuran + tagihan rutin setiap bulan.

SAAT SEKOLAH

Dulu, aku mendapat semacam dogma bahwa kerja kantoran itu keren. Jika ingin berbisnis, harus punya modal dana besar. Itu sekitar tahun 1990an lah ya. Ngeri-ngeri sedap deh membayangkan saat itu aku ingin mencoba untuk memiliki uang sendiri. Ingat banget, kelas satu SD, aku membeli mainan hasil mengumpulkan uang jajan kemudian kujual kepada teman-teman sekelas dengan harga murah. Gak terlalu mikirin untung karena yang penting aku bisa mengerti bagaimana proses jual beli.

Ketahuan guru karena transaksi di kelas. Hahahahaha…. Standar guru masa lalu (eh, gimana?), aku diancam. “Kamu mau nilai matematika kamu seperti telur (alias nilai nol gitchu)?” Aku tak menjawab karena jengkel. Aku buktikan di ulangan harian berikutnya, nilaiku delapan. Sengaja dua soal tak kujawab. Penasaran, bakalan dimarahin lagi gak? Hihihihi… Ternyata hanya ditanya retorik, “Kenapa gak dijawab semua?” Aku, dengan cueknya, hanya mengangkat bahu. Selanjutnya… Hadiah berdiri di depan kelas hingga bel pulang. Muehehehe…

Saat SMP, aku tak menjual apapun, tapi mencoba mengirimkan tulisan ke majalah. Tak dimuat. Tapi aku gak sedih. Aku membaca ulang tulisanku sendiri dan mengoreksinya. Belajar baca lagi karya-karya Mbak Zara Zettira dan Mas Hilman. Aku ingin meneruskan hobi menulis. Ingin seperti Bapak dan Aki, menjadi wartawan. (Tadinya sih demikian…)

Saat SMA, sepupuku yang tinggal di rumah, mulai mencoba bisnis jajanan kue basah. Aku, kebagian menjadi penjualnya di sekolah. Laku dong. Setiap pagi, di kelas, teman-teman menyerbu untuk sarapan. Ada yang sirik? Pasti. Ibu kantin! Hahahaha😀 Dia marah dan aku dipanggil oleh Kepala Sekolah. Tetiba ada aturan baru, murid dilarang berjualan di dalam kelas. Keselnya ke ubun-ubun. Transaksi kan sebelum kelas dimulai. Akhirnya, Mamaku dipanggil ke sekolah karena aku ngeyel. Ya sudah, jajanan itu akhirnya dititipkan di kantin. Tetep laku doooooonnnggg… Hiahahahaha😀 Setidaknya, jikalau pun sisa, paling hanya 5 buah dari sekitar 30an yang dibawa dari rumah untuk satu macam jajanan. Mayan dong?

SAAT KULIAH

Aku tak berjualan apapun. Kembali sibuk belajar menulis. Mengumpulkan tulisan sebagai pengusir gundah. Sempat berpikir untuk menjadi penulis seperti para novelis favorit. Selintas saja…

SETELAH LULUS
BERPENGHASILAN TETAP

Standar cita-cita yang dititipkan oleh orangtua, aku mencari kerja kantoran. Gelisah sebenarnya, karena aku lebih ingin diberi modal meski kecil, untuk wirausaha. Apa saja. Tapi tak diperbolehkan. “Kamu kerja di kantor yang bener,” begitu pesan Bapak.

Mencoba bekerja kantoran dengan beberapa lingkungan. Kantor media cetak, kantor outsourcing, kantor arsitek, kantor media sosial, kantor web design… Semua punya tantangannya sendiri. Secara pendapatan dan penghasilan, memang lumayan ‘aman’, sudah tahu akan mendapatkan berapa di akhir bulan. Tinggal, sisanya yang kedubrakan mencari dari mana. You know, itu artinya gaji yang kuterima di bawah pengeluaran setiap bulan. Oh, kecuali di kantor media sosial, itu baru PAS pake banget! Alias tenang lahir batin😉

TETAP BERPENGHASILAN

Ada masa ketika aku ingin merasakan penghasilan yang kudapat dari proyek sebagai pekerja lepas. Risiko adalah, pekerjaan ini tak menjamin langgengnya rupiah mampir ke rekening. Tawaran menulis artikel kudapat dari rekan dan teman yang bekerja di media-media. Aku senang. Kemampuanku terasah, pengalamanku bertambah.  Tapi tentu saja, saingan sangat banyak. Tantangan untuk tetap mempertahankan mutu tulisan pun membuatku sempat menjadi ‘pengemis’ dan meminta proyek dengan nilai sangat jauh di bawah standar demi ada sedikit receh masuk ke tabungan. Kapok blas. Tulisanku menjadi gak greget.

JAKARTA, THAT HEAVEN

Iya, apa sih yang gak ada di Jakarta? Mau jadi satpam atau CEO, bisa. Mau jadi pedagang asongan atau pemilik butik, boleh. Lahannya ada, pekerjaannya ada, kesempatannya banyak. Bahkan untuk pekerja lepas, lapangan itu sangat luas. Aku menyadarinya ketika sudah sampai di Bandung…

BANDUNG, TAK RAMAH BAGI FREELANCER

Jujur, ini membuatku cemas. *halah😛 Kaget ketika aku iseng mencari lowongan pekerja lepas untuk wilayah Bandung, nyaris nihil dan… Aku mendapatkan proyek selalu dari Jakarta! Hahahaha… Cungkring! Ini menggelikan! Bandung seperti diprogram untuk wilayah kerja para karyawan kantor atau pabrik. Atau, pekerja paruh waktu / part timer. Entah ini hanya aku saja yang melakukan survey sotoy atau memang demikian. Setidaknya sampai aku menulis ini, mencari pekerjaan lepas di Bandung itu menyakitkan. Susahnya ampun. Padahal ibukota provinsi. Tetapi memang, Kalau melihat budaya di sini, pekerjaan modern dunia digital sepertinya kurang diminati atau tak mendapat tempat. Setiap mahasiswa tingkat akhir yang kutemui setiap tahun, selalu bertanya, “Teh, punya info lowongan kerja gak?” Tentu saja, kantoran alias full time alias karyawan…

JOGJA, PROMOSING LAND

Hahaha, aku tak pernah terpikirkan untuk menjejakkan kaki sebagai penghuni tetap di sana. Tetapi pekerjaan yang cocok denganku banyak dihadirkan di sana. Godaan iman banget kan ya? Membuatku pucat pias kalau membaca sebuah lowongan di Jogja. “Tinggal di sini saja, Mbak. Nyaman.” Yeah, temanku itu seperti sales yang dikejar setoran, merayuku sedemikian. Hihihihi….

AKHIRNYA…

Aku tiba di usia mendekati 40 tahun. Mencari pekerjaan kantoran sudah semakin menipis peluangnya. Setiap mengintip lowongan di laman Google atau koran cetak, seusiaku tak terlalu mendapat porsi besar kecuali untuk level manajerial ke atas. Seperti halnya standar perusahaan di Indonesia belahan mana pun, IPK dan asal tempat kuliah masih menjadi nilai utama. Pengalaman kerja masih disyaratkan secara standar pula. Meski biasanya ketika wawancara, ada hal-hal baru yang bisa dituangkan hingga menjadi nilai positif bagi calon kantor.

Aku tak tahu akan bagaimana petualanganku dalam mencari pengalaman kerja. Aku mencoba segala kemungkinan, peluang, dan harapan. Satu yang pasti, aku ingin membukukan lagi tulisanku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s