Ashabiyah (Fanatisme Golongan) ~ Akmal Sjafril

Mengisi waktu dalam perjalanan, mau ngobrol sedikit tentang fenomena alias fanatisme golongan.

Yang namanya memang macam-macam. Tapi di sini saya batasi dengan konteks fanatisme kebangsaan.

Kalau sudah disebut tentu telah jauh melampaui cinta tanah air yang wajar.

Artinya, cinta tanah air itu fitrah. Tapi kalau berlebihan ya jadinya.

Kalau pergi merantau lalu kangen kampung halaman, itu cinta tanah air. Bukan .

Yang salah itu jika mengira bangsanya lebih unggul daripada bangsa-bangsa lain hanya karena beda negeri. Inilah .

Setiap manusia dibedakan di hadapan Allah berdasarkan ketaqwaannya, bukan karena suku bangsanya.

Orang Indonesia tidak lebih baik dan tidak lebih buruk daripada bangsa lain. Suku-suku di Indonesia pun semuanya sama.

Bangsa Arab tidak lebih mulia daripada selainnya, tapi juga tidak lebih hina daripada siapa pun.

Qur’an memang menggunakan bahasa Arab, tapi ini semua karena rencana Allah, bukan karena kehebatan bangsa Arab.

Bangsa Arab dimuliakan dengan kehadiran Nabi Muhammad saw. Di sisi lain, Musailamah sang nabi palsu juga dari Arab.

Dalam kajian bersama ust. Asep Sobari semalam, saya mencatat satu hal penting seputar .

Kajian semalam membahas sebagian isi buku karya Syaikh Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi yang satu ini.

Ada yang belum kenal beliau? Ini secuplik pemikirannya🙂  

Dalam bukunya, Syaikh an-Nadwi menganalisis kejayaan dan kerusakan peradaban Islam.

Menurut beliau, ada 4 alasan mengapa Islam pernah berjaya dan memimpin dunia.

Pertama, karena peradaban Islam tidak hanya bersandar pada rasio saja, melainkan wahyu Allah.

Kedua, karena peradaban Islam memimpin dengan akhlaq yang baik, bukan akhlaq jahil.

Ketiga, karena Islam tidak memelihara . Umatnya tidak berjuang untuk satu bangsa saja.

Keempat, karena Islam mengajarkan keseimbangan dalam hidup.

Poin ketiga tadi berkaitan langsung dengan .

Peradaban-peradaban besar sebelum dan sesudah Islam semuanya terjangkit penyakit .

Mereka menjadi besar dengan egonya sendiri, melibas dan memperbudak bangsa-bangsa yang lain.

Pada akhirnya, bangsa penakluk sehebat apa pun akan bertemu dengan antiklimaksnya.

Banyak bangsa-bangsa besar hancur karena digempur oleh bangsa-bangsa yang dulu diperbudaknya. Maka lenyaplah mereka.

Islam datang melenyapkan ini. Manusia dihimpun dengan persaudaraan yang sejati, bukan fanatisme kebangsaan.

Oleh karena itu, ketika Islam menguasai suatu daerah, maka penduduk lokal daerah tersebut tidak terzalimi.

Ketika pasukan Islam menguasai Khaibar, penduduknya yang beragama Yahudi boleh tetap tinggal dan mengolah lahan.

Oleh karen itu, sering kita jumpai orang-orang/kafir yang tentram dengan kepemimpinan Islam.

Jika demikian baiknya perlakuan terhadap orang kafir, apalagi dengan sesama Muslim?

Jika seseorang telah memeluk Islam, maka status kebangsaannya menjadi tidak begitu relevan. Muslim ya Muslim.

Kita tidak membedakan manusia berdasarkan bangsa, sebab manusia hanya beda karena ketaqwaannya.

Oleh karena itu, kasih sayang sesama Muslim sangat ‘luas’, tidak dibatasi oleh wilayah geografis.

Inilah kemuliaan manusia, sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.

Sayangnya, di antara umat Muslim pun ada yang berusaha mencampakkan kemuliaan tersebut. Mereka justru mengajak kembali kepada .

Ketika manusia dizhalimi di belahan dunia lain, ia merasa itu bukan urusannya. Padahal kita sama-sama anak Adam as.

Ketika orang Palestina dizhalimi, ia pura-pura tidak tahu. Alasannya: masalah di Indonesia masih banyak!

Pdhal ketika ada musibah di sini, bantuan dari Palestina datang mengalir. Apa masalah di Palestina kurang banyak?

Islam mengajari kita berbagi, apa pun keadaannya. Ini bukan soal harta di genggaman, tapi soal suara di dalam hati.

Kita tidak menunggu kenyang sebelum memberi makan orang lain. Kita berbagi makan, biarpun sedikit!

membuat manusia lebih buas daripada hewan buas. Dunianya sempit karena hatinya sempit.

Hewan buas tidak makan melebihi kebutuhan. Tapi manusia biasa melampaui batas.

Hewan buas tidak ganggu hewan lain jika sudah kenyang. Tapi manusia (semestinya) bisa berbagi meski masih lapar.

Mungkin banyak orang menyangka bahwa  membuat bangsanya kelihatan lebih perkasa. Faktanya, yang terlihat hanya kebengisan.

Masihkah kita berbangga dengan bangsa sendiri sambil melupakan sumber kemuliaan yang sesungguhnya, yaitu ketaqwaan?

Masihkah kita mau dipecah-belah dengan sebutan: “Islam Arab”, “Islam Indonesia” dan lain-lain? Padahal Islam telah mempersatukan kita?

Sungguh relakah kita menanggalkan kemuliaan kita menuju kebuasan yang lebih buas daripada hewan buas?

Semoga Allah mengampuni kaum Muslimin dan Mu’minin, di mana pun mereka berada, di zaman apa pun mereka hidup.

Semoga Allah persatukan hati mereka yang telah berpecah-belah, dan kita tidak termasuk yang memecah-belah. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s