Mencoba Adil Kepada Diri Sendiri

Terkadang menjadi manusia itu selalu dibuat ribet dan sulit. Padahal, kalau mau, semuanya bisa menjadi lebih mudah dan sederhana. Misal, untuk urusan kesehatan.

Tanggal 7 Mei, aku membesuk teman sekolah yang dirawat di RS. Santosa Kebon Jati karena kanker serviks. Gak pernah ada yang mau terkena kanker, siapapun itu. Tak mau banyak menduga dan mengira-ngira, aku bertanya padanya, “Awalnya gimana bisa sampe kayak gini?” <– bukan sebuah pilihan kata yang bagus, tapi aku juga bukan tipe yang bisa basa-basi.

Dia menjawab, “Tahun 2013 awalnya dikasih tau sama dokter kalo saya kena kanker.  Sebelum 2013, selama tiga tahun, saya selalu pendarahan di luar batas normal. Kejadiannya selalu pas mau puasa.” Sampai kalimat ini, aku masih mencari apa yang menjadi penyebabnya. Tapi bingung mau bertanya seperti apa. Sampai akhirnya dia sendiri yang bilang, “Saya tuh orangnya males. Disuruh makan buah, males. Disuruh makan sayur, males. Gak suka.”

Got it! Pola hidup sehat. Inti masalahnya ketemu. Aku mencoba tersenyum dan berakting marah di depannya. “Ah, kamu. Bandel nih. Coba deh ngemil buah. Coba paksain suka sama stroberi, bluberi, atan cranberry gitu deh. Sayurnya jangan lupa. Ntar aku omelin kamu kalo gak mau nih.” Dia tertawa. “Iya sih, Na. (dia mengenalku sebagai Diana) Sayanya males banget. Ibu masak sayur apa juga, saya suka gak makan.” Aku menghela napas.

Jujur, kalau saja aku bisa ngejeplak di depannya… Karena pola hidupnya tak sehat itu yang membuat dirinya seperti sekarang. Sekitar matanya sudah gelap cokelat tua cenderung menghitam. Sudah tak ada sehelai rambut pun. Dirinya juga gemuk efek kemoterapi. Dia sempat bilang sudah lelah dengan semua pengobatan yang “baru” dijalaninya hampir tiga tahun ini. “Jangan gitu dong. Ayo sembuh. Katanya mau punya anak. Yuk, banyakin istighfar. Berjuang yah?” Dia tersenyum kering. Aku benar-benar salah tingkah. Aku paling tak suka bau rumah sakit. Beruntung aku menemukan alasan untuk lekas beranjak dari kamar tempatnya dirawat. “Aku pulang dulu ya, biar kamu bisa istirahat. Cepat sembuh, ntar kita bisa reunian sama yang lain.”

Tepat ketika aku melewati bagian informasi di lantai dasar, kutemukan brosur tentang kanker serviks. Aku mengambil satu dan anakku melihat gambarnya dengan bingung. “Ini apa?” Aku mencoba menerangkan bahwa itu adalah gambar sel kanker yang menyebabkan temanku sakit. “Kok gambarnya aneh?” Aku mencoba tersenyum, “Iya, dan yang aneh inilah yang berbahaya.”

Berkecamuk dalam diri sendiri tentang kata ‘bahaya’, aku ingat bahwa ada satu janji yang harus kubereskan. Fisioterapi. Ya Tuhan, seumur hidup tak pernah berurusan dengan beginian. Mendengar kata fisioterapi sudah seperti khatam dan paham, tapi jika harus melakukannya sendiri justru membuatku meringis.

Hal ini bermula dari sekitar setahun lampau ketika aku menyadari bahwa ada yang tak beres dengan kaki kiriku. Betis yang sakit nyeri menjalar ke paha dan membuatku tak nyaman ketika berdiri atau berjalan. Beranggapan semua akan baik-baik saja dengan balsem (nyengir), ternyata gak membuahkan hasil menyenangkan. Bekam ternyata bukan solusi. Pijat refleksi biasa juga tak memuaskan. Ketika akhirnya aku mencoba membicarakan hal ini pada adikku, dia langsung berkata, “Ngapain pijat? Fisioterapi sekalian.” (ngik) Ingat bahwa kakak sepupu dan seorang teman sedang berurusan dengan fisio, aku bertanya lebih jauh dengan mereka.

Hasil diskusinya? Aku meradang dengan prosedur yang harus dilakukan dan biaya yang harus dikeluarkan. Halaaaaahh… Sehat memang mahal dan sakit jauh lebih membuat dompet meriang. Hahahaha. Sialan! Tetapi demi anak-anak dan demi bisa hidup nyaman, aku mencoba berdamai dengan diri sendiri. Membandingkan alur fisio di rumah sakit dan klinik pribadi plus biayanya… Aku mencoba memilih ke Physiopreneur di Batununggal. Alasannya karena pertama dekat dan kedua gak ribet dengan urusan rujukan atau administrasi ala rumah sakit yang menyebalkan itu.

Kunjungan pertama tanggal 8 Mei menghasilkan kerusakan pada syaraf tulang belakang, di mana akan menimbulkan beberapa masalah seperti nyeri dan lain-lain. Darn it! “Lama duduk?” tanya fisio yang kujawab dengan cengiran. “Lebih dari sepuluh jam sehari.” Hahahahaha😀 “Kalau didiamkan lebih lama, bisa menjalar ke pinggang dan pastinya lebih repot nanti.” (muka datar)

Lagi-lagi aku harus ingat apa tujuanku untuk sehat kembali. Terkadang, tak peduli sesehat apapun asupan gizi, tanpa olahraga yang memadai, ya salah juga. Ketika fisio bilang bahwa olahraga yang aman untuk kondisi seperti aku adalah bersepeda (statis ataupun mobile) aku malah berpikir berkuda, olahraga favoritnya Rasulullah. Yatapiiiiii… Berkuda itu moahaaaallll beeeuuddd… (kecuali Prabowo mau ngasih satu ekor buatku gitu😛 ) Ya sudah, buang jauh-jauh mau berkuda (dan itu adalah impian sejak kecil sebenarnya), marilah realistis saja, An!

Aku mengambil hikmah dari dua hal yang kulalui dalam dua hari. Kesehatan adalah segalanya. Sesuatu yang dianggap remeh banyak orang sekaligus dibutuhkan. Pola hidup sehat sebenarnya mudah dan murah. Rasulullah sudah memberikan contohnya. Kita sebagai umatnyalah yang ndablek.

Oh ya, awal tahun 2014 (eh kapan ya, lupa) aku dideteksi semacam radang paru-paru. “Teteh perokok?” Aku menjawab, “Ya, perokok pasif.” Jangan membayangkan bagaimana sesak napasnya aku setiap harus berdekatan dengan perokok aktif. Aku yang mengalah dan mencoba toleransi dengan hobi mengisap tembakau itu. Sakit kepalanya bisa awet 3-4 hari. (Ya udah sih, An! Itu mah derita lo aja! Siapa suruh deket-deket ama perokok!)

Sungguh, aku masih amat sangat beruntung. Meski pernah tinggal dengan penderita kanker (almarhumah mamaku sendiri), tetapi ketika medical check up terakhir dinyatakan sehat. Alhamdulillah🙂 Dan setiap medical check up pula catatan dari dokter tetap sama: anemia dan hipotensi. Yoih, teteup. Ginjal sehat, jantung oke, liver cakep, dan pencernaan keseluruhan tak ada catatan khusus. Vertigo gak usah disebut yah?😀

Ya sudah, sekian saja celotehan tentang nikmat sehat kali ini. Intinya, sebelum sayang pada orang lain, cobalah sayang pada diri sendiri. Kalau kita sehat, semua senang. Kita sakit, orang lain ikutan repot. Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s