#LogiKacau ~ Akmal Sjafril

Mumpung banyak waktu luang di kereta, saya mau kultwit dikit. Kasi judul:

Apa pula ini ? Apa hubungannya dgn Cau? Tanya juragannya, kang hehe.. (Cau=pisang)

Tenang, ini cuma permainan hashtag aja kok. Logika + Kacau = gitu.. Aneh ya? Ya namanya jg ngomongin logika yg kacau🙂

Beberapa orang merasa hebat kalau sudah melakukan dekonstruksi. Apa saja didekonstruksi, ditafsirkan ulang.

Orang berbuat baik dianggap sok baik, orang berbuat keji malah dibela dengan alasan ‘jangan menghakimi orang’.

Ini ayat yang tempo hari dibahas o/ kang . Coba dicermati.  https://twitter.com/malakmalakmal/status/595077132373491712

Orang-orang munafiq ada di antara kita. Dengan -nya, mereka ajak manusia berbuat munkar dan menjauh dari yang ma’ruf.

Apa mereka ini orang yang tidak tahu kebenaran? Atau meyakini kebenaran yang lain? Oh no no no…  https://twitter.com/malakmalakmal/status/595078401242701824

Mereka tahu kebenaran, tapi ingin menipu. Karena sering menipu, lama-lama mereka percaya dengan dustanya sendiri.

Kalau sudah mahir betul menipu diri, lama-lama kayak Fir’aun. Ngaku Tuhan padahal ia tahu dirinya cuma manusia.

Ketika Fir’aun menyuruh tukang sihirnya mengeroyok Nabi Musa as, ia tak tahu hasil akhirnya akan seperti apa.

Ketika hasil akhir berbeda dengan perkiraannya, anehnya, Fir’aun masih ngotot bahwa ia Tuhan.

Tidak ada relativisme dalam ayat ini. Kemunkaran tetap kemunkaran, kebaikan tetap kebaikan.  https://twitter.com/malakmalakmal/status/595079772880834561

Diutak-atik bagaimana pun, kemunkaran adalah kemunkaran. Tapi yang berusaha mengutak-atik ya ada juga.

Maka jangan heran kalau ada yang bilang “kemaksiatan itu tak perlu dicegah, apalagi ditumpas.” Dia gak paham apa itu maksiat.

Jangan pula heran jika ada yang bilang “Allah tak melarang kita kafir.” Dia sudah tidak paham apa itu kekafiran.

Orang dengan bisa memahami kebenaran, tapi sikapnya terhadap kebenaran sudah tidak jelas.

Dengan fasih mengucap kata-kata “kemaksiatan” & “kekafiran”, tapi tidak menyikapinya dengan tegas.

Padahal, tidak ada makna baik dari kedua istilah tersebut. Tetap saja mereka ‘berat’ menyikapinya.

Pada akhirnya muncullah ‘rasionalisasi’ yang sesungguhnya sangat tidak rasional.

Khamr adalah sumber masalah. Anehnya, hak manusia untuk ‘mencari masalah’ terus dijunjung tinggi.

Seolah kebebasan belum sempurna jika manusia masih dilarang bermaksiat. Apa yang dimaksud kebebasan itu memang bebas bermaksiat?

Kata sebagiannya lagi, “gapapa menenggak khamr asal tidak mabuk.” Ini contoh

Sebab, mencegah diri dari mabuk adalah pekerjaan akal sehat. Ketika menenggak khamr, akal sehatlah yang digerogoti.

Mabuk itu sendiri tidak terjadi tiba-tiba. Orang tidak ujug-ujug menjadi mabuk 100%. Kesadaran direnggut secara bertahap.

Jika Anda blm mabuk, bisa jadi Anda tahu batasan. Tapi setelah mulai minum, batasan itu makin lama makin buram.

Setelah Anda setengah mabuk, prinsip ‘boleh minum asal jangan sampai mabuk’ makin sulit dipertahankan.

Di Barat juga berlaku prinsip semacam itu. Apa berhasil? Nggak tuh. Khamr is still (and always be) the trouble maker.

Manusia memahami batasan, takaran, adab, kebenaran, semua dengan akalnya. Akal itulah yang dirusak khamr.

Oleh karena itu, sikap Islam terhadap khamr tidak ambigu, tidak relatif. Islam 100% menolaknya.

Menolak suatu hal yang buruk adalah konsekuensi logika. Tapi bagi mereka yang terjangkit penyakit , urusan jadi rumit.

Zina itu keji dan merusak kehidupan, menghancurkan keluarga. Tapi  malah memperjuangkan lokalisasi.

Kalau ditanya apakah melacur itu baik atau tidak, pasti dijawabnya tidak. Tapi untuk melarang, mereka segan betul.

Demikian juga soal narkoba, yang serupa dengan khamr, disikapi secara ambigu pula.

Jelas-jelas narkoba itu merusak, namun memusuhi narkoba malah setengah-setengah.

Orang dewasa dengan sadar beli narkoba, dengan uangnya sendiri, digunakan sendiri, eh maunya diperlakukan sebagai korban. Korban apa?

Katanya, orang pakai narkoba cuma merusak diri sendiri. Kata siapa? Coba tanya orang-orang terdekatnya.

Di negeri ini, yang lebih absurd pun ada. Pengedar narkoba pun dibela habis-habisan.

Ada juga yang -nya macem begini🙂  https://twitter.com/malakmalakmal/status/595089045052465152

Apakah perbandingan antara narkoba dengan makanan berkolesterol tinggi itu sudah pas? Gunakan akal!

Pertama, narkoba itu haram. Makanan berkolesterol tinggi bisa halal.

Kedua, makanan berkolesterol merusak jika berlebihan. Narkoba, sekali pake pun bisa mati.

Ketiga, orang tidak segera rusak akalnya karena makanan berkolesterol tinggi. Ia bisa batasi diri, perbanyak olahraga dll.

Kalau pakai narkoba? Saat mabuk, akalnya langsung gak berfungsi. Apa pun bisa dilakukannya.

Jelaslah bahwa Islam sangat menjunjung tinggi akal sehat. Orang-orang ber- bahkan tak paham apa itu akal.

Maka, jangan harapkan solusi dari mereka. Menyelesaikan masalah di kepalanya sendiri pun mereka tak mampu🙂

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing akal kita, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin…

=-=-=-=-=

Semoga bermanfaat😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s